Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
MARI ELKA PANGESTU

MARI ELKA PANGESTU

Puncak Penggunaan Energi Fosil pada 2030

Rangga Prakoso, Jumat, 17 Januari 2020 | 15:41 WIB

2030, Puncak Penggunaan Energi Fosil


 

JAKARTA, investor.id - Komisi Global Geopolitik Transformasi Energi Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menyebut puncak penggunaan fosil sebagai pemenuhan kebutuhan energi terjadi pada 2030. Setelah itu penggunaan fosil akan terus berkurang dan digantikan dengan energi baru terbarukan.

"2030 puncak fossil fuel dan beralih ke energi terbarukan. Ini bukan karena target negara tapi transformasi sosial, ekonomi dan politik," kata Penasehat IRENA Mari Elka Pangestu di Jakarta, Jumat (17/1).

Mari menuturkan ada sejumlah faktor yang mendorong terjadi transformasi. Pertama, lembaga pendanaan internasional tak mau lagi membiayai hal-hal yang berkaitan dengan energi fosil.

Dia mencontohkan Standard Chartered, bank internasional yang berbasis di London, Inggris, enggan membiayai proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Selain itu IKEA pun memulai mengurangi konsumsi energi batu bara dan minyak bumi. Perusahaan perabotan rumah asal Swedia itu mulai beralih ke energi baru terbarukan.

Direktur Pelaksana Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia itu menerangkan tekanan publik pun turut berpengaruh pada transformasi energi baru terbarukan. Tiongkok misalnya, menggenjot pengembangan energi terbarukan diakibatkan polusi udara yang berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.

Lebih lanjut Mari mengungkapkan adanya istilah efek Greta di dunia internasioal. Nama Greta diambil dari gadis asal Swedia yang giat menyuarakan dampak perubahan iklim.

"Di Indonesia belum (ada tekanan publik). Tapi ini tren ke depan yang harus diperhatikan," ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA