Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sonny Christian, CEO Batumbu

Sonny Christian, CEO Batumbu

SONNY CHRISTIAN JOSEPH, CEO DAN CO-FOUNDER BATUMBU

Sukses Adalah Akumulasi Kegagalan dan Keberhasilan

Aris Cahyadi, Senin, 30 September 2019 | 12:15 WIB

Tantangan atau masalah bukanlah monster menyeramkan yang harus dihindari. Sebaliknya, tantangan adalah kesempatan emas yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Hanya dengan cara itulah seseorang dapat meraih kesuksesan.

Bahkan, sukses besar yang diraih seseorang sejatinya merupakan akumulasi dari kegagalan-kegagalan dan keberhasilan-keberhasilan kecil yang berlangsung setiap saat. Dari proses itu, ia dapat belajar menaklukkan berbagai tantangan dan mengubahnya menjadi kesuksesan.

Prinsip itulah yang diterapkan Sonny Christian Joseph, bankir senior yang banting setir ke perusahaan financial technology (fintech) berbasis pinjaman dari pengguna ke pengguna (peer to peer lending/P2P).

“Salah satu ciri orang yang berhasil adalah tidak gentar menghadapi tantangan atau hambatan dalam bentuk apa pun,” kata Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder PT Berdayakan Usaha Indonesia itu, kepada wartawan Investor Daily Aris Cahyadi di Jakarta, baru-baru ini.

Sonny, yang mengawali karier di PT Bank Danamon Indonesia Tbk, percaya bahwa untuk mencapai puncak kesuksesan, seseorang harus menapaki banyak anak tangga, tidak bisa langsung duduk manis di puncak. Artinya, ia harus menjalani proses yang panjang, pernah jatuh bangun, tidak instan.

“Setiap tantangan atau hambatan adalah anak tangga yang dapat membawa seseorang untuk mendaki, menuju jenjang lebih tinggi,” ujar Sonny, yang menakhodai Berdayakan Usaha Indonesia, perusahaan P2P lending dengan platform bernama Batumbu, sejak Oktober tahun silam.

Sonny adalah salah satu contoh eksekutif karier yang belajar dan berproses dari pengalaman. Berbagai posisi pernah ditempatinya. Bahkan, selama 16 tahun bekerja di Bank Danamon, ia sempat menduduki 17 posisi yang berbeda. Alhasil, ia pernah punya atasan dengan berbagai sifat dan gaya kepemimpinan yang berbeda pula.

“Itu yang membentuk saya. Saya belajar hal-hal baik, saya juga belajar hal-hal buruk agar saya tidak melakukannya. Itu sebuah proses. Kalau diakumulasi, hal itulah yang menjadikan saya seperti sekarang. Jadi, tidak tiba-tiba saya menduduki posisi saat ini," tegas pria kelahiran Makassar, 17 Juni 1973, tersebut.

Sonny juga bukan tipe pemimpin yang gampang puas dan mudah terbuai zona nyaman (comport zone). Ia kerap tertantang untuk mencoba hal-hal baru. Itu pula yang mendorongnya mendirikan Batumbu, fintech lending yang fokus melayani usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Seperti apa perjalanan karier Sonny Christian Joseph? Apa strateginya agar Batumbu menjadi fintech lending yang mampu memberikan dampak positif bagi UMKM Indonesia? Apa lagi mimpi yang ingin diraihnya? Berikut penuturan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya mengawali karier di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Sebenarnya sebelum di Bank Danamon, saya juga sempat bekerja di beberapa perusahaan. Tapi jika bicara soal karier di perbankan, ya saya mengawalinya di Danamon.

Di Bank Danamon awalnya saya disekolahkan untuk belajar kredit korporasi. Namun, pada awal karier, saya justru ditugaskan menangani kredit usaha kecil dan menengah (UKM). Di situlah saya melihat bahwa kredit UKM berdampak luar biasa, bahkan bisa mengubah hidup seseorang. Dari seorang yang baru membuka usahanya, sampai bisa memiliki aset yang besar dan mempekerjakan banyak karyawan.

Selanjutnya saat saya di BTPN (PT Bank BTPN Tbk) juga tak kalah menariknya. Saya sempat bertemu seorang pengusaha kecil yang sudah jatuh bangun mengembangkan usahanya. Saya membantu yang bersangkutan. Itu berhasil, bisa mengubah hidupnya sehingga bisnisnya terus berkembang hingga sekarang.

Dari berbagai contoh itu saya yakin banyak sekali UKM di Indonesia yang perlu diberdayakan. Di sisi lain, bank kan punya berbagai keterbatasan. Bank juga tidak bisa menjawab 100% kebutuhan UKM. Jika tetap berkerja di bank, saya tidak bisa optimal membantu para pengusaha kecil itu.

Saya kemudian berpikir mencari cara yang lebih efisien dan lebih masif, seperti melalui fintech ini, untuk membantu lebih banyak UKM. Itu yang mendasari kenapa saya dan kawan-kawan mencoba mendirikan fintech yang fokus ke UKM. Karena itu, kami menamakannya Berdayakan Usaha Indonesia, platformnya Batumbu. Dalam Bahasa Minang berarti bertumbuh. Itu juga bagian dari doa.

Kunci Anda mencapai posisi puncak?

Sukses adalah akumulasi dari kegagalan atau kesuksesan yang kita alami tiap hari, itu sebuah proses. Setiap hari kita pasti mengalami kesuksesan kecil maupun kegagalan kecil. Kalau diakumulasi, itu yang menjadikan saya seperti hari ini. Jadi, tidak tiba-tiba saya menduduki posisi saat ini.

Saya sebenarnya agak malas belajar dalam arti menempuh pendidikan formal untuk mengambil gelar akademik. Saya mendapatkan pelajaran ini dari bos-bos saya. Saya cukup beruntung bisa menduduki berbagai macam posisi.

Contohnya selama 16 tahun bekerja di Bank Danamon, saya menduduki 17 posisi yang berbeda. Dari 17 posisi tersebut, saya mempunyai berbagai macam atasan. Itu yang membentuk saya. Saya belajar hal-hal baik, saya juga belajar hal-hal buruk agar saya tidak melakukannya. Bahkan, saat masuk BTPN, saya juga punya bos yang berbeda-beda.

Nilai-nilai yang Anda terapkan di perusahaan?

Ada tiga elemen penting dalam perusahaan. Pertama, perusahaan itu sendiri atau pemegang saham. Kedua, nasabah atau customer. Ketiga, adalah karyawan. Banyak sekali perusahaan yang menomorsatukan pemegang saham, bagaimana visi dan misi dibentuk untuk memajukan perusahaan, menambah nilai perusahaan, untuk profit, untuk revenue, untuk valuasi yang lebih tinggi, dan sebagainya. Semuanya hanya demi pemegang saham.

Namun, menurut saya, dari tiga elemen yang harus paling didahulukan adalah elemen karyawan. Sebab, kalau karyawan senang, pasti customer-nya senang. Kalau customer-nya senang, pasti profit perusahaan bertambah. Akhirnya pemegang saham juga ikut senang.

Dari awal, kami berupaya bagaimana memenuhi kebutuhan karyawan. Kebutuhan karyawan itu, pertama, mereka ingin tumbuh, mereka ingin bagaimana bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.

Setelah itu bagaimana kami memikirkan yang terbaik untuk customer. Customer kami pasti ingin tumbuh, bermimpi bisnisnya lebih besar, lebih profitable, lebih maju, lebih berkembang. Maka kami harus berupaya bagaimana agar karyawannya senang, menjadi versi terbaik dari dirinya, bagaimana customer-nya senang, bagaimana usahanya bisa maju dan berkembang. Lalu pada akhirnya perusahaan kami maju dan berkembang.

Gaya kepemimpinan Anda?

Nomor satu, yang paling penting, adalah team leadership. Yang harus dibangun pertama adalah team leadership yang kuat. Untuk itu, yang pertama harus diperhatikan adalah kalibernya. Kalibernya itu harus pas dengan bisnis yang kami kembangkan.

Kedua, harus seimbang. Bagaimana memilih team dengan kemampuan yang tidak saya punya. Jadi, seperti kaki meja, harus seimbang. Jika kita tahu kelemahan kita maka kita harus cari orang yang bisa menutupi kelemahan kita. Saya juga menutupi kelemahan dia, sehingga saling mengisi. Nah, itu yang membuat solid. Kalau team leadership solid, yang di bawah otomatis akan ikut, akan solid juga.

Pendapat Anda soal kompetisi dan regulasi fintech di Indonesia?

Pertama, mengenai kompetisi. Saya yakin sekali Indonesia ini potensinya besar sekali. Saya selalu menggambarkan bahwa ini seperti lautan yang luas. Banyak sekali kapal, tetapi kalau kita buang jaring pasti mendapat ikan. Setiap kapal juga mendapat ikan, tidak akan kekurangan karena lautnya luas sekali. Saya tidak khawatir dengan kompetitor, justru kompetitor membuat kami hidup.

Mengenai regulasi, menurut saya, fintech sedang mencari bentuk, regulator juga sedang berusaha mencari bentuk. Saya ikut dalam diskusi-diskusi yang melibatkan asosiasi sehingga bisa memberikan saran kepada regulator.

Syukurnya, suara kami sangat didengar. Mereka juga melihat bahwa kami punya background yang cukup lumayan. Bahkan, saya di asosiasi akan ditempatkan di bidang edukasi. Jadi, kami ikut memberikan masukan kepada regulator supaya mereka bisa membuat regulasi yang bagus.

Tantangan ke depan?

Technology disruption. Kita tidak pernah tahu ada teknologi baru apa lagi yang masuk, makanya harus terus belajar. Itu yang menjadi tantangan. Bukan hanya fintech, semua industri jika tidak tanggap dengan perkembangan technology disruption, bisa hancur.

Kultur perusahaan yang Anda terapkan?

Setiap perusahaan harus punya values. Values kalo diterapkan secara rutin akan menjadi habit. Habit kalau diterapkan secara rutin akan menjadi karakter. Karakter kalau diterapkan secara rutin akan menjadi culture. Kami ingin mencoba membangun seperti itu di Batumbu.

Kami coba start dari trustworthy, itu dasar dari segala sesuatu bahwa kita adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Setelah kita bisa dipercaya, kita harus resilient to challenge, harus tahan banting, harus gigih, pantang menyerah, betapa pun sulitnya.

Kemudian harus adaptive terhadap perubahan-perubahan. Apa pun perubahan yang masuk, kita harus gesit dan lincah menyesuaikan diri. Kemudian harus secara konsisten, harus bertanggung jawab, harus disiplin.

Jika hal tersebut dijadikan sebagai sebagai dasar, kemudian kita punya perilaku-perilaku tersebut, dibungkus dengan sinergi, kerja sama, saling membantu, saling mengutamanakan satu dengan yang lain, lima hal ini akan membuat kami menjadi satu tim yang solid, yang bisa menghadapi apa pun tantangan di depan.

Kami harapkan values ini diterapkan setiap hari dan kami bisa saling mengingatkan. Kebetulan tim kami diisi banyak anak muda sehingga mereka bisa saling mengingatkan. Kalau ada yang sudah mulai frustrasi terhadap suatu tantangan, mereka akan saling mengingatkan. Itu bisa menjadi habit dan karakter.

Target perusahaan Anda?

Dalam jangka pendek, saya ingin memperbanyak mitra, karena tiga-empat mitra itu tidak cukup banyak untuk membuat skalanya lebih luas. Saya harapkan akhir tahun ini kami sudah punya 8-10 mitra.

Kalau kami punya mitra sebayak itu dan setiap mitra punya ekosistem sendiri, itu kan besar sekali. Paling tidak, mitra tersebut akan men-create berapa jumlah customer. Jumlah customer ini akan menciptakan berapa volume yang akan kami capai.

Begitu juga mengenai perluasan operasional sampai pelosok. Kami mengikuti mitra kami, jika mitra kami perkebunan sawit, dan vendor mereka kebanyakan di Kalimantan, kami pasti membiayai yang ada di Kalimantan. Tidak perlu kami buka cabang karena kami punya mitra di situ. Untuk target jangka panjang, kami ingin menjadi fintech lending yang bisa memberdayakan ribuan UKM di Indonesia.

Filosofi hidup Anda?

Until you spread your wings, you'll never know how far you can fly. Maksudnya, saya adalah penyuka tantangan. Saya juga pembosan, saya tidak bisa stay di satu tepat untuk waktu yang lama. Misalnya di Bank Danamon, 16 tahun duduk di 17 posisi yang berbeda, karena saya terima semua tantangan.

Saya pernah ditugaskan di posisi yang tidak pernah saya pegang. Saya coba membereskan satu per satu, dari posisi minus akhirnya plus. Begitu plus, bos panggil saya. Saya ditugaskan ke tempat lain lagi untuk membereskan permasalahan. Itu menjadi keuntungan bagi saya hingga hari ini. Itu pengalaman yang sangat berharga.

Saua pernah ikut seminar yang berkaitan dengan kekuatan diri sendiri. Kekuatan diri saya adalah aktivator. Aktivator digambarkan sebagai orang yang tidak tahan hanya duduk dan membahas sampai detail, melainkan lebih langsung ke eksekusi.

Kekuatan kedua saya yaitu strategic. Walau activator, tetapi di kepala saya sudah ada strategi yang harus ditempuh. Sedangkan yang ketiga adalah command.

Ini kali ketiga saya membangun bisnis dari nol. Jadi, setelah dari Bank Danamon, saya pindah ke Bank DBS untuk membangun bisnis dari nol juga. Tadinya kan mereka corporate banking, saya membangun bisnis UKM di sana. Begitu pula di BTPN, saya membangun bisnis dari nol lagi. Tantangannya berbeda-beda.

Berarti setiap orang harus mencoba hal-hal baru?

Kembali ke masing-masing pribadi, karena setiap orang berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap orang harus tahu kekuatannya masing-masing, karena secara natural kita pasti berbeda-beda.

Obsesi pribadi Anda yang belum tercapai?

Saya mengalir saja. Kalau bisa pensiun cepat, saya ingin pensiun cepat.
 

Mimpi Anda untuk Batumbu?

Saya ingin membawa Batumbu, dengan semua kekuatannya, menjadi salah satu fintech lending yang memberikan dampak positif di Indonesia. Fintech ini kan tidak banyak, bahkan yang khusus bergerak di bidang pembiayaan produktif lebih tidak banyak lagi. Ini kesempatan yang sangat besar bagi kami untuk memberikan dampak positif.***

 

Biodata

  • Nama lengkap: Sonny Christian Joseph.  
  • Tempat/tanggal lahir:   Makassar, 17 Juni 1973.


Karier: 

  • Oktober 2018-sekarang: CEO & Co-founder PT Berdayakan Usaha Indonesia.
  • Januari 2012-Oktober 2018:  Head of Business Banking-Senior Executive Vice President PT Bank BTPN Tbk.
  • Juni 2010-Januari  2012:  Senior Vice President, Asset Head, Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia.
  • November 1996-Juni 2010:  Senior Vice President, SME Risk Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Pendidikan:

  • Sarjana  Ekonomi,  Universitas Hasanuddin, Makassar (1996).

Lain-lain:

  • Leadership Gallup Consulting (2017).
  • Leadership CCL, Singapore (2015). 
  • Risk Management Certification Level 4.
  • Badan Sertifikasi Manajemen Resiko and GARP (Global Association of Risk Professionals) Jakarta (2013). 

 

Baca juga:

Bermimpi Keliling DuniaBermimpi Keliling Dunia

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA