Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menghitung rupiah di sebuah bank pemerintah di Jakarta, baru-baru ini.   Foto: Investor Daily/DAVID

Teller menghitung rupiah di sebuah bank pemerintah di Jakarta, baru-baru ini. Foto: Investor Daily/DAVID

2020, Kredit Perbankan Kontraksi 2,7%

Jumat, 22 Januari 2021 | 14:59 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Total penyaluran kredit perbankan pada Desember 2020 tercatat Rp 5.482,5 triliun atau mengalami kontraksi hingga 2,7% dibanding periode sama tahun lalu. Sebaliknya, pada saat bersamaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh hingga 11,3% (yoy) menjadi Rp 6.459,3 triliun.

“Penurunan kredit perbankan itu disebabkan oleh penurunan kredit kepada debitur korporasi dan perlambatan penyaluran kredit perorangan,” ujar Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam siaran pers pada Jumat (22/1).

Ia menyebutkan penyaluran kredit kepada debitur korporasi mengalami kontraksi hingga 5,1% (yoy) pada Desember 2020. “Sedangkan penyaluran kredit perorangan mengalami perlambatan menjadi hanya tumbuh 0,5% (yoy),” ungkap Erwin.

BI juga melaporkan, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2020 tercatat sebesar Rp 6.900,0 triliun atau meningkat 12,4% secara year on year (yoy). Peningkatan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 12,2% (yoy).

“Ini didorong oleh komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) yang tumbuh sebesar 18,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 15,8% (yoy). Ini sejalan dengan peningkatan peredaran uang kartal di masyarakat dan giro rupiah,” ujar Erwin.

Sementara itu, lanjut Erwin, komponen uang kuasi melambat, dari 11,1% (yoy) menjadi 10,5% (yoy) pada Desember 2020. Pertumbuhan surat berharga selain saham juga terkontraksi lebih dalam menjadi -10,6% (yoy) dari -5,8% (yoy) pada November 2020.

Erwin menjelaskan, berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada Desember 2020 disebabkan oleh aktiva luar negeri bersih dan kenaikan ekspansi keuangan pemerintah. Hal ini tercermin dari pertumbuhan aktiva luar negeri bersih Desember 2020 sebesar 13,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan November 2020 sebesar 10,3% (yoy).

“Tagihan bersih kepada pemerintah pusat juga meningkat, dari 66,5% (yoy) menjadi 66,9% (yoy) pada Desember 2020,” ucap Erwin.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN