Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Kekuatan Modal Menjadi Game Changer Bank Syariah

Jumat, 9 April 2021 | 22:13 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kekuatan modal merupakan penentu (game changer) bagi industri perbankan syariah di Indonesia. Berbagai langkah perbaikan membutuhkan dukungan modal.

Dengan permodalan yang kuat, bank syariah dapat merekrut SDM berkualitas dan mengembangkan teknologi digital untuk menjangkau nasabah yang luas, baik nasabah penyimpan maupun nasabah peminjam.

Dengan customer based yang besar, bank syariah mampu bertumbuh lebih cepat. Dengan penerapan tata kelola yang baik, bank syariah bisa bersaing dengan bank konvensional dan go international. Setelah merger, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memiliki kemampuan untuk berkembang lebih cepat, menjadi outlet perbankan yang memberikan pelayanan kepada semua segmen.

Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, aset BSI per Desember 2020 mencapaiRp 239,56 triliun. Sedangkan DPK emiten yang mengambil kode saham BRIS ini menembus Rp 209,98 triliun, dan pembiayaan tersalurkan mencapai Rp 156,51 triliun. Merger 3 bank BUMN syariah menjadi BSI membuat perseroan memiliki permodalan (ekuitas) yang kuat, mencapai Rp 21,74 triliun.

Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo. Foto: IST
Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo. Foto: IST

Laba bersih mencapai Rp 2,19 triliun. Proses merger BSI ini diikuti animo masyarakat yang tinggi, terbukti harga saham BRIS terus meningkat. Harga saham BRIS saat IPO 9 Mei 2019 sekitar Rp 510, namun hingga Maret 2021 sudah mencapai Rp 2.680. Bila market cap BRIS saat IPO hanya Rp 4,96 triliun, setelah penggabungan market cap BRIS mencapai Rp 109,96 triliun per Maret 2021.

Dia menuturkan, dalam waktu singkat, BSI dipresentasikan OJK menjadi kategori bank berdampak sistemik di Tanah Air, di posisi ketujuh dengan pangsa pasar (market share) sebesar 2,6%. Ke depan, pihaknya menargetkan untuk masuk ke dalam sepuluh sampai lima bank syariah global dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Kinerja perbankan syariah
Kinerja perbankan syariah

“Pada tahun 2025 kami proyeksikan US$ 7-8 miliar untuk masuk ke10 besar dunia. Untuk market share di perbankan nasional, kami sekarang di peringkat ketujuh. Kami sudah masuk BUKU III, sedangkan untuk masuk BUKU IV harus ada penambahan modal,” kata Banjaran dalam acara Zooming with Primus bertajuk Prospek Industri Perbankan Syariah Indonesia yang disiarkan langsung BeritaSatu TV, Kamis (8/4/2021).

Perlu Kekhasan

Pengamat ekonomi syariah yang juga dosen di Universitas Padjadjaran Bandung Dian Masyita mengatakan, agar bisnis bank syariah bisa terus melesat dan menjadi pilihan banyak masyarakat, perlu ada kekhasan yang harus terus dipertahankan, sehingga tidak menjadi bank syariah dengan rasa konvensional.  Beberapa prinsip bank syariah antara lain harus terhindar dari riba atau bunga, gharar atau ketidakjelasan dana, maupun maysir atau perjudian. Dian menyampaikan, banyak pelajaran bisa diambil dari pengelolaan bank syariah sebelumnya di Tanah Air.

“Banyak lesson learn yang bisa kita pelajari dari pengelolaan bank syariah sebelumnya, bahwa mindset bisnis memang harus dipertimbangkan, tetapi juga nature dari bank syariah itu harus memiliki kekhasan. Kekhasan itulah yang membuat orang memilih bank syariah,” kata Dian dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Prospek Industri Perbankan Syariah Indonesia” yang disiarkan langsung BeritaSatu TV, Kamis (8/4/2021).

Pengamat ekonomi syariah yang juga dosen di Universitas Padjadjaran Bandung Dian Masyita. Foto IST
Pengamat ekonomi syariah yang juga dosen di Universitas Padjadjaran Bandung Dian Masyita. Foto IST

Selain harus terhindar dari riba, gharar, dan maysir yang menjadi kekhasan bank syariah, Dian mengatakan, akad transaksi bank syariah juga perlu menerapkan sistem profit- loss sharing. Kedua pihak harus memahami sistem ini dengan baik.

“Untuk menerapkan profit-loss sharing, kedua belah pihak, baik bank maupun nasabahnya harus paham. Selain itu pengusaha penerima pembiayaan juga harus paham. Jadi, nasabahnya mengerti kalau usaha itu turun-naik, dan rela atau ikhlas bisa untung lebih besar dari suku bunga yang ada di bank lainnya, atau bisa juga turun suatu saat, karena di bisnis yang menggerakkan uang mereka juga ada dinamikanya. Nah, bank sebagai intermediary harus bisa menjembatani dengan sistem yang baik. Jadi, pembedanya harus jelas, sehingga masyarakat punya alasan yang kuat untuk pindah ke bank syariah karena akad-akadnya clear,” ungkap Dian.

Prof Dian Masyita, Pengamat Ekonomi Syariah, Dosen Universitas Padjajaran Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV
Prof Dian Masyita, Pengamat Ekonomi Syariah, Dosen Universitas Padjajaran Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Hal selanjutnya terkait nilai keberkahan rezeki yang jugaharus ditanamkan. Pasalnya, niat orang ke perbankan syariah karena ada keberkahan rezeki.

“Jadi, harus paham bagaimana keberkahan itu, paham konsep terhadap uang dan rezeki, itu harus ditanamkan kepada ketiga pihak ini, baik nasabah, orang yang bekerja di perbankan, maupun penerima pembiayaan,” kata Dian.

Roadmap pengembangan perbankan syariah
Roadmap pengembangan perbankan syariah

Dia mengatakan kini sudah ada peta jalan (roadmap) terbaru bagi pengembangan perbankan syariah yang bisa dijadikan acuan, serta ada kehadiran bank syariah besar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Tantangan yang masih mengganjal bagi perbankan syariah, lanjut dia, adalah ekosistem syariah yang kondusif. Dalam hal ini, banyak pihak harus melakukan kerja sama.

“Karena itu, penguasaan pasar perlu ditinjau secara menyeluruh. Di satu sisi, sektor ini harus bekerja baik agar NPL (non-performing loan) terjaga.

Di sisi lain, pihak yang mendapatkan pendanaan juga harus memiliki pemahaman yang sama. Jadi, penguasaan pasar tidak bisa dilihat dari sisi perbankan saja, tapi juga dari sisi demand-nya,” imbuh dia.

Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Oleh karena itu, lanjut Dian, tingkat literasi perlu terus digenjot agar kekhasan dari perbankan syariah juga bisa tampak jelas di mata masyarakat. Sebab, kekhasan itu yang bisa menjadi alasan masyarakat memilih menggunakan layanan bank syariah dibandingkan bank konvensional.

Dulu, kata dia, literasi terkait syariah tidak begitu kuat di tataran operasional karena banyak ditemui masalah. Misalnya modal bank syariah yang masih relatif kecil, jadi skala ekonominya pun rendah. Apalagi, biaya untuk literasi masyarakat kerap dinilai mahal ketika itu.

“Akhirnya, orang pun mencari kemudahan saja untuk menggunakan jasa perbankan konvensional. Skala perbankan konvensional itu luar biasa besar yang membuat struktur biayanya baik,” paparnya.

Pendekatan Digitalisasi Perbankan

Banjaran dalam kesempatan yang sama juga membantah anggapan yang menyebutkan kalau pembiayaan syariah lebih mahal, dari pembiayaan di bank konvensional. Banjaran menegaskan pembiayaan yang ditawarkan emiten yang memakai kode saham BRIS ini juga menarik dan atraktif, baik untuk segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), retail, maupun wholesales.

“Ada persepsi di masyarakat bahwa syariah itu mahal. Ini persepsi yang perlu diluruskan kembali. Di BSI, sekarang secara cost of fund kami itu fair dengan salah satu bank nasional dengan cost of fund yang juga rendah. Jadi, kami mampu menawarkan pembiayaan yang lebih menarik dan atraktif,” kata Banjaran dalam acara yang sama.

Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV
Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Beberapa strategi yang disusun BSI untuk melayani segmen UMKM, antara lain, menumbuhkan segmen UMKM dalam ekosistem dan value chain yang terintegrasi. Selain itu, melayani segmen retail dengan layanan khas syariah, serta mengembangkan segmen wholesales de ngan produk inovatif termasuk pengembangan bisnis global.

“Sekarang ini yang sedang kami push lagi terutama dalam menyambut insentif-insentif yang diberikan pemerintah dari sisi pajak, misalnya di pembiayaan perumahan dan otomotif. Kami mampu menawarkan rate yang bisa dibilang sangat kompetitif untuk nasional sekali pun,” kata Banjaran. Untuk sektor ritel, lanjut dia, BSI menghadirkan layanan khas syariah dan menjadi one stop syariah solution bagi nasabah. Hal ini dengan pendekatandigitalisasi perbankan melalui BSI mobile.

“Jadi di sini kami berharap akses bank syariah bisa luas dengan adanya BSI. Dengan jaringan yang lebih luas, di mana kami memiliki sekitar 1.300 outlet dengan sumber daya manusia (SDM) mencapai 20.000 karyawan, kami dengan pendekatan teknologi digital dan produk yang beragam ingin menjadi teman dan sahabat masyarakat yang ingin berekonomi syariah, atau berkeuangan syariah,” kata Banjaran.

Perkuat Modal

Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah sepakat bahwa keunikan yang dimiliki perbankan syariah perlu ditonjolkan kepada masyarakat. Hal ini bisa diakselerasi melalui pemanfaatan teknologi, termasuk dalam rangka memperkenalkan berbagai jenis akad.

Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah
Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah

Namun demikian, kata dia, pendekatan teknologi juga perlu modal yang memadai. Untuk meningkatkan teknologi dan bisnis, lanjut dia, bank syariah perlu meningkatkan modalnya.

“Kami sudah belajar dari berbagai roadmap dan blueprint, termasuk kehadiran BSI, ternyata size does matter. Itu kemudian, kami mendorong ditingkatkannya permodalan. Karena tadi, kalau kita mempunyai bank yang kuat, ada banyak hal yang bisa dicapai,” beber Deden.

Dia menjelaskan, peningkatan modal bank syariah akan menjadi game changer tersendiri. Bank syariah dengan modal besar memungkinkan untuk menawarkan produk dengan pelayanan prima. Kemudian, tinggal perbankan syariah menggarap sisi permintaan (demand) yang besar, dengan turut melakukan edukasi dan sosialisasi bersama ekosistem ekonomi syariah lainnya.

Proyeksi kapitalisasi pasar bank syariah
Proyeksi kapitalisasi pasar bank syariah

“Sinergi ekosistem ekonomi syariah yang besar ini menjadi kunci, karena masih banyak ekosistem yang belum sepenuhnya menggunakan dan terlayani perbankan syariah. Mari kita perbaiki layanan prima kita. Untuk mendukung semua ini, kami regulator juga perlu memperbaiki karena perizinan kami harus efisien, regulasi adaptif dan kredibel, serta pengawasan efektif,” ucap Deden.

Go International

Deden mengemukakan, setelah upaya memperdalam pasar domestik dirasa mumpuni, perbankan syariah di Indonesia sudah seharusnya tampil di pasar global. Dengan terus meningkatkan kualitasnya, BSI patut tampil di pasar global.

“Optimisme bank syariah besar, dan sudah seharusnya besar. Sebagian besar penduduk kita itu adalah generasi muda dan produktif. Di 2030, itu 70% penduduk di usia produktif. Lalu, begitu besarnya industri halal, yang mencapai Rp 3.000 triliun. Kemudian, dunia internasional mengakui keberadaan ekonomi keuangan syariah kita,” ujar Deden.

Deden Firman Hendarsyah, Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV
Deden Firman Hendarsyah, Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Industri Perbankan Syariah live di Beritasatu TV, Kamis (8/4/2021). Sumber: BSTV

Dia memaparkan, banyak tantangan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi pusat ekonomi halal dunia, termasuk dalam hal perbankan syariah nasional hadir di dunia internasional. OJK pun telah menyusun Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia (RP2SI) 2020-2025. Melalui peta jalan itu OJK berharap bisa mendorong perbankan syariah di Indonesia menjadi lebih tangguh dan berdaya saing tinggi.

Selain itu, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian dan pembangunan sosial nasional.

Jajaki Ekspansi ke Timteng

Banjaran mengatakan lebih lanjut, BSI sedang menjajaki potensi ekspansi ke wilayah Timur Tengah. Hal itu merupakan langkah strategis perseroan menarik arus modal masuk ke dalam negeri.

Ia menerangkan pula, perseroan diproyeksi masuk 10 bank syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global tahun 2025. Saat itu, kapitalisasi pasar BSI diperkirakan mencapai US$ 7-8 miliar.

Dia menuturkan, sejumlah langkah strategis tengah dilakukan. Pertama, menyelesaikan proses penggabungan operasional usaha.

Total aset perbankan syariah
Total aset perbankan syariah

Selanjutnya, mengeksplorasi untuk ekspansi ke luar negeri sesuai dengan yang tercantum dalam rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan ke pihak otoritas. Langkah ekspansi BSI itu merupakan bagian dari upaya membuka jalan guna menggarap potensi bisnis yang lebih luas.

“Di Timur Tengah misalnya, belum ada bank nasional kita yang menjadi semacam perwakilan Indonesia di sana. Ini sebagai bagian dari komitmen kami untuk terus berusaha mencari jalan untuk membuka ruang, sehingga kami dapat memfasi litasi tidak hanya trade finance, tapi juga arus modal masuk,” kata dia.

Banjaran bersyukur sampai saat ini progress penjajakan berjalan dengan baik. Namun demikian, pihaknya berharap dukungan dari pihak otoritas terkait aspek regulasi, baik itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bank Indonesia (BI).

“Karena kalau sudah bicara ekspansi maka terkait regulator ke regulator. Kami sangat minta tolong ke regulator, karena ini menjadi proyek strategis nasional dan ke depannya kita mau terus maju, serta menjawab ekspektasi yang ada di masyarakat dan pemerintah sendiri,” ungkap dia. (pd/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN