Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

AAJI: Premi Unit Link Tumbuh Double Digit di Kuartal I-2021

Sabtu, 22 Mei 2021 | 05:19 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membeberkan bahwa kinerja premi asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link mulai moncer di awal tahun ini. Hingga kuartal I-2021 premi unit link disebut tumbuh double digit.

"Untuk pendapatan premi, khususnya karena 70-80% pendapatan premi asuransi jiwa itu dari unit link dan kini sedang dalam sorotan, tapi disamping itu semua, angka pendapatan premi unit link di kuartal I-2021 dibandingkan kuartal I-2020 tumbuh signifikan, double digit," beber Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon pada dialog virtual berjudul Menakar Prospek Industri Asuransi di Tengah Pandemi Covid-19, Jumat (21/5).

Budi mengatakan, pihaknya belum bisa merinci tren positif itu karena penjelasan lebih lanjut bakal dipaparkan pada sesi khusus yang akan digelar AAJI beberapa waktu kedepan. Namun demikian, pihaknya berharap pertumbuhan premi unit link bisa berlanjut sampai akhir tahun ini.

Dia menjelaskan, sebelumnya pendapatan premi asuransi jiwa di tahun 2020 adalah sekitar Rp 187,59 triliun atau turun 2,2% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp 191,80 triliun. Penurunan premi utamanya datang dari perolehan premi baru yang melambat 2,9% (yoy) menjadi Rp 114,75 triliun. Sedangkan premi lanjutan turun 1,1% (yoy) menjadi Rp 72,84 triliun.

"Memang premi tahun 2020 menurun. Industri asuransi jiwa sudah seharusnya menemukan langkah alternatif untuk memasarkan atau mendistribusikan produk asuransi jiwa. Selama ini banyak dilakukan secara tatap muka lewat kanal agency dan bancassurance. Kedua kanal itu perlu diakui belum bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia, terutama yang berada di kota-kota kecil, sehingga harus dipikirkan cara lain. Salah satu alasan dari banyak alasan pendapatan premi turun di tahun lalu adalah cara pemasaran masih harus tatap muka. Karena ketika terjadi pembatasan tatap muka, membatasi penjualan produk asuransi," jelas dia.

Budi pun mengungkapkan, perolehan premi tersebut ikut mempengaruhi kinerja total pendapatan asuransi jiwa yang turun menjadi Rp 215,42 triliun atau merosot 8,7% (yoy) di 2020.

"Penurunan total pendapatan asuransi jiwa tahun 2020 juga banyak datang dari lini pendapatan investasi," imbuh dia.

Di samping itu, total aset industri asuransi jiwa sampai tahun 2020 mencapai Rp 570 triliun atau naik 0,7% (yoy), dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) lima tahun terakhir naik 8,7%. Sebesar Rp 504,80 triliun diantaranya merupakan aset investasi, namun tercatat anjlok 1,2% (yoy) di 2020. Tapi secara CAGR pada periode lima tahun terakhir aset investasi tumbuh 9% per tahun.

Budi memaparkan, industri asuransi menempatkan lebih dari 60% investasinya atau senilai Rp 313,2 triliun pada pasar modal lewat instrumen saham dan reksadana. Tidak banyak perusahaan asuransi jiwa melakukan transaksi harian pada aset reksa dana dan saham untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.

"Asuransi jiwa maupun industri seperti dana pensiun itu menghimpun dana jangka panjang. Kalau premi masuk, umumnya memiliki kontrak jangka panjang. Jadi sekali masuk ke industri asuransi jiwa, umumnya dana akan diinvestasikan untuk jangka panjang. Hal itu juga yang kita percaya akan bagus untuk stabilitas ekonomi dan bursa di Indonesia," ungkap dia.

Tantangan dan Peluang
Budi mengemukakan, produk asuransi yang dibalut investasi seperti unit link diakui menjadi produk andalan dari perusahaan asuransi. Selian menemui keterbatasan dalam rangka pemasaran, penjualan unit link tahun lalu sempat melambat karena pandangan nasabah terhadap kontraksi yang terjadi pada pasar modal.

Kemudian, kata dia, produk unit link yang menjadi andalan asuransi jiwa itu masih membutuhkan tanda tangan basah dari nasabah. Dengan begitu, pergeseran penjualan ke ranah digital akan lebih sulit. Namun hal itu sudah asosiasi diskusikan dengan pihak OJK.

"Industri berharap kemudahan terus digulirkan, mengingat produk unit link masih diminati sehingga industri dapat dukungan lebih agar misi untuk memasyarakatkan asuransi jiwa dan mengasuransi jiwakan masyarakat semakin tercapai," ujar Budi.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan memberikan special remarks saat acara Investor Awards Best Bank 2018 di Jakarta, Jumat (29/6). Foto: UTHAN A.RACHIM
Fauzi Ichsan  Foto: UTHAN A.RACHIM

Pada kesempatan sama, Komisaris Utama Indonesia Financial Group (IFG) Fauzi Ichsan menyampaikan, salah satu tantangan memasarkan unit link adalah edukasi agar nasabah mamandang prioritas produk dari fungsi proteksi. Nasabah juga harus paham mengenai risiko investasi dari unit link karena biasanya penempatan dana banyak dilakukan pada instrumen saham dan reksa dana yang cenderung fluktuatif. Pihaknya percaya unit link memiliki prospek baik di masa mendatang.

"Selama pendapatan masyarakat masih pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan intinya maka asuransi bukan suatu kebutuhan di benak mereka. Kalau pendapatan per kapita naik, maka mereka akan tergerak untuk investasi, dan berpikir untuk membeli produk asuransi akan lebih kuat. Disinilah banyak masyarakat yang tertarik membeli produk asuransi unit link. Karena kalau asuransi dijual stand alone product, mungkin tidak selaku produk yang dikombinasikan dengan reksa dana seperti di unit link," kata dia.

Fauzy menambahkan, industri asuransi memang terpuruk atau terpukul di tahun 2020 karena pandemi. Tapi ditemukannya vaksin di akhir 2020 membuat pemulihan terjadi di tahun 2021. Pemulihan ekonomi lewat stimulus fiskal dan moneter yang tadinya tumpul karena adanya lockdown dan PSBB, tapi kini terlihat efektif dengan adanya program vaksinasi yang mendorong masyarakat mulai beraktifitas kembali. Pada akhirnya, new normal atau era normal baru bagi industri asuransi akan terjadi di kuartal I-2022 mendatang.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN