Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ahmad Siddik Badruddin, Wakil Ketua Perbanas, dalam Talkshow Financial Innovation bertema Kunci Sukses Membangun Bank Masa Depan, live di BeritasatuTV, Selasa (24/8/2021). Sumber: BSTV

Ahmad Siddik Badruddin, Wakil Ketua Perbanas, dalam Talkshow Financial Innovation bertema Kunci Sukses Membangun Bank Masa Depan, live di BeritasatuTV, Selasa (24/8/2021). Sumber: BSTV

Kehadiran Bank Digital Dinilai akan Mempercepat Inklusi Keuangan

Selasa, 24 Agustus 2021 | 14:57 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id– Perkembangan bank digital dan bank konvensional yang memberikan layanan digital dinilai akan mendorong percepatan inklusi keuangan pasalnya saat ini tercatat baru 42 juta masyarakat Indonesia yang mendapatkan akses perbankan, sehingga masih ada sekitar 139 juta penduduk yang kategorinya unbanked atau underbanked yang belum terlayani oleh sistem perbankan.

Pandangan ini dikemukakan oleh Wakil Ketua Perbanas, Ahmad Siddik Badruddin pada acara Financial Innovation dengan tema “Kunci Sukses Membangun Bank Masa Depan” yang ditayangkan live di Berita Satu News Channel, Selasa (24/8/2021).

“Hal ini sejalan dengan POJK Nomor 12 yang mensyaratkan bahwa bank digital itu harus memberikan upaya kontributif terhadap upaya inklusi finansial,” papar Ahmad Siddik yang juga menjabat sebagai Direktur PT Bank Mandiri Tbk.

Sementara pada lain sisi, bagi industri perbankan fakta tadi menunjukan peluang yang besar bagi bisnis perbankan dimana per tahun 2020 lalu transaksi digital volumenya sudah mencapai Rp 27 ribu triliun dan diharapkan akan meningkat sebesar 19% menjadi Rp 32 ribu triliun di 2021.

“Karena itu kedepannya kami melihat usaha-usaha perbankan untuk memberikan layanan yang lebih luas lagi melalui bank digital akan terus meningkat,” paparnya.

Kendati begitu ada sejumlah tantangan yang menjadi perhatian industri perbankan dalam memandang fenomena bank digital ini dimasa datang.

Diantaranya bagaimana bank digital yang hadir bisa sustainable dalam menghadapi tantangan kedepannya. Berdasarkan sebuah riset, terdapat 249 bank digital diseluruh dunia. “Dari jumlah itu hanya 13 yang profitable,” ujarnya.

Sebagai contoh di Korea Selatan dari 13 bank hanya 1 bank yang profitable yaitu Kakao Bank lalu di Tiongkok ada 16 bank yang digital dan hanya ada 4 yang profitable salah satunya WeBank.

Berdasarkan riset tersebut untuk menjaga keberlangsungan, kedepannya Ahmad Siddik menyebut  dua faktor besar yang harus disiapkan industr perbankan: Pertama adalah aspek fundamental  dari dukungan IT Infrastructure yang handal dan juga risk management infrastructure dan process yang baik. Kedua adalah, dari bank digital yang sukses, mereka memiliki dukungan dari kolaborasi system yang luas, tidak hanya produk banknya saja tetapi mencakup semua ekosistem dari kebutuhan dari nasabah tersebut.

Selanjutnya bagaimana supaya bank tersebut sustainable bisa menangani kenaikan pesat dari  volume transaksi yang akan datang dari digital banking, sekaligus mampu memitigasi potensi dari kejahatan cyber crime dan potensi penyalahgunaan data nasabah.

Kita harap pada akhirnya industry perbankan kita bisa menggarap 139 juta potensi tadi, nasabah pun bisa dengan nyaman bertransaksi karena semua risikonya bisa dijaga karena didukung oleh IT dan risk management yang handal sehingga digital banking itu bisa berkotribusi positif bagi perkembangan ekonmi di Indonesia,” pungkasnya.   

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com