Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua OJK Wimboh Santoso. Sumber: BSTV

Ketua OJK Wimboh Santoso. Sumber: BSTV

OJK: Perbankan Masih Kuat Hadapi Skenario Terburuk Kredit Macet

Jumat, 17 September 2021 | 13:42 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso memastikan perbankan nasional masih kuat menghadapi skenario terburuk, termasuk jika kredit yang direstrukturisasinya menjadi kredit macet.

“Apabila dalam skenario terburuk kredit yang direstrukturisasi perbankan menjadi kredit macet, perbankan nasional masih cukup kuat untuk menahannya karena memiliki modal yang besar,” tegas Wimboh Santoso dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Kamis (16/9) malam.

Acara itu juga dihadiri para petinggi OJK secara virtual, di antaranya Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi, serta anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Menurut Wimboh Santoso, industri perbankan secara gradual telah membentuk pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit di tengah pandemi Covid-19. Dengan demikian, perbankan masih tangguh andai dihadapkan pada skenario terburuk, salah satunya jika kredit yang direstrukturisasi menjadi kredit macet.

Wimboh mengungkapkan, hingga Juli 2021 total kredit yang direstrukturisasi perbankan mencapai Rp 778,91 triliun. Relaksasi diberikan kepada 5,01 juta debitur yang terdampak pandemi Covid-19. Rinciannya, restrukturisasi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Rp 285,17 triliun diberikan kepada 3,59 juta debitur dan restrukturisasi kredit non-UMKM Rp 493,74 triliun bagi 1,43 juta debitur.

Per Juli 2021, kata Wimboh, restrukturisasi kredit UMKM mencapai 36,61% dari total kredit yang direstrukturisasi. Angka itu turun dibandingkan Juni 2021 yang porsinya sekitar 36,69%. Sedangkan kredit non-UMKM memiliki porsi 63,39% per Juli 2021, naik dibandingkan bulan sebelumnya 63,31%.

"Dari total kredit, ini ada 15% (yang direstrukturisasi), tadinya 18-19%. Yang 15% itu tidak semua akan default. Toh, kalau semua jadi NPL worst case-nya, modal masih bisa absorb. Ini blessing, modal kita lebih kuat dibanding negara lain," papar dia.

Wimboh Santoso menjelaskan, sampai Juli 2021, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan berada di level 24,67%, meningkat dari posisi Juli 2020 di level 22,96%. Dari sisi risiko kredit, kredit bermasalah (non performing loans/NPL) gross per Juli 2021 mencapai 3,35%, naik dari Juli 2020 di posisi 3,22%.

Dia menambahkan, CAR perbankan nasional yang di atas 24% lebih tinggi dari CAR perbankan di negara-negara lain. “CAR perbankan kita tinggi  karena menerapkan countercyclical. Kami minta bank membentuk capital sehingga punya modal kuat. Jadi, jika worst case total jadi NPL, bank kita masih kuat," ujar dia.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN