Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan/Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sumber: BSTV

Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan/Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sumber: BSTV

Tenang..! Bank Punya Cadangan Kerugian Rp 339 Triliun

Jumat, 17 September 2021 | 14:42 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Perbankan nasional cukup tangguh untuk menghadapi berbagai risiko, termasuk risiko kredit macet. Itu karena bank-bank punya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang mumpuni, jumlahnya mencapai Rp 339 triliun per Juli 2021, meningkat dibanding posisi Desember 2020 sekitar Rp 304 triliun.

“Dalam skenario terburuk, apabila kredit berisiko (loan at risk/LAR) menjadi NPL, perbankan bisa menahan dari pencadangan yang disiapkan,” tegas Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana saat mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Kamis (16/9) malam.

Acara itu juga dihadiri para petinggi OJK lainnya secara virtual, di antaranya Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi, serta anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Menurut Heru Kristiyana, OJK telah meminta perbankan membentuk CKPN secara bertahap guna mengantisipasi kenaikan LAR selama pandemi Covid-19, di tengah kebijakan restrukturisasi kredit.

"CKPN Desember 2020 sekitar Rp 304 triliun, posisi Juli 2021 sudah Rp 339 triliun. Target kami, termasuk target perbankan di rencana bisnis bank (RBB) menjadi Rp 351 triliun,” tutur dia.

Heru menambahkan, CKPN yang tebal diperlukan sebagai bantalan bagi perbankan dalam menghadapi berbagai risiko, khususnya risiko kredit macet. “Misalnya worst case restrukturisasi banyak yang tidak berhasil, bank sudah siap," tandas  dia.

Skenario Terburuk

Dengan demikian, menurut Heru Kristiyana, perbankan nasional sudah siap menghadapi dampak pandemi hingga skenario terburuk. Apalagi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan nasional kini berada di atas  24%. "CAR 24% ini bantalan kuat untuk menghadapi worst case scenario. Kita kan belum bisa pastikan kapan pandemi berakhir," tutur dia.

Dia menjelaskan, OJK juga telah memperpanjang stimulus restrukturisasi kredit dari Peraturan OJK (POJK) 48/2020 yang berakhir Maret 2022 menjadi Maret 2023 menyusul diterbitkannya POJK Nomor 17/POJK.03/2021 tentang Perubahan Kedua atas POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19.

Kecuali itu, OJK menerbitkan POJK 18 POJK.03/2021 tentang Perubahan Kedua atas POJK Nomor 34/POJK.03/2020 tentang Kebijakan bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah sebagai Dampak Penyebaran Covid-19.

"Kami ingin meyakinkan stimulus itu balance sektor riil dan industri perbankan. Kami terus evaluasi perbankan untuk menyikapi pandemi ini agar mereka bisa menyiapkan diri dengan membentuk pencadangan pada situasi paling buruk sekalipun," ujar Heru.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN