Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lanny Budiati, Direktur Utama  BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)

Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)

Bank Besar Agresif Berburu Bank Kecil

Senin, 27 September 2021 | 08:06 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Aksi akuisisi terhadap bank-bank kecil akan marak terjadi, sebagai bagian dari transformasi dan digitalisasi, sekaligus untuk mengejar ketentuan batas minimum modal inti Rp 3 triliun pada akhir 2022. Banyak bank kecil yang menjadi primadona dan tengah dipinang oleh bank besar maupun para investor strategis dari dalam dan luar negeri.

Langkah kondolidasi dan akuisisi tersebut sekaligus ditempuh untuk memperluas ekosistem bisnis baru. Sebagian juga diakuisisi untuk dijadikan bank digital oleh bank besar, sebagai kelompok usaha bank (KUB). Sebelum bank-bank mampu memenuhi modal inti Rp 3 triliun pada akhir 2022, tren konsolidasi masih bakal menjamur di Indonesia.

Saat ini terdapat 107 bank di Indonesia, dengan rincian 71 bank masuk kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 2 dengan modal inti Rp 1 triliun hingga kurang dari Rp 5 triliun), 28 BUKU 3 (Rp 5 triliun hingga kurang dari Rp 30 triliun), serta delapan BUKU 4 (Rp 30 triliun ke atas). Saat ini sudah tidak ada bank kategori BUKU 1 dengan modal inti kurang dari Rp 1 triliun, karena batas akhir bahwa bank boleh bermodal kurang dari Rp 1 triliun adalah 31 Desember 2020. Kemudian akhir tahun ini, bank harus memiliki modal inti Rp 2 triliun dan tahun 2022 minimal Rp 3 triliun.

Sementara itu terdapat puluhan dengan modal kurang dari Rp 3 triliun, bahkan ada yang di bawah Rp 2 triliun. Untuk bank yang belum tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), mereka mencari investor strategis. Sedangkan bank-bank bermodal cekak menempuh rights issue untuk menambah modal. Karena itulah, tahun ini bank-bank agresif menggelar rights issue.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo mengungkapkan bahwa program konsolidasi untuk mendorong penguatan modal perbankan dilakukan dengan berbagai macam cara. "Ada yang diinjeksi modal sendiri, ada yang kolaborasi mencari strategic investor untuk meningkatkan modal dan daya saingnya. Terutama pengembangan produk yang berbasis digital karena tren pengembangan arahnya ke sana," ungkap Edy kepada Investor Daily, Sabtu (25/9/2021).
Menurut Edy, konsolidasi dan transformasi digitalisasi tersebut harus mampu meningkatkan kapasitas bisnis bank dengan inovasi produk baru yang berbasis teknologi. Selain itu, bank juga membangun ekosistem bisnis baru yang mendorong pertumbuhan kredit, khususnya kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, dibutuhkan inovasi produk dan layanan perbankan berbasis teknologi, sehingga sinergi dan alignment bisnis menjadi pilihan bagi bank untuk meningkatkan kapasitas pengembangan bisnisnya, terutama untuk pertumbuhan kredit baru pada segmen UMKM yang potensi marketnya masih tinggi," jelas Edy.

Atas dasar itulah, konsolidasi perbankan akan terus berlanjut. Ada bank-bank kecil yang mencari mitra strategis, termasuk bank-bank besar. Di lain sisi, bank-bank besar juga mengincar bank kecil yang potensial. Sebagian bank besar mengambil bank kecil untuk dijadikan KUB bank digital, seperti BCA Digital yang semula bernama Bank Royal Indonesia. BCA mengakuisi Bank Royal pada November 2019.
Sejumlah bank yang memiliki modal inti kurang dari Rp 3 triliun antara lain PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) dengan modal inti Rp 1,5 triliun, PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) Rp 1 triliun, PT MNC Bank International Tbk (BABP) Rp 1,2 triliun, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) Rp 1,1 triliun, dan PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) Rp 1 triliun.

Kemudian PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dengan modal inti Rp 1,1 triliun, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) Rp 1 triliun, PT Bank JTRUST Indonesia Tbk (BCIC) Rp 1 triliun, PT BPD Banten Tbk (BEKS) Rp 1 triliun, serta PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) dengan modal inti Rp 2,5 triliun. Data tersebut mengacu pada laporan keuangan semester I-2021.

Di sisi lain, OJK kini tidak mengelompokkan bank dengan istilah BUKU, namun diganti dengan kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI). KBMI 1 adalah bank dengan modal inti kurang dari Rp 6 triliun, KBMI 2 (Rp 6 triliun hingga kurang dari Rp 14 triliun), KBMI 3 (Rp 14 triliun hingga kurang dari Rp 70 triliun), serta KBMI 4 dengan modal inti Rp 70 triliun ke atas.
Pengelompokan sistem baru ini bertujuan untuk memudahkan OJK melakukan pengawasan dan analisis bank sesuai kelompoknya.
 

Persaingan Ketat
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menilai, hingga saat ini banyak investor yang tertarik untuk mengambil alih bank mini, salah satunya sebagai strategi bank memenuhi ketentuan permodalan. Nantinya, setelah semua bank telah memiliki modal lebih dari Rp 3 triliun, diperkirakan tidak ada lagi aksi korporasi seperti akuisisi.
"Iya sekarang masih banyak. Mungkin kalau sudah Rp 3 triliun semua, sudah tidak konsolidasi lagi," tutur Jahja kepada Investor Daily.
Dia juga mengatakan, apabila investor mengincar bank di Indonesia untuk dijadikan bank digital, persaingan akan ketat karena saat ini sudah banyak bank yang melakukan transformasi untuk menjadi bank digital.
BCA pada tahun 2019 mengakuisisi Bank Royal Indonesia yang ditransformasikan menjadi Bank Digital BCA. Setelah menjadi perusahaan anak BCA, maka BCA Digital tidak lagi diwajibkan untuk memenuhi modal inti Rp 3 triliun pada tahun 2022 mendatang, karena masuk dalam kelompok usaha bank (KUB).
Menurut Jahja, tidak banyak bank digital yang akan sukses dalam 10 tahun ke depan. Dari sisi jumlah kantor cabang, pada Januari 2015 terdapat 30.605 kantor bank, mengalami penurunan 9,72% pada Juni 2021 menjadi 27.631 kantor. Penurunan tersebut juga menunjukkan perbankan mulai mengurangi kantor fisik dan mulai bertransformasi memberikan layanan digital.
"Kompetisi pasar bank digital akan ketat, di Tiongkok ada WeChat, di Korea ada Kakao Bank, di Jepang ada Rakuten, market akan memfilter siapa yang jadi leader. Kalau di sana hanya ada 1-3 yang unggul, di Indonesia kita lihat. Sorry to say, paling paling tiga bank digital 10 tahun ke depan," terang Jahja.
Berdasarkan riset The Boston Consulting Group (BCG), dari 249 bank digital yang ada di seluruh dunia, hanya 13 yang profitable. Menurut Jahja, hal tersebut lumrah terjadi, seperti tahun 1988 Indonesia memiliki lebih dari 200 bank. Saat ini hanya ada sekitar 100 bank yang bisa bertahan, di mana bank yang memimpin kurang dari 10 bank besar.

Khusus bank yang tercatat di BEI, saat ini terdapat 48 bank, dengan market cap sebesar Rp 2.674 triliun, atau menguasai 35% total market cap di BEI sebesar Rp 7.535 triliun per 24 September 2021.
 

Seksi di Mata Investor
 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana sebelumnya mengungkapkan, perbankan Indonesia masih sangat menarik di mata calon investor, baik lokal maupun asing. Namun, pihaknya tidak menyebutkan jumlah investor asing yang tertarik mengakuisisi bank di Indonesia.
"Bank kita itu seksi, NIM (net interest margin) kita dibanding kawasan tinggi, dari ROA juga, CAR, secara industri bank kita banyak investor yang lirik. Tapi teman-teman pengawas akan tetap sangat lihat kemampuan investor, tidak sembarangan, kita memang harus selektif," terang Heru.

Berdasarkan data OJK, hingga posisi Juli NIM perbankan berada di level 4,54%, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) cukup kuat 24,67%.

Kinerja harga saham perbankan yang tercatat di BEI juga sangat impresif. Yang paling fenomenal adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Per 24 September, saham ARTO melonjak 271% (year to date/ytd). Namun ada yang lebih fantastis kenaikannya, yakni Bank Aladin Syariah dengan kenaikan 2.900% (ytd), Allo Bank Indonesia (846%), Bank Bisnis Internasional (614%), dan Bank Ina Perdana melonjak 472%.

Ekspektasi keajaiban digitalisasi membuat saham-saham bank tersebut diburu investor, sehingga kenaikan harganya luar biasa.
Tentang animo besar asing yang hendak mencaplok bank di Indonesia, menurut Heru Kristiyana, yang paling penting adalah komitmen dan kontribusi calon investor, baik lokal maupun asing yang ingin mengambil bank di Indonesia. "Paling akhir itu kan ada fit and proper test investornya. Kita harus selektif, bank itu lembaga kepercayaan," imbuh dia.
OJK tetap akan memberikan izin kepada investor asing yang memiliki kemampuan keuangan bagus, memiliki komitmen pada bank, serta kontribusi ke perekonomian Indonesia. "Kami tetap dapat melakukan pengujian. Kalau menurut OJK investor akan berkomitmen untuk kontribusi Indonesia, maka tetap kami berikan," ucap Heru.

Heru memastikan semua bank mini sudah dalam tahapan memenuhi ketentuan modal inti. "Semua bank sekarang sudah menuju modal inti Rp 2 triliun sesuai tahapannya. Kalau ada pun yang masih Rp 1 triliun, semua sudah on the track memenuhi ketentuan," kata Heru.

OJK dalam menerbitkan POJK 12/2021 tentang Bank Umum juga mendorong percepatan terjadinya konsolidasi perbankan. Sebab, dengan pendirian bank baru harus memiliki modal inti minimum Rp 10 triliun, calon investor akan memilih untuk konsolidasi seperti merger atau akuisisi bank-bank kecil, sehingga diharapkan jumlah bank akan berkurang dengan aturan tersebut.


Opsi Tambah Modal
Sementara itu, bank ramai-ramai menempuh rights issue untuk menambah modal. Di antaranya adalahBank Capital Indonesia, MNC Bank International , Bank Ina Perdana, Bank Bisnis Internasional, Bank Neo Commerce, Bank JTRUST Indonesia, Allo Bank, dan Bank Maspion.

Ada pula bank non-Tbk yang tengah meningkatkan permodalannya, yakni PT Bank Sahabat Sampoerna. Bank Sampoerna pada akhir tahun ini menargetkan memiliki modal inti Rp 2 triliun, dari posisi saat ini Rp 1,64 triliun. Direktur Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menyampaikan, terdapat tiga opsi untuk mencapai target modal inti Rp 3 triliun hingga 2022.
Opsi pertama adalah melakukan penggabungan (merger) dengan bank lain. Opsi kedua, mencari investor dari startup, baik e-commerce maupun perusahaan fintech yang tertarik berinvestasi di bank. "Sudah ada letter of agreement dengan beberapa calon investor, tetapi kami belum bisa disclose," imbuh Henky.
Apabila kedua opsi tersebut tidak berhasil, pihaknya meminta tambahan modal dari pemegang saham yang ada.
Bank yang juga dipinang oleh investor adalah PT Bank Fama Internasional. Selain itu, investor asal Singapura Sea Group masih mencari satu bank lagi setelah berhasil mengakuisisi PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) yang kini berganti nama jadi Seabank. Nama PT Bank Bumi Arta Tbk ramai disebut-sebut menjadi salah satu bank yang diminati Sea Group.
Kelompok bank yang kini juga menghadapi kendala permodalan adalah bank pembangunan daerah (BPD). Oleh karena itu, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) memiliki beberapa opsi guna memperkuat modalnya.
"Inisiatif yang kita bahas terkait program konsolidasi atau merger atau KUB. Ada yang jadi KUB, ada yang dapat tambahan modal," ungkap Kepala Bidang Strategic Group Asbanda sekaligus Direktur Utama Bank Sumselbabel Achmad Syamsudin.
Opsi lain adalah mencari partner strategis atau melantai di bursa lewat initial public offering (IPO) saham.
Dari 26 jumlah BPD, hanya 4 bank yang dapat dikategorikan memiliki modal cukup tebal di atas Rp 6 triliun untuk mampu menembus kelompok KMBI II.

Yang juga menarik, tren bank digital membuat bank perkreditan rakyat (BPR) yang berkinerja cemerlang pun dilirik bank besar untuk dijadikan KUB bank digital. Dengan jadi KUB, BPR tersebut bisa memberikan layanan yang lebih luas dengan skala nasional.

Bisnis Model Unik
Sebelumnya, Komisaris Utama PT Bank Jago Tbk Jerry Ng menilai pasar Indonesia masih sangat luas bagi industri perbankan bisa tumbuh, baik untuk bank digital maupun bank nondigital. Menurut dia, yang terpenting adalah bank harus memiliki bisnis model yang unik, maka para investor pun akan tertarik.
"Potensi pasar sangat baik, kita lihat golden years masih berjalan. Pasti ada bank digital sangat sukses dan ada nondigital juga sukses. Saya harapkan bank digital yang sukses itu Bank Jago," ucap dia.

Pemilihan Jerry dalam membeli Bank Artos yang sekarang menjadi Bank Jago juga bukan tanpa alasan. Bank Artos yang tergolong bank kecil kategori BUKU 1 yang tidak memiliki cabang banyak menjadi alasan utama dia memilih untuk akuisisi.

Jerry juga mengaku menyeleksi sejumlah bank yang sesuai dengan kriterianya untuk dijadikan bank digital, kriteria tersebut ditemukan pada Bank Artos. "Saya selalu katakan bangun dari tidak ada, lebih gampang bangun rumah baru daripada renovasi," tegas Jerry. ***

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN