Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

September, Industri Asuransi Bukukan Premi Rp 22,2 Triliun

Kamis, 28 Oktober 2021 | 15:43 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri asuransi asuransi komersial membukukan premi mencapai Rp 22 triliun atau tumbuh 6,22% cara bulanan (month to month/mtm), per September 2021. Pada saat sama, profil risiko industri asuransi masih relatif terjaga di atas threshold.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan, rasio risk based capital (RBC) industri asuransi jiwa per September 2021 sebesar 587,7%, menurun dibandingkan posisi 633,6% per Agustus 2021. Sedangkan RBC asuransi umum meningkat dari 336,8% per Agustus 2021 menjadi 341,6%, per September 2021.

Selain itu, OJK juga mencatat bahwa industri asuransi menghimpun premi hingga Agustus 2021 sebesar Rp 20,9 triliun. Rinciannya, asuransi jiwa sebesar Rp 13,6 triliun dan asuransi umum serta reasuransi Rp 7,3 triliun.

Premi asuransi jiwa masih mampu tumbuh, namun premi asuransi umum dan reasuransi relatif susut pada September 2021. "Industri asuransi mencatatkan penghimpunan premi asuransi pada September 2021 sebesar Rp 22,2 triliun, dengan rincian asuransi jiwa sebesar Rp 15,1 triliun (tumbuh 11,02%), serta asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp 7,1 triliun (susut 2,73%)," kata Wimboh dalam keterangannya, Rabu (27/10).

Perlu Adaptasi TI
Sedangkan Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi menuturkan, industri asuransi perlu mengadaptasi teknologi informasi (TI) guna menangkap peluang dari kebutuhan masyarakat. Terlebih, hingga kini, penetrasi asuransi relatif masih rendah dan perlu ditingkatkan.

"Adaptasi perusahaan asuransi meliputi tiga hal. Ini pada aspek pemasaran, pelayanan, dan operasional internal perusahaan," ucapnya.

Menurut dia, adaptasi aspek pemasaran juga bisa dilakukan oleh perusahaan asuransi sendiri.

"Jadi, perusahaan asuransi sendiri yang melakukan digitalisasi atau tata cara kerja yang didukung teknologi. Misalnya pada produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI), atau dikenal sebagai unit link, untuk dapat dipasarkan tanpa tatap muka (non face to face)," paparnya.

Dalam aturan yang berlaku, pemasaran produk itu harus dilakukan dengan pertemuan tatap muka, untuk meyakinkan bahwa penjelasan -- yang biasanya diwakili oleh agen -- kepada konsumen mengenai isi produk dilakukan dengan baik dan jelas. Sebab, isi produk yang menyertakan proteksi sekaligus investasi membuat ada dana lebih yang mesti dibayarkan konsumen, sehingga perlu kehati-hatian lebih saat penutupan asuransi.

"Dalam kondisi pandemi tidak memungkinkan untuk tatap muka, maka OJK memberikan dukungan untuk bisa penjualan tanpa tatap muka, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Ini juga yang diatur dan dilakukan pemeriksaan TI-nya oleh OJK. Terutama agar penjualan tanpa tatap muka ini terekam dalam sistem, (untuk antisipasi) jika terjadi dispute (perselisihan) di belakang hari," kata Riswinandi.


Kemudian ada di kerja sama pemasaran antara perusahaan asuransi dengan platform digital. "Ini yang sekarang sedang di review oleh OJK mengenai kedudukan platform digital hanya sebagai referal atau memang ikut berproses dalam penutupan asuransi," ujar dia.

Riswinandi mengatakan, saat ini perusahaan asuransi memang bisa menggandeng mitra untuk memudahkan proses bisnisnya. Salah satunya adalah kerja sama menyangkut kemudahan klaim bekerja sama dengan platform digital. Namun demikian, pihaknya mengimbau kerja sama harus dijalankan dengan benar dan sesuai prinsip kehati-hatian.

"Ini juga perlu hati-hati melihat mereka menjalankan produk bisnis atau aplikasi ini, begitu juga terkait kerja sama atau respon dengan perusahaan asuransi. Karena inovasi ini tidak boleh merugikan konsumen, meskipun proses lebih cepat. Ini menjadi perhatian OJK untuk perusahaan asuransi menjalankan dengan tertib. Karena bisnis asuransi ini adalah bisnis kepercayaan," terang dia.

Ketiga adalah aspek operasional. Dengan semakin bertumbuhnya bisnis, semakin banyak produk, dan bertambahnya nasabah, mau tidak mau perusahaan asuransi mesti didukung sistem operasi TI dalam berkegiatan. Apalagi ketika pandemi banyak karyawan yang melakukan work from home (WFH), sehingga aplikasi yang digunakan harus dipastikan tidak mengganggu aspek kehati-hatian dan tetap menjaga kepercayaan masyarakat sebagai pemegang polis.

Perkembangan Insurtech
Dengan demikian, lanjut Riswinandi, OJK mengelompokkan insurance technology (insurtech) menjadi tiga bagian dalam ekosistem industri asuransi. Kelompok pertama merupakan pelaku insurtech yang menjalankan fungsi pertanggungan risiko atau perusahaan asuransi itu sendiri. Jadi tidak tertutup kemungkinan bagi perusahaan asuransi selain melakukan penjualan secara konvensional, untuk turut memanfaatkan TI dalam rangka menjangkau pasar yang lebih luas.

Kelompok kedua, kata dia, disebut sebagai distributor yang biasanya dijalankan oleh platform digital. Mereka bisa berbentuk industri keuangan digital yang bukan industri jasa keuangan, maupun merupakan pialang asuransi yang menjalankan bisnis secara digital.

"Selain itu, ada juga yang tidak masuk industri asuransi tapi masih dikatakan insurtech yaitu web aggregator yang sifatnya referral (rujukan) seperti memberi perbandingan masing-masing produk asuransi. Web aggregator ini bukan bukan perusahaan asuransi, hanya industri digital. Pengaitan dengan platform e-commerce juga sudah terjadi di beberapa kanal pemasaran asuransi," jelas dia.

Sementara kelompok ketiga adalah enabler yaitu penyedia jasa pendukung untuk industri jasa keuangan. Mereka biasanya provider TI seperti penyedia kemudahan klaim atau penyedia data yang memungkinkan sebagai insurtech. "Tentu dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah perlindungan data pribadi itu terjaga. Kita di OJK yang tentu dijaga adalah agar perusahaan asuransi terdaftar dan berizin tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan menjalankan perlindungan konsumen" imbuh Riswinandi.

Dari sisi bisnis, pendapatan premi dari produk asuransi yang ditutup melalui pialang asuransi digital itu tahun 2020 mencapai Rp 1,15 triliun dari total premi yang didapat. Riswinandi bilang, nilai itu memang masih kecil. Adapun premi Januari-Maret 2021 masih sebesar Rp 0,44 triliun, meski naik menjadi Rp 0,89 triliun sampai dengan Juni 2021.

"Untuk bulan Juli 2021, premi asuransi jiwa totalnya Rp 107 triliun, tentu premi dari pialang asuransi digital ini belum besar dibandingkan total premi yang dihasilkan. Di asuransi umum atau kerugian, premi yang terkumpul Rp 44,57 triliun. Jadi memang dari sini bisa diperkirakan bahwa ke depan masyarakat masih berhati-hati atas pemasaran asuransi secara digital ini. Tapi inovasi tentu masih perlu disikapi bahwa ini menjadi peluang yang kedepan bisa lebih baik," papar Riswinandi.

Adapun jika dilihat dari posisi pendapatan per Juli 2021, sebesar 68,2% premi dikontribusikan dari non digital atau kanal distribusi konvensional. Sedangkan 26,19% secara telemarketing dan 5,28% adalah pemasaran secara digital.

Riswinandi menambahkan, perjalanan untuk kanal pemasaran digital produk asuransi masih panjang tapi peluang selalu terbuka. Apalagi survei menerangkan bahwa masyarakat memandang bahwa produk asuransi yang dipasarkan secara digital lebih mudah, cepat, dan lebih murah. Tapi masyarakat juga menilai proses klaim masih relatif sama dengan cara konvensional. 

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN