Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

AAUI Imbau Asuransi Umum Tak Hanya Fokus Kejar Premi

Kamis, 17 Desember 2020 | 21:09 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengimbau para anggotanya untuk tidak hanya fokus mengejar produksi premi (top line) tetapi juga fokus menjaga pos pendapatan (earning). Imbauan tersebut ditujukan agar kewajiban (liabilitas) di masa mendatang bisa tetap terpenuhi.

Ketua AAUI HSM Widodo menyampaikan, asuransi umum memang ditugaskan untuk tetap tumbuh di masa mendatang. Namun, bisnis asuransi sejatinya bisa memastikan ekuitas yang ada cukup untuk menyerap risiko. Alhasil, perusahaan asuransi mampu membayarkan klaim atau manfaat dari kewajiban masa depan yang telah disepakati dengan nasabah.

Menurut dia, perusahaan asuransi umum bisa bertahan di masa krisis saat ini jika solvabilitas dan solvensi dapat diukur atau dikelola dengan baik. Banyak simulasi yang bisa dilakukan, misalnya dengan tidak terlalu mengejar produksi premi ketika klaim meningkat tajam.

"Jika ada masalah di solvabilitas dan solvensi maka turunkan saja sales-nya. Dan tolong berani mengatakan tidak hanya untuk terlihat bagus pada top line. Yang penting adalah earning, ingat kegagalan memenuhi liabilitas pidana loh. Jadi itu harus kita jaga semua. Message-nya adalah insurance is all about liability management," ucap Widodo pada suatu webinar, Kamis (17/12).

HSM Widodo, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Asuransi Saat Pandemi, BeritaSatuTV, Kamis (15/10/2020). Sumber: BSTV
HSM Widodo, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI Sumber: BSTV

Dia mengilustrasikan, ketika klaim gross naik 15% maka pos yang terpukul adalah solvabilitas (risk based capital/RBC) dari 146,30% menjadi 126,50%. Namun, jika penjualan diturunkan sebesar 25%, memungkinkan RBC yang tadinya 146,30% malah meningkat menjadi 154,50%.

Ilustrasi lainnya, kata dia, datang pada lini bisnis asuransi properti yang mengalami penurunan 5,4% pada premi sampai kuartal III-2020.

Di lain hal, terjadi klaim yang cukup tinggi sebesar 15%. Fenomena itu dipengaruhi operasional gedung dan pabrik ditutup karena adanya PSBB. Selain karena memang banyak dari pengusaha menutup asuransinya untuk efisiensi, ilustrasi tersebut merupakan adanya upaya mengantisipasi risiko.

Berbeda halnya dengan yang terjadi pada lini bisnis kendaraan bermotor. Premi lini asuransi tersebut dibukukan pada tahun pertama dan sampai kuartal III-2020 terlihat adanya penurunan 20%. Sedangkan di sisi klaim terjadi perlambatan. Kendala pada lini tersebut adalah ketika hasil investasi menurun, sehingga berdampak pada kemampuan bayar klaim perusahaan.

Sedangkan untuk lini asuransi kredit, hal yang paling disoroti adalah peningkatan pencadangan. Hak itu erat kaitannya dengan klaim yang kemungkinan besar bakal terjadi setelah periode relaksasi restrukturisasi kredit usai Maret 2022. Perlu diingat, saat ini NPL perbankan pada posisi 2,32% sedangkan loan average di kisaran 30%. Menurut Widodo, klaim asuransi kredit bisa saja meledak sewaktu-waktu.

Dia mengatakan, berbagai upaya memitigasi risiko perlu ditingkatkan perusahaan asuransi umum. Pihaknya pun belum bisa memperkirakan proyeksi premi yang mungkin dicapai perusahaan asuransi umum di tahun 2021.

"Jadi 2021 adalah tahun liabilitas adalah kewajiban, pertumbuhan jadi pilihan, tapi itu menjadi resiliensi kita dan jaga untuk tidak kehilangan nama kita," kata Widodo.

OJK
OJK

Pada kesempatan sama, Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2A OJK Ahmad Nasrullah mengatakan, hal yang wajar jika secara umum industri asuransi mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19. Tapi OJK optimistis tahun depan perusahaan asuransi akan rebound.

"Kalau bicara ke depan, kami optimistis kita menyongsong 2021, kita berbicara dengan asosiasi, ekspektasi kita itu bisa mulai rebound, terutama kalau kita menggunakan benchmarking pertumbuhan 2020," jelas dia.

Nasrullah menuturkan, optimisme tersebut setidaknya mengacu pada tiga hal. Pertama, upaya mengantisipasi risiko ketika pandemi oleh regulator dan asosiasi terkait. Salah satu hasilnya adalah adanya sederet relaksasi diharapkan tetap menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan asuransi.

Kedua, reputasi yang cukup terjadi di tengah terpaan kasus gagal bayar sejumlah perusahaan asuransi. "Reputasi kita cukup terjaga, ini cukup menurunkan kepercayaan masyarakat. Ini saya ingatkan bagaimana bisa menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi kita," kata dia.

Ketiga, adalah mitigasi risiko untuk menyongsong 2021. Dalam hal ini, OJK mengimbau asosiasi untuk tetap membuka komunikasi dengan regulator untuk berdiskusi terhadap kebutuhan industri di masa mendatang, baik yang bersifat relaksasi, restrukturisasi, atau upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN