Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi

Awal 2022, Bank Syariah Indonesia Masuk BUKU IV

Selasa, 2 Februari 2021 | 16:32 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) diharapkan naik kelas ke Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV pada awal 2022 dengan modal inti di atas Rp 30 triliun. Hal itu akan dipenuhi lewat rights issue ditambah dengan laba ditahan (retained earning).

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Hery Gunardi mengatakan, tidak sulit bagi BSI untuk naik kelas menjadi bank kategori BUKU IV. Saat ini, BSI masuk BUKU III dengan modal inti Rp 22,6 triliun.

“Skenarionya, jika pemegang saham tidak meminta dividen, retained earning tahun lalu Rp 2,2 triliun dan tahun ini diharapkan bisa mencapai Rp 3 triliun. Kemudian ditambah rights issue Rp 6-7 triliun, kita akan mendapatkan modal inti lebih dari 30 triliun. Maka awal 2022 kita akan dinobatkan sebagai bank kategori BUKU IV,” kata Hery Gunardi menjawap pertanyaan Investor Daily pada pertemuan direksi BSI dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Hery mengatakan, BSI siap menjalankan amanah dari berbagai pihak, terutama untuk masuk 10 besar bank syariah terbesar di dunia dan membawa Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi keuangan syariah global.

Hery mengungkapkan, proses penggabungan PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah dimulai pada Maret 2020 dan berlangsung selama 11 bulan. "Nama Bank Syariah Indonesia atau BSI dipilih karena kami ingin BSI menjadi representasi Indonesia di tingkat nasional dan global," tutur dia.

Dia menjelaskan, sebagai bank hasil merger, BSI per akhir Desember 2020 memiliki total aset Rp 240 triliun, pembiayaan yang disalurkan senilai Rp 157 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun sebesar Rp 210 triliun per akhir tahun lalu.

Dengan total modal inti Rp 22,6 triliun, menurut Hery Gunardi, BSI berada dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III 'gendut'. "Kami siap membawa BSI masuk 10 bank besar dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam lima tahun ke depan. Kami siap membawa amanah ini," tegas Hery.

Hery menambahkan, kantor yang dimiliki BSI setelah merger berjumlah lebih dari 1.200 kantor cabang dan 20 ribu karyawan yang tersebar di Indonesia.

Dia mengemukakan, segenap jajaran BSI berkomitmen memberikan layanan kepada semua lini masyarakat, menjadi bank modern, inklusif, dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah, produk-produk kompetitif, dan layanan prima sesuai kebutuhan nasabah.

"BSI akan menjadi bank peringkat ke-7 di Indonesia berdasarkan total aset. Tugas kami bukan hanya menggabungkan tiga bank ini, tapi bersama-sama transformasi perbaikan proses bisnis, penguatan risk management, penguatan sumber daya insani, serta teknologi digital," papar dia.

BSI, kata dia, fokus ke segmen UMKM dengan sistem terintegrasi, melayani sistem ritel, konsumer, wholesale untuk pengembangan bisnis global sukuk. Selain menjalankan fungsi intermediasi, BSI akan menyalurkan pajak. BSI juga punya konsep mengoptimalkan pemerataan ekonomi masyarakat melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf).

 

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN