Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV

Bank Harus Akselerasi Digitalisasi

Jumat, 19 Maret 2021 | 20:15 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan digitalisasi layanan perbankan adalah keniscayaan. Karena itu, bank harus mengakselerasi digitalisasi. Jika tidak, bank akan tersisih oleh fenomena flight to service dan flight to digital, sehingga ditinggalkan nasabah yang punya ekspektasi tinggi terhadap perbankan digital.

Untuk mengkaselerasi digitalisasi, kuncinya adalah kemampuan transformasi bank pada sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, kapabilitas, serta kapasitas bank. Untuk mendukung digitalisasi perbankan, OJK memberi ruangseluas-luasnya kepada perbankan untuk melakukan inovasi.

Demikian benang merah Zooming with Primus ber tajuk Era Bank Digital yang disiarkan BeritasatuTV, Kamis (18/3/2021).

Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV

Acara menghadirkan pembicara Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto, Direktur Utama KB Bukopin Rivan A Pur wantono, dan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro) Ebeneser Girsang.

Anung Herlianto mengatakan, digitalisasi saat ini berbeda dengan beberapa tahun ke belakang. Dahulu meskipun produk bank tradisional sudah didukung teknologi informasi, nasabah masih banyak yang datang ke cabang. Di era pandemi Covid-19 saat ini, justru nasabah menuntut pelayanan perbankan secara digital melalui ponsel pintar.

“Sekarang silakan lakukan inovasi, lebih baik kolaborasi. Kalau tidak cepat akselerasi, siap-siap alami flight to service dan flight to digital, ditinggalkan nasabah yang punya ekspektasi tinggi pada pearbankandigital,” jelas Anung.

Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK dalam diskusi Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV
Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK dalam diskusi Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV

Menurut Anung, perbankan bisa berkolaborasi dengan e-commerce dan fintech karena peluang sangat terbuka. Terlebih saat ini banyak bank menerapkan open banking dan open Application Programming Interface(API) yang akan menciptakan ekosistem.

“Tinggal kita tunggu recovery ekonomi, bank yang sudah mature digital akan take off lebih awal melayani kebutuhan nasabah ketika demand sudah meningkat, untuk nasabah kredit,” ujar dia.

Anung juga memaparkan, terdapat bank yang masih tradisional dalam hal pelayanan sehingga mengandalkan kontak fisik atau tatap muka. Lalu, ada bank tradisional yang memanfaatkan teknologi untuk mengubah layanannya menjadi digital, serta ada bank yang full digital atau digital first bank. Tapi di Indonesia belum ada bank yang murni didirikan sebagai bank digital.

“Ada bank tradisional transformasi ke bank digital, seperti BCA yang sudah mengakuisisi Bank Royal dikonversi ke digital. Lalu ada Gojek yang beli Bank Artos kemudian diubah menjadi Bank Jago, mereka ini cangkangnya tradisional,” ungkap Anung.

OJK memandang tidak ada dikotomi antara bank tradisional, bank transformasi digital, atau bank fully digital. Menurut Anung, bank adalah bank, tidak ada perbedaan walaupun bank tradisional atau bank digital. Yang berbeda adalah proses bisnisnya. OJK mengantisipasi maraknya transformasi bank menjadi bank digital dengan menyiapkan regulasi.

Anung menegaskan, jika regulasi sebelumnya terlalu rigid, sekarang OJK menerapkan rule based untuk digitalisasi perbankan.

“Kita tidak ingin tergopoh-gopoh mengatur, karena akan terjadi dua sisi. Jika kita buat pagar, inovasi menjadi terbatas. Sambil monitor kita siapkan, karena selama pandemic transaksi online meningkat 300-400%. Perbankan harus catch up dengan digital, makanya marak open banking dan open API,” imbuhnya.

Anung juga mulai percaya terhadap perbankan, bahwa mereka tidak akan bunuh diri dengan mengeluarkan produk yang tidak dikenal. Untuk itu, OJK membuat regulasi sebagai guidance principal agar perbankan juga bisa mengembangkan kreativitasnya.

Anung menilai digitalisasi perbankan menjadi keniscayaan saat ini. Dengan perkembangan teknologi, ke depan perbankan diharapkan dapat menganalisis data atau mengumpulkan data yang dapat digunakan untuk memberikan pelayanan sesuai kebutuhan nasabah.

“Ke depan itu bank bukan tempatsimpan dana, tapi tempat simpan data. Data itu untuk memberikan layanan holistik untuk nasabah,” tutur Anung.

Ekonomi digital di Indonesia
Ekonomi digital di Indonesia

Menurut dia, istilah bank bukan tempat menyimpan dana tidak lagi diartikan secara tradisional berupa uang cash, tetapi berupa uang elektronik yang menjadi data.

“Dana kalau dulu itu cash, ini bukan pengertian secara tradisional, dana nanti pindah sebagai data. Suatu saat tidak kenal uang kertas tapi uang elektronik,” imbuh Anung.

Anung mengatakan, OJK juga tidakingin terburu-buru meminta bankbertransformasi menjadi bank digital, namun bisa dimulai dari prosesbisnis sehingga lebih cepat disbanding bank tradisional. Apabila belum bisa,maka diimbau untuk berkolaborasi, khususnya bank-bank kecil atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

“Kalau dulu disrupsi, sekarang kita upayakan tidak lagi, tapi sekarang tren kolaborasi. Contohnya BPR akan kemana dengan modal kecil, di pelosok, diserang dari atas dan bawah dengan KUR dan fintech, bagaimana bisa survive? Kita berikan panduan kolaborasi BPR dan fintech, BPR punya market, fintech punya platform,” terang dia.

Terkait regulasi, OJK saat ini masih dalam proses penyusunan aturan untuk bank digital. Ditargetkan Peraturan OJK (POJK) mengenai bank digital akan terbit pada pertengahan tahun ini.

Full Digital Tahun 2023

Presiden Direktur Bank KB Bukopin Rivan A. Purwantono dalam acara Zooming with Primus dengan tema Era Bank Digital, yang disiarkan Beritasatu TV, Kamis (18/3).
Presiden Direktur Bank KB Bukopin Rivan A. Purwantono dalam acara Zooming with Primus dengan tema Era Bank Digital, yang disiarkan Beritasatu TV, Kamis (18/3).

Pada kesempatan yang sama, PT Bank KB Bukopin Tbk akan bertransformasi menjadi fully digital pada tahun 2023. Saat ini proses transformasi terus dilakukan perseroan dengan dukungan pemegang saham pengendali (PSP) KB Kookmin Bank.

Direktur Utama KB Bukopin Rivan A Purwantono mengungkapkan, secara produk perseroan sudah menggunakan layanan digital, namun untuk proses bisnis masih dalam masa transisi menggunakan sistem KB Kookmin Bank.

“Secara produk sudah, secara totalkita rencanakan ITSP-nya (information technology strategic plan) kita selesaikan di 2023, jadi betul-betul kita sudah gunakan KB generation system. Artinya ini akan luar biasa berbeda, kita gunakan juga termasuk menyusun cara kerja digital membentuk target market baru,” terang Rivan.

Rivan mengatakan, dari sisi simpanan pihaknya akan membidik segmen milenial melalui Wokee. Sedangkan dari sisi bisnis akan menyasar segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki potensi besar untuk digarap. Pihaknya juga menciptakan organisasi Korean link yang ternyata sangat besar peluang bisnisnya.

“Pelaku Korean link ini tidak ada supplier, ini pelaku UMKM Indonesia, ini kesempatan yang baik, hampir 2.000 perusahaan Korea terbagus di Indonesia, ada 211 nasabah di seluruh cabang yang memberikan kontribusi, ini kita bangun ekosistemnya, sehingga kita masuk opportunity pasar yang baik kita lakukan pemberdayaan digital,” kata dia.

Dengan menyasar segmen tersebut, lanjut Rivan, pemberdayaan digital dilakukan dengan menerapkan agen Laku Pandai, digital channel untuk supply chain, termasuk transaksi supplier dengan rekan bisnisnya. Sehingga prosesbisnis keseluruhan sudah digital.

“Kita harapkan 2023 semua fully support dengan digital, dengan end to end seluruh bisnis. Tidak secara produk tapi pelayanan secara langsung bisa dinikmati nasabah,” papar Rivan.

Rivan mengaku, adanya pandemic Covid-19 membawa berkah bagi perseroan. Selain mempercepat proses transformasi digital, perseroan juga mendapatkan PSP (pemegang saham pengendali) di tengah pandemi Covid- 19, yakni KB Kookmin Bank yang merupakan bank peringkat keduaterbesar di Korea Selatan.

Rivan melihat adanya pergeseran kebiasaan masyarakat khususnya nasabah di era pandemi, di mana semuakegiatan bergeser ke digital.

“Ini menjadikan potensi yang baik untuktransformasi, KB Financial Group dan KB Kookmin mengarahkan transformasi digital terlebih dahulu dari bisnis proses. Kita tidak tanggung-tanggung langsung gunakan KB generation system,” ucap Rivan.

Di sisi produk, KB Bukopin telah memiliki layanan digital perbankan Wokee. Ke depan, dimungkinkan kolaborasi antara Bukopin dengan Kookmin Bank.

Perkembangan ekonomi digital di negara ASEAN
Perkembangan ekonomi digital di negara ASEAN

Perseroan menyasar milenial khususnya untuk produk simpanan. Saat ini KB Bukopin memiliki aplikasi perbankan digital Wokee yang memudahkan nasabah melakukan transaksi secara digital.

“Ketika bicara saving, Wokee ini targetnya milenial,” ujar

Rivan.Selain memiliki Wokee, Bukopin juga akan meluncurkan personal finance management pada semester II-2021 mendatang. Layanan tersebut akan menjadi satu kesatuan dengan produk lain. “Ini dijadikan informasi terpadu yang bisa dimanfaatkan, jarang sekali buat produk yang dinikmati satu kesatuan. Personal finance management ini digital,” lanjut dia.

Ke depan, perseroan juga akan membidik segmen milenial karena memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. KB Bukopin juga ke depan akan mengembangkan produk yang sesuai untuk milenial. Selain itu, para milenial juga diharapkan dapat menjadi investor dengan memiliki saham KB Bukopin dengan ticker BBKP di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Market-nya sangat terbuka luas, Indonesia ada 274,9 juta jiwa, pengguna mobile phone ada 345 juta jiwa. Kemudian, 200 juta jiwa itu pengguna internet, anggap ini milenial. Bahkanpemegang saham BBKP ini banyak milenial,” ucap Rivan.

Meskipun saat ini banyak bank yang juga menyasar generasi milenial, namun karena jumlahnya yang besar maka persaingan disebut tidak akan ketat. “Market-nya luas, menurut saya kita berbagi lah, atau kolaborasi,” ujar Rivan.

Persiapan Menuju Bank Digital

Ebeneser Girsang, Direktur Utama PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO).dalam diskusi Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV
Ebeneser Girsang, Direktur Utama PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO).dalam diskusi Zooming with Primus - Era Bank Digital live di Beritasatu TV, Kamis (18/3/2021). Sumber: BSTV

Sedangkan Direktur Utama BRI Agro Ebeneser Girsang mengatakan, pemegang saham perseroan yakni BRI pada awal tahun memang mengatakan BRI Agro memungkinkan untuk menjadi bank digital di masa depan. Namun, pemegang saham pengendali (PSP) juga memberikan sejumlah catatan penting kepada perseroan.

“Persiapannya harus matang, komprehensif, kita juga harus benar-benar menyiapkan banyak hal, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, model bisnisnya, juta target pasarnya. Sehingga PSP mengatakan harus dipersiapkan dengan cepat dan terukur. Betul kami coba mengarah seperti yang disebut PSP menuju bank digital,” tutur Ebeneser.

Hal tersebut bisa dibuktikan dari layanan perbankan digital yang telah dilakukan oleh BRI Agro melalui Pinang (Pinjam Tenang). Pinang merupakan aplikasi untuk pengajuan dan pencairan kredit full digital secara end to end melalui smartphone. Dalam Pinang terdapat face recognition, pengajuan, penarikan, credit scoring, verifikasi yang sudah digital.

“Tapi bank tidak hanya dari pinjaman, tapi simpanan dan jasa juga sedang kita persiapkan masih berproses membangun model bisnis, mitigasi risiko dan apa yang diatur regulatorkita perhatikan. Kita masih proses, kita persiapkan apa yang disebut induk kami akan mengarah ke sana dengan tahap detail dan terukur,” urai Ebeneser.

Terkait persiapan BRI Agro menjadi bank digital, saat ini masih berproses dan membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah (PR) dari induk sebelum bertransformasi ke bank digital. Oleh karena itu, saat ini perseroan masih gencar melakukan kolaborasi dengan fintech.

“Tujuannya akselerasi perubahan culture di sisi bisnis digital dan berbagi informasi, juga berbagi data base, ujungnya bicara data. Karena begitu ada komunitas kumpulan ekosistem mapan, di akan punya kelebihan,” papar dia.

Perkembangan penggunaan internet di Indonesia
Perkembangan penggunaan internet di Indonesia

Ebeneser memaparkan, perseroan memiliki strategi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek dari sisi pinjaman BRI Agro telah meluncurkan digital lounge, sedangkan dari sisi simpanan sedang dibangun aplikasi pembukaan rekening online tanpa perlu datang ke kantor cabang.

Terkait hal tersebut, perseroan masih mengembangkan dengan mitigasi risiko dan terukur yang tidak lama lagi akan diluncurkan.

Sementara itu, pelayanan transaksi mobile banking memberikan banyak fitur sedang dilengkapi, contohnya adalah mengkombinasikan QR Code yang menyatu dengan super apps. Sehingga, untuk menjadi bank digital Ebeneser belum bisa menyebut dalam waktu dekat.

Dari sisi pinjaman, BRI Agro memiliki Pinang yang sudah full digital, bahkan Pinang diakui sebagai full digital loan pertama yang diluncurkan bank di Indonesia. “Sekarang sisi simpanan kita ingin kembangkan digi saving. Transaksi digital di supper apps sudah ada, hanya fitur diperbanyak,” sambung dia.

Regulasi Bank Digital

Transaksi digital perbankan 2020
Transaksi digital perbankan 2020

Sementara itu, Peraturan OJK (POJK) terkait bank digital akan diterbitkan pada pertengahan tahun ini sebagai payung hukum bagi perbankan yang hendak bertransformasi menjadi bank digital, atau investor yang ingin mendirikan bank digital dari awal.

Rivan Purwantono menilai, OJK sudah mendukung perbankan dengan inisiatif menerbitkan POJK mengenai bank digital di tengah maraknya bank yang akan bertransformasi menjadi bank digital. Namun, pihaknya juga menilai regulator terlalu memberikan kebebasan bagi fintech karena tidak diatur secara rigid seperti bank.

“Tapi sekarang bank dikasih keleluasaan masuk ke digital, ini sudah memenuhi semua. Tinggal bagaimana memperkuat kolaborasi, jadi regulasi sudah cukup,” ujar Rivan.

Adapun Ebeneser Girsang menyambut baik regulasi yang akan diterbitkan untuk bank digital. Industri perbankan adalah lembaga keuangan dengan peraturan yang sangat rigid, dengan adanya aturan bank digital yang mendukung kreativitas menjadi hal yang menarik.

“Saya pikir yang disampaikan Pak Anung sudah pas, kreativitas diberi tapi OJK memberikan guidance, ini hal yang diperhatikan. Banking ini kan highly regulated, jadi tetap menjaga kehati-hatian, tapi tidak menutup kreativitas,” kata dia.

Perkembangan penggunaan smartphone di Indonesia
Perkembangan penggunaan smartphone di Indonesia

Ebeneser menambahkan, pihaknya meletakkan prioritas pada ekosistem agribisnis secara umum, seperti pertanian, peternakan. Menurut dia, ekosistem agribisnis belum banyak terjamah digitalisasi.

“Ekosistem pertanian ini sedang berproses, kita bisa berhubungan dengan kelompok tani, bisa kita link dengan pemasok sarana produksi, dan petani yang dibiayai diamankan oleh of f taker,” tambah Ebeneser.

Hal tersebut tentunya akan menjadi satu kesatuan dan jangka panjang. Selain itu, jika petani diberi kredit, tidak langsung diberi cash, tapi bisa juga dikondisikan dengan platform berupa barang.

Dari produk simpanan, Ebeneser mengharapkan komunitas pertanian bisa digarap transaksinya melalui digi saving, sehingga didapatkan satu kesatuan yang utuh.

“Sehingga bisa dapat dana murah, salurkan kredit sumbernya dana murah, jadi efisien dan tercipta itu yang kita harapkan ekosistemnya. Pada periode tertentu diharapkan petani bisa self service, value chain, dan transaksi tidak perlu cash,” urai Ebeneser.

Lebih lanjut, Rivan mengakui bahwa koperasi dan perdagangan belum banyak yang didukung oleh digitalisasi. Padahal, koperasi memiliki peranan penting sebagai lembaga keuangan untuk meningkatkan inklusi keuangan.

“Jangankan BPR, koperasi juga dibutuhkan, perdagangan UMKM juga dibutuhkan. Kendalanya itu klasik, pasti dibilang tidak bankable, padahal kalau semua digital sudah tidak ada isu, karena transaksi sudah ada record, ini market bagus perlu edukasi agarmembantu perekonomian,” tegas Rivan. ***

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN