Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

ATURAN RESTRUKTURISASI KREDIT AKAN DIPERPANJANG

Bank Mulai Ekspansif, Likuiditas Aman

Selasa, 14 Juli 2020 | 21:56 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, industri perbankan pada semester kedua mulai ekspansi kredit dan lebih optimistis dalam menyusun revisi rencana bisnis bank (RBB) tahun ini untuk mencapai pertumbuhan kinerja yang positif. Selain itu, kondisi perbankan relative tahan banting (resilient), yang tercermin pada solidnya permodalan, likuiditas, dan risiko kredit.

Sementara itu, perbankan meminta OJK untuk memperpanjang Peraturan OJK (POJK) No 11 Tahun 2020 tentang Restrukturisasi Kredit selama setahun, dari semula Maret 2021 menjadi Maret 2022. OJK mempertimbangkan perpanjangan POJK 11, karena diyakini dapat memberikan keyakinan kepada perbankan maupun industri keuangan lainnya supaya bisa memiliki keleluasaan dalam menjalankan fungsi intermediasi.

Demikian terungkap dalam konferensi pers virtual tentang Perkembangan Stimulus Perbankan di Jakarta, Senin (13/7/2020). Acara ini menghadirkan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo, Ketua Umum Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso, dan Ketua Umum Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia(Asbisindo) Toni EB Subari.

Kondisi perbankan yang tahan banting (resilient) tercermin pada beberapa indikator perbankan sep- erti likuiditas, permodalan, dan risiko kredit. Menurut Wimboh Santoso, likuiditas industri perbankan masih memadai, ditandai pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8,87% (yoy) per Mei, naik dari April sebesar 8,08% (yoy).

“Selain itu, rasio tingkat likuiditas dalam tren meningkat, AL/NCD 125,5% AL/DPK 26,83%. Excess reserve sebesar Rp 1.125 triliun per 17 Juni, ini naik dari posisi Mei sebesar Rp 995 triliun, ini sejalan dengan pelonggaran likuiditas,” ungkap Wimboh.

Wimboh Santoso. Foto: IST
Wimboh Santoso. Foto: IST

Wimboh mengatakan, setelah diskusi dengan sejumlah pimpinan perbankan bank, disepakati untuk berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi melalui subsidi bunga untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penjaminan kredit modal kerja, serta penempatan dana pemerintah sebesar Rp 30 triliun ke bank persero.

“Ini merupakan pemicu untuk perbankan bisa mempunyai kemampuan lebih dalam mendorong pertumbuhan kredit. Suku bunga juga didorong menurun, karena deposito yang ditempatkan pemerintah di bawah bunga pasar,” terang Wimboh.

Kemudian, kata Wimboh, para bankir juga mengharapkan supaya belanja pemerintah didorong untukmeningkatkan permintaan domestik, sehingga kredit perbankan bisa tumbuh kembali.

Di sisi lain, OJK pun mendorong BUMN menjadi katalis penggerak ekonomi nasional, serta mendorong percepatan digitalisasi perbankan Spending pemerintah ini merupakan mesin untuk domestic demand dan BUMN proyek-proyeknya diharapkan jadi pemicu demand sehingga kredit bisa tumbuh sejalan aktivitas ekonomi dan stimulus pemerintah,” tegas Wimboh.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana

Heru Kristiyana menambahkan, OJK telah mengadakan pertemuan dengan 15 direktur utama bank-bank besar dan asosiasi perbankan untuk mendorong peran perbankan dalam meningkatkan pertumbuhan kredit serta menggerakkan sektor riil.

“Pertama, mereka sepakat membuat rencana RBB yang lebih optimistis, karena mereka memandang intermediasi akan lebih baik lagi akhir tahun ini dan tahun depan,” jelas Heru.

Dia juga menyatakan bahwa saat ini kondisi perbankan masih solid dengan tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai. Risiko kredit menunjukkan tren peningkatan namun masih dalam batas aman.

“Kami lihat perbankan masih resiliet, dari statistik risiko kredit, permodalan, dan dari sisi likuiditas,” ungkap Heru.

Kinerka bank umum 2012-2020
Kinerka bank umum 2012-2020

Per Mei 2020, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan meningkat ke level 22,16% dari April 2020 yang berada di posisi 22,08%. Kemudian, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross naik ke 3,01% dari bulan sebelumnya 2,89%.

Pertumbuhan kredit per Mei sebesar 3,05% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dari bulan April yang tumbuh 5,73% (yoy).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN