Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Sales and Distribution Bank Syariah Indonesia Anton Sukarna

Direktur Sales and Distribution Bank Syariah Indonesia Anton Sukarna

BSI Punya Potensi Besar Garap Ekosistem Industri Halal

Selasa, 24 Mei 2022 | 22:23 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memiliki potensi besar untuk menangkap peluang di ekosistem industri halal Indonesia. Dukungan dan kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk perusahaan bisa optimal menggarap ekosistem tersebut.

Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menyampaikan, pada 2021, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri halal karena negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, sebanyak 229,0 juta penduduk adalah muslim atau mencakup 87,2% dari total sekitar 270 juta total penduduk. Disusul Pakistan dengan 200,4 juta penduduk muslim dan India sebanyak 195,0 juta penduduk muslim.

Apalagi berdasarkan temuan, sekitar 45% dari jumlah muslim di Indonesia memiliki preferensi syariah yang cukup kuat. Preferensi nasabah individu menempatkan prinsip syariah pada peringkat kedua, setelah reputasi bank. Belum lagi, industri halal Indonesia pun menawarkan peluang bisnis yang signifikan untuk BSI.

Baca Juga: Kinerja Tren Tumbuh, Intip Target Harga Saham BSI (BRIS)

Jika dirinci, industri makanan halal memiliki potensi Rp 2.422 triliun, pakaian halal Rp 294 triliun, perkembangan media halal Rp 140 triliun, dan wisata halal Rp 154 triliun. Sedangkan untuk industri kesehatan Rp 70 triliun, bidang kosmetik Rp 56 triliun, haji dan umrah Rp 56 triliun, serta bisnis syariah yang di antaranya adalah investasi memiliki potensi Rp 1.803 triliun.

"Untuk semua jenis usaha ini, Bank Syariah Indonesia berusaha untuk menyalurkan pembiayaan dan bagaimana kita mengkolaborasikan antara UKM, juga berusaha untuk membuat mereka menjadi besar dan lebih besar. Selain itu, kita menjalin kerjasama dengan semua pemangku kepentingan industri halal. Saya pikir kita terus mencari cara bagaimana BSI membuat industri halal Indonesia menjadi nomor satu di dunia," beber Anton dalam Halal Industry Event, Selasa (24/5/2022).

Kolaborasi

BSI juga membangun berbagai kolaborasi untuk menciptakan industri halal di Indonesia yang disebut islamic ecosystem. Dimulai kerja sama dengan lebih dari 267 ribu masjid dan 324 mushola, sektor keuangan syariah (BMT, BPRS, BUS, UUS, fintech, dan asuransi), serta berbagai lembaga pendidikan dan pondok pesantren.

Kemudian juga menjalin kerja sama dengan organisasi seperti Muhammadiyah yang memiliki 50 juta anggota dan Nahdlatul Ulama dengan 90 juta anggota, termasuk ekosistemnya seperti pesantren dan perusahaan terkait. "Ini punya potensi yang baik untuk perekonomian, baik itu terkait produk konsumtif maupun produktif," imbuh Anton.

Selanjutnya, kerja sama menyangkut haji dan umrah yang dijalin bersama 906 biro perjalanan dan 1.559 KBIH, berikut peluang melayani 1 juta jamaah umrah/tahun dan 220 ribu jamaah haji/tahun. Peluang besar juga datang dari penghimpunan dana Ziswaf, yang diantaranya mendorong potensi zakat Rp 327 triliun dari realisasi saat ini Rp 71,4 triliun, serta potensi wakaf yang Rp 180 triliun yang baru terealisasi Rp 820 miliar.

Baca Juga: BSI (BRIS) Makin Ekspansif di Timur Tengah

Terakhir adalah berbagai kebutuhan dan layanan finansial di sekitar 500 rumah sakit islam. Serta tentunya potensi dari 7.536 produk halal yang sebagian besarnya yakni 19.071 produk masih dalam proses sertifikasi halal.

Di sisi lain, BSI juga disorot untuk mengoptimalisasi pelayanan dan peluang bisnis di wilayah Aceh. Anton menerangkan, dalam hal ini pihaknya bahkan memiliki project management office (PMO) khusus agar dapat memberi perhatian dan dukungan lebih untuk wilayah Aceh.

"BSI itu didukung oleh sekitar 2.000 kantor cabang dan mencakup 30% mesin ATM di Aceh. Saya pikir sudah cukup untuk membuat pelayanan lebih baik di Aceh dalam situasi saat ini," kata dia.

Terlepas dari hal itu, BSI juga diharapkan bisa menyalurkan KUR dengan porsi yang mumpuni di wilayah tersebut. Anton bilang, KUR menjadi suatu yang tidak sepenuhnya dalam kendali bank. Tapi pihaknya berkomitmen penuh terhadap menyalurkan KUR di Aceh.

"Kita sendiri juga berharap punya porsi yang lebih besar terhadap KUR. Saya berharap 2023 porsi yang lebih besar didapat BSI terkait KUR dan bisa memberikan porsi lebih ke wilayah Aceh. Karena seperti yang diketahui di Aceh, satu-satunya penyalur KUR adalah BSI. Kita akan terus memperbaiki dan memberi pelayanan yang lebih baik untuk wilayah Aceh," jelas dia.

Adapun hingga kuartal I-2022, BSI mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 177,51 triliun atau tumbuh 11,59% (yoy). Dengan komposisi yakni pembiayaan konsumer yang tumbuh 20,73%, pembiayaan mikro tumbuh 22,42% dan gadai emas tumbuh 8,96%. Capaian tersebut didukung rasio non performing financing (NPF) net sebesar 0,90%.

Pada saat sama, BSI telah menyalurkan pembiayaan keuangan berkelanjutan sebesar Rp 48,25 triliun atau berkontribusi sekitar 27% dari total portofolio pembiayaan. Sementara itu, untuk perolehan dana pihak ketiga mencapai Rp 238,53 triliun tumbuh sekitar 16,07% (yoy).


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN