Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bunga Kredit Perbankan Lanjutkan Tren Penurunan pada Maret

Senin, 26 April 2021 | 04:30 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) dalam Analisis Uang Beredar Maret 2021 mencatat tren penurunan suku bunga kredit perbankan berlanjut. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Maret 2021 tercatat sebesar 9,58%, turun 7 basis poin (Bps) dibandingkan bulan Februari 2021.  

Penurunan suku bunga kredit belum merata di semua kelompok bank. Oleh karena itu, BI terus mendorong perbankan memangkas suku bunga dasar kredit (SBDK) dan suku bunga kreditnya kepada nasabah, meskipun saat ini sudah berada di posisi single digit kecuali segmen mikro.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menjelaskan, perseroan telah menurunkan SBDK sejalan dengan penurunan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (7DRRR).

Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk
Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk

"SBDK saat ini 7,5% untuk ritel. Namun tentu saja ada beberapa skema yang nasabah bisa ambil tergantung kebutuhan, kami ikuti harga pasar dan juga berhubungan dengan bunga BI," jelas Lani dihubungi Investor Daily, akhir pekan lalu.

Menurut dia, ke depan masih ada ruang penurunan suku bunga, walaupun SBDK khususnya segmen ritell sudah cukup murah dan bisa bersaing dengan bank lain.

"Bunga kredit ritel sudah turun banyak dalam 2 tahun terakhir, sehubungan dengan turunnya BI rate juga. Dan menurut kami, saat ini sudah cukup murah," imbuh Lani.

Meski telah memangkas SBDK ritel hingga menjadi cukup rendah saat ini, perbankan tak terkecuali CIMB Niaga memang belum mendapatkan permintaan kredit yang tinggi seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

Dengan demikian, suku bunga kredit yang diturunkan bukan satu-satunya faktor peningkatan pertumbuhan kredit. "Tapi memang daya beli masyarakat yang masih terganggu karena impact pandemi Covid-19," tutur Lani.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, hingga Februari 2021 SBDk perbankan sudah turun 171 bps. Penurunan didorong oleh kelompok bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang turun sebesar 266 bps secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar 8,70%.

Penurunan SBDK secara industri terjadi pada seluruh komponen, yaitu pada Harga Pokok Dasar Kredit (HPDK) sebesar 120 bps (yoy), diikuti overhead cost (OHC) yang turun 31 bps (yoy) dan margin keuntungan menurun 21 bps (yoy). Perry menyebut, margin keuntungan kelompok bank BUMN dan KCBA mengalami penurunan sebesar 88 bps dan 34 bps (yoy).

"Sementara margin keuntungan BUSN dan BPD masih menunjukkan peningkatan sebesar 48 bps dan 2 bps (yoy) pada bulan Februari 2021. Ini yang kami lakukan mengajak dan dorong bank turunkan bunga kredit," urai Perry.

Bunga Deposito
Di sisi lain, BI juga mencatat rata-rata suku bunga simpanan berjangka atau deposito mengalami penurunan pada seluruh tenor. Untuk deposito bertenor 1 bulan menurun dari 388% menjadi 3,72%, deposito 3 bulan turun dari 4,16% menjadi 3,96%.

Untuk deposito berjangka waktu 6 bulan juga sudah turun dari 5,39% menjadi 4,50%, sedangkan tenor 12 bulan turun menjadi 5,08% dari 5,39%. Serta, tenor 24 bulan turun dari 6,04% pada Februari menjadi 5,96% pada Maret 2021.

Kendati suku bunga deposito mengalami penurunan, namun penghimpunan deposito per Maret masih mengalami kenaikan dari tumbuh 4,2% pada Februari menjadi meningkat sebesar 5,1% (yoy) menjadi Rp 2.685,1 triliun pada Maret.

Sedangkan, pertumbuhan penghimpunan giro dan tabungan menurun, giro tercatat sebesar Rp 1.702,3 triliun tumbuh 15,8% (yoy), melambat dari bulan sebelumnya yang naik 20,7% (yoy). Kemudian, tabungan juga melambat dari 11,2% (yoy) pada Februari menjadi tumbuh 10,2% (yoy) pada Maret dengan nilai Rp 2.151,8 triliun. (nid)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN