Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK. Foto: ojk.go.id

OJK. Foto: ojk.go.id

Capital Outflow di Pasar Saham dan SBN Tembus Rp 169,22 Triliun

Kamis, 24 September 2020 | 10:41 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, arus modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 169,22 triliun sejak awal 2020 hingga September 2020 (year to date/ytd). Keluarnya modal asing ini disebabkan oleh ketidakpastian di sektor keuangan.

Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, ketidakpastian di pasar keuangan akhir-akhir ini meningkat karena didorong oleh berbagai faktor.

"Penyebaran Covid-19 di beberapa negara yang kembali meningkat serta tensi geopolitik yang meningkat akibat memanasnya kembali perang dagang AS-Tiongkok dan ketidakpastian Brexit mendorong ketidakpastian di pasar keuangan," ujar dia dalam keterangan tertulis pada Rabu, (23/9).

Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV
Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV

Meningkatnya ketidakpastian tersebut mendorong volatilitas di pasar keuangan global dan domestik selama September 2020. Hingga 18 September 2020, indeks harga saham gabungan (IHSG) menurun sebesar 3,42% month to date (mtd) dan yield rata-rata SBN naik sebesar 4,9 bps mtd.
 
Melemahnya pasar saham dan SBN tersebut dikontribusi pula oleh arus modal asing yang keluar sebesar Rp 169,22 triliun sejak awal tahun 2020 hingga September 2020. Investor asing tercatat melakukan net sell di pasar saham dan SBN masing-masing sebesar Rp 39,67 triliun dan Rp 129,55 triliun secara ytd.

Anto mengungkapkan, OJK telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, baik di pasar saham dan surat utang. Kebijakan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sehingga mampu meningkatkan capital inflows dan menahan capital outflows.

Ke depan, OJK akan memantau dan melakukan asesmen terhadap perkembangan pandemi Covid-19 serta meningkatnya tensi geopolitik. Dalam situasi dan kondisi saat ini, OJK senantiasa mempersiapkan kebijakan preemptive dan forward looking serta mengeluarkan kebijakan tersebut secara tepat waktu.

"Tak kalah pentingnya, OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan seluruh otoritas terkait dan segenap pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan," papar dia.

Penawaran Umum
Sementara itu, hingga 22 September 2020, OJK mencatat 132 penawaran umum di pasar modal dengan penghimpunan dana sebesar Rp 84,9 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 45 diantaranya dilakukan oleh emiten baru. Saat ini, masih terdapat 39 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan nilai penawaran mencapai Rp 17,34 triliun.

Di sisi lain,Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjaring minat perusahaan untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan penawaran surat utang. Saat ini, sebanyak enam calon emiten saham masuk dalam pipeline BEI dan sebanyak lima perusahaan menyiapkan penerbitan obligasi ataupun sukuk.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pada pipeline IPO terbaru, teradap dua perusahaan dari sektor properti, real estat dan kontruksi bangunan, dua perusaahan dari sektor perdagangan, jasa dan investasi, satu perusahaan dari sektor aneka industri, dan satu perusahaan dari sektor pertanian.

Selain itu, terdapat lima perusahaan yang akan menggelar tujuh aksi emisi obligasi ataupun sukuk. BEI belum menyebut detail perusahaan beserta target penghimpunan dana.

Otoritas Jasa Keuanan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO), kata Nyoman, senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kondisi terkini serta berusaha memberikan berbagai kemudahan bagi bagi calon emiten ataupun investor. Saat ini, BEI terbuka bagi perusahaan skala aset kecil dan menengah, sehingga nilai emisi akan menjadi beragam sesuai dengan ukuran dan kebutuhan perusahaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN