Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Kebijakan Digital dan SDM Dedy Permadi. (IST)

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Kebijakan Digital dan SDM Dedy Permadi. (IST)

Dedy Permadi: Layanan Keuangan Digital Masih Terus Tumbuh

Kamis, 7 April 2022 | 17:26 WIB
Zsazya Senorita (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Kebijakan Digital dan SDM Dedy Permadi menyampaikan, layanan keuangan digital di Tanah Air masih berpeluang tumbuh. Apalagi, masih ada 50% populasi enam negara-negara Asean yang belum memiliki rekening bank (unbanked population).

“Serta, ada 24% populasi masih belum memiliki akses optimal ke layanan perbankan modern (underbanked population),” ujar Dedy, dalam webinar kerja sama Majalah INVESTOR dengan Julo bertema “Akselerasi Inklusi Keuangan Digital untuk Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional”, Kamis (07/04/2022).

Keenam negara-negara Asean yang dimaksud meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Baca juga: Heru Sutadi: Target Inklusi Keuangan 90% Tahun 2024 Sangat Menantang

Dia melanjutkan, jasa keuangan digital di Indonesia termanisfestasi dalam beragam bentuk layanan. Contoh dalam aspek pembiayaan digital, ada QRIS yang penggunanya hingga akhir Februari 2022 telah mencapai 15,99 juta, dengan nilai transaksi Rp 4,51 triliun, atau naik 305% year on year (YoY).

“Selain itu, transaksi uang elektronik per Februari 2022 telah mencapai Rp 27,1 triliun, atau naik 41,35% dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan utilisasi layanan keuangan digital yang makin bergeliat di Indonesia,” paparnya.

Dedy pun menilai, perkembangan tren adopsi layanan keuangan digital tidak hanya bermanfaat dari aspek efisiensi, seperti mengeliminasi cost of cash. Hal tersebut juga membawa semangat transformatif dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Saat ini, pelaku UMKM di Tanah Air dapat memanfaatkan QRIS dengan membawa pengalaman penggunaan yang andal bagi pembayaran digital, mulai dari toko kelontong hingga pedagang keliling. Manfaat hal inilah, pemerintah berharap ekonomi menggeliat dimulai dari inovasi digital.

“Inovasi digital harus menjadi enabler bagi hadirnya efek berganda yang bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, manfaat lain yang dibawa jasa keuangan digital, sebut dia, adalah manifestasi dalam layanan fintech lending yang pada Februari 2022 telah menjangkau 12,7 juta masyarakat dengan jumlah penyaluran pinjaman mencapai Rp 16,4 triliun.

Pada 2020, Indonesia pun digadang-gadang telah menjadi negara yang berhasil menarik investasi fintech terbesar kedua di antara enam negara Asean, yakni senilai US$ 178,48 juta atau setara 20% total investasi fintech di kawasan ini.

Sebagai salah satu inisiatif dalam Peta Jalan Indonesia Digital 2021-2024, Kemenkominfo, melalui berbagai langkah akseleratif dan transformatif, berniat mengembangkan Indonesia menjadi fintech hub, atau pusat teknologi keuangan digital di Asia Tenggara.

“Tentunya, inisiatif ini memerlukan sinergi dan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan yang ada,” tandas Dedy.

Dukungan Kemenkominfo

Untuk mendukung inisiatif tersebut, Kemenkominfo juga turut memastikan ekosistem dan praktik tata laksana sektor jasa keuangan digital yang aman dan dipercaya masyarakat.

Salah satunya, melalui penyelenggaraan pengawasan bersinergi bersama OJK dan Polri. Pasalnya, perkembangan industri fintech tidak terlepas dari berbagai ancaman, seperti manipulasi informasi, peretasan informasi, dan sebagainya.

Pada 2021, Kemenkominfo bersama OJK pun telah melakukan pemutusan akses terhadap 2.411 konten fintech ilegal di berbagai platform. “Sekali lagi, Kami menegaskan, pemutusan akses bukanlah satu-satunya solusi,” jelas dia.

Baca juga: Dorong Transaksi Digital, OVO Hadirkan Layanan Keuangan Digital Terlengkap

Pemerintah memandang bahwa literasi keuangan digital juga menjadi kunci tumbuhnya sektor tersebut. Karena itu, Kemkominfo menggelar literasi digital kepada sekitar 12,3 juta masyarakat Indonesia sepanjang 2021.

Sementara itu, tahun ini, pihaknya memulai dengan 5,5 juta orang untuk mendapatkan literasi digital, termasuk untuk literasi keuangan digital.

Kemkominfo pun berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya akseleratif, termasuk di dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang dipercepat 10 tahun dari rencana awal.

“Kami yakin, dengan dukungan semua pihak, geliat sektor ini (keuangan digital, Red) akan semakin bertumbuh ke depannya dengan lebih aman dan inklusif lagi,” pungkas Dedy.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN