Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi

Dikuasai Mandiri, Bank Syariah Hasil Merger Perluas Segmen Bisnis

Kamis, 22 Oktober 2020 | 04:25 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - Bank hasil penggabungan dari PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah akan dikuasai oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kepemilikan saham 51,2%. Nantinya bank syariah tersebut akan menggarap semua segmen, mulai dari ritel, korporasi dan wholesale, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Adapun, komposisi pemegang saham pada bank hasil penggabungan selain Mandiri yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2% dan publik 4,4%. Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan dan tahapan-tahapan setelah ringkasan rencana merger tersebut akan terus dikawal hingga tuntasnya integrasi ketiga bank peserta penggabungan.

Ketua Tim Project Management Office (PMO) yang saat ini ditunjuk sebagai Direktur Utama Mandiri Syariah Hery Gunardi mengatakan, bank hasil penggabungan akan memiliki modal dan aset yang kuat dari segi finansial, sumber daya manusia, sistem teknologi informasi, maupun produk dan layanan keuangan untuk dapat memenuhi kebutuhan nasabah sesuai dengan prinsip syariah.

"Bank hasil penggabungan akan memiliki layanan keuangan syariah yang lengkap untuk beragam kebutuhan finansial untuk semua segmen nasabah. Mulai dari UMKM, affluent middle-class, investor, wholesale dan korporasi," kata Hery, Rabu (21/10).

Di segmen ritel, bank hasil penggabungan akan memiliki ragam solusi keuangan dalam ekosistem Islami seperti terkait keperluan ibadah haji dan umrah, Ziswaf, pendidikan, kesehatan, remitansi internasional, dan layanan dan solusi keuangan lainnya yang berlandaskan prinsip syariah yang didukung oleh kualitas digital banking dan layanan kelas dunia.

Untuk segmen korporasi dan wholesale, bank hasil merger akan memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan syariah.

Selain itu, bank hasil penggabungan juga diyakini akan dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang berskala besar dan sejalan dengan rencana pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Di samping itu, bank hasil merger akan menyasar investor global lewat produk-produk syariah yang kompetitif dan inovatif seperti global sukuk. Indonesia sebagai negara dengan komposisi penduduk muslim yang cukup tinggi tapi tingkat penetrasi aset syariah dibandingkan dengan aset perbankan secara umum pada tahun 2019 masih tergolong rendah, di bawah 8%.

Jika dibandingkan dengan penetrasi aset syariah pada tahun 2019 di negara-negara dengan jumlah penduduk muslim yang tinggi seperti Malaysia, Kuwait, Bahrain, Brunei, dan Saudi Arabia yang rata-rata diatas 20% dan bahkan ada yang mencapai diatas 50%, penetrasi di Indonesia tergolong rendah.

"Kemampuan bank syariah di Indonesia, khususnya bank peserta penggabungan pada saat ini untuk mendapatkan pendanaan melalui sukuk juga terbatas," ucap Hery.

Di mana penerbitan sukuk dibandingkan surat utang konvensional di Malaysia, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab rata-rata diatas 20% per April 2020, sedangkan penerbitan sukuk dibandingkan surat utang konvensional di Indonesia masih dibawah 5% per April 2020.

Terakhir, di segmen UMKM, bank tersebut juga akan memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan pemerintah Indonesia.

Total aset dari bank hasil penggabungan akan mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun, dengan modal inti sebesar Rp 20,4 triliun masih dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III.

Dengan demikian, bank hasil penggabungan akan masuk ke dalam top 10 bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan. Bank hasil penggabungan akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS.

"Integrasi ini lebih dari sekadar corporate action. Mengawal dan membesarkan bank syariah terbesar di negeri ini sesungguhnya adalah amanah yang besar. Saya, mewakili PMO, diamanahkan oleh Pemerintah melalui Kementerian BUMN untuk terus mengawal tidak hanya sampai legal merger, tapi juga memastikan hadirnya bank syariah nasional terbesar ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia," urai Hery.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (kiri), Direktur Utama BRI Syariah Ngatari (kedua kiri), dan Direktur Utama Bank Mandiri Syariah Toni EB Subari (kanan) disaksikan oleh Ketua Project Management Office sekaligus Wakil Direktur Bank Mandiri Hery Gunardi (kedua kanan) dalam penandatanganan Rancangan Penggabungan Bank Syariah di Jakarta, Selasa (20/10)
Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (kiri), Direktur Utama BRI Syariah Ngatari (kedua kiri), dan Direktur Utama Bank Mandiri Syariah Toni EB Subari (kanan) disaksikan oleh Ketua Project Management Office sekaligus Wakil Direktur Bank Mandiri Hery Gunardi (kedua kanan) dalam penandatanganan Rancangan Penggabungan Bank Syariah di Jakarta, Selasa (20/10)

Sementara itu, Direktur Utama BRI Syariah Ngatari menambahkan,  masih ada sejumlah tahapan sampai tuntasnya penggabungan tiga bank syariah pada Februari 2020. "Masih ada serangkaian proses dan milestone yang harus dilalui dan kami pastikan semuanya dilakukan dengan saksama, sesuai dengan regulasi, dan mengedepankan karyawan, nasabah, mitra usaha, dan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat. Kami juga memastikan kepada para nasabah bahwa layanan tetap berjalan normal dan optimal," terang Ngatari.

Dirut BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo diskusi Zooming with Primus - Ekonomi Syariah Menggeliat di BeritaSatuTV Live, Kamis (3/9/2020). Sumber: BSTV
Dirut BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo.  Sumber: BSTV

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, strategi dan rencana bisnis dari bank hasil penggabungan sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan ekosistem halal dan mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang luar biasa besar dan belum dioptimalisasi sepenuhnya.

"Oleh karena itu, diharapkan bank hasil penggabungan akan memiliki modal, aset, sumber daya manusia, sistem teknologi, dan produk-produk yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan nasabah sesuai dengan prinsip syariah. Hal ini diharapkan akan dapat meningkatkan penetrasi aset syariah sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan syariah global," ucap Firman.

Toni EB Subari, Dirut Bank Syariah Mandiri & Ketum Asbisindo dalam diskusi Zooming with Primus - Ekonomi Syariah Menggeliat di BeritaSatuTV Live, Kamis (3/9/2020). Sumber: BSTV
Toni EB Subari, Dirut Bank Syariah Mandiri & Ketum Asbisindo. . Sumber: BSTV

Sementara itu, Toni E.B. Subari yang sebelumnya menjabat Direktur Utama Mandiri Syariah dan saat ini ditunjuk sebagai Direktur Operasional Bank Mandiri menjelaskan, merger ini menggabungkan kekuatan dari tiga bank syariah milik BUMN sehingga bank hasil merger akan menghadirkan layanan dan solusi keuangan syariah yang lengkap, modern dan inovatif dalam satu atap untuk berbagai segmen nasabah dengan berbagai kebutuhan.

Ditunjang oleh lebih dari 1.200 cabang dan 1.700 jaringan ATM, serta didukung oleh 20.000 orang karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia, Bank Hasil Penggabungan akan mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah.

"Dengan core competence masing-masing, akan saling melengkapi, saling menguatkan. Jadi bank hasil penggabungan nantinya akan memiliki layanan berbasis syariah yang komprehensif dalam satu atap bagi semua segmen nasabah, mulai dari UMKM, ritel, komersial, wholesale syariah, sampai korporasi, baik untuk nasabah nasional maupun investor global," jelas Toni.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN