Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi perumahan. (Foto: Dok/Beritasatu.com)

Ilustrasi perumahan. (Foto: Dok/Beritasatu.com)

Dorong Akses Pembiayaan Perumahan, Industri Butuh Bank Syariah Besar

Senin, 25 Juli 2022 | 14:37 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Untuk mendorong akses pembiayaan perumahan, industri dinilai membutuhkan bank syariah besar dengan kemampuan penyaluran pinjaman yang mumpuni sehingga pasar tergarap optimal. Terlebih KPR syariah memiliki keunggulan cicilan yang tetap.   

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyatakan, bank syariah yang besar dengan kemampuan penyaluran pembiayaan yang unggul akan mampu mendorong akses pembiayaan perumahan lebih jauh dan semakin optimal menggarap pasar tersebut.

Oleh karena itu, Toto menyambut positif rencana PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengakuisisi Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN Syariah). “Dari sisi (UUS) BTN Syariah mereka bisa mendapatkan dukungan pendanaan cukup besar dari BSI yang masuk kategori bank BUKU III. Demikian pula branding BSI sebagai bank syariah besar milik negara bisa meningkatkan branding BTN Syariah kepada calon potensial  customer,” ungkap Toto dalam keterangan tertulis, Senin (25/7).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan KPR syariah berkontribusi sebesar 15,6% per Februari 2022. Angka ini naik 220 basis poin (bps) bila dibandingkan dengan kondisi pada 2017 yakni sekitar 13,4%.

Baca juga: KPR Syariah Tahan Banting di Tengah Krisis

Data itu pun sejalan dengan hasil survei Consumer Sentiment Study H1 2022 yang dirilis Rumah.com, di mana sebanyak 27% responden lebih tertarik menggunakan pembiayaan skema syariah, sedangkan peminat KPR konvensional hanya 21%.

Selain itu dalam sebuah riset dari Nielsen Indonesia, bank syariah berpotensi menguasai 43% dari keseluruhan pasar KPR. Hal ini dengan catatan, bank Syariah dapat merebut 20% pasar yang masih belum dapat menentukan akan menggunakan KPR konvesional atau syariah.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menegaskan akuisisi itu akan segara dilaksanakan. Integrasi keduanya untuk memperkuat ekosistem layanan perbankan syariah di Tanah Air dan amanat Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 59 Tahun 2020 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemisahan UUS.

Dengan demikian, Tiko sapaan akrab Kartika menekankan, ekonomi syariah menjadi salah satu faktor utama dan bukan sekadar alternatif pemacu pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam memperkuat perbankan dan eskosistem ekonomi syariah, menurutnya konsolidasi sangatlah penting. Sehingga sebagai alat negara, BSI dan UUS BTN tidak berjalan sendiri-sendiri namun saling menguatkan.

Baca juga: Suku Bunga Tren Naik, KPR Syariah Dinilai Lebih Menarik

Sebagaimana diketahui, BSI merupakan bank syariah terbesar di Tanah Air hasil penggabungan Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah. Peleburan ketiga anak usaha bank BUMN ini menghasilkan bank syariah dengan aset Rp 274,69 triliun per Mei 2022. Di sisi lain, keahlian khusus BTN Syariah dalam menggarap pasar properti akan dapat optimal bila mendapatkan pendanaan yang cukup dari BSI.

Selain itu, OJK juga mencatat pertumbuhan KPR syariah yang selalu berada di atas rata-rata industri. Pada 2020 contohnya, total portofolio KPR terpukul pandemi, sehingga pertumbuhannya melambat menjadi 4,6% secara tahunan (yoy), dari sebelumnya 8,5% (yoy).

Pada periode yang sama KPR syariah tumbuh 11,4% yoy, sedangkan KPR konvensional 3,5% yoy. Per Februari 2022, jurang pertumbuhan KPR syariah dan KPR konvensional hampir menipis, yakni 11,0% yoy dan 10,1% yoy.

Senada dengan Toto, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyatakan dari segi industri rencana terkait BSI mengakusisi BTN Syariah akan memberikan ruang lebih besar terhadap akses pembiayaan perumahan. Akan tetapi Ali menggarisbawahi bahwa mengakuisisi BTN Syariah saja tidak cukup. BSI harus bermitra dengan lebih banyak pengembang.

“Kondisi di lapangan itu ada missmatch, konsumen mau syariah, tapi pengembang tidak mau,” imbuh dia.

Editor : Nida Sahara (niidassahara@gmail.com )

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com