Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero), Sunarso dalam webinar Prospek BUMN 2021 sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund, Kamis (4/3/2021).

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero), Sunarso dalam webinar Prospek BUMN 2021 sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund, Kamis (4/3/2021).

Dorong Pertumbuhan Kredit, Masyarakat Perlu Diberi Lapangan Kerja

Kamis, 4 Maret 2021 | 21:29 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero), Sunarso mengungkapkan, untuk meningkatkan permintaan kredit, berbagai kebijakan telah diambil oleh para stakeholder. Antara lain oleh Bank Indonesia (BI) yang telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,5%. Namun menurut Sunarso, upaya mendorong peningkatan kredit tidak cukup hanya dengan penurunan suku bunga acuan.

Sunarso memberi contoh, saat bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebelum 2015 dipatok 22%, pertumbuhan kredit nasional selalu mencapai double digit. Namun setelah tahun 2015, ketika bunga KUR diturunkan menjadi 15% bahkan disubsidi pemerintah dan nasabah hanya perlu membayar 7%, pertumbuhan kredit BRI justru tak sampai double digit, hanya sekali bisa tercapai di tahun 2018.

"Kalau begitu, boleh dong disimpulkan ternyata lowering interest rate tidak serta-merta mendorong pertumbuhan kredit, atau penurunan suku bunga bukan satu-satunya faktor yang bisa mendobrak pertumbuhan kredit," kata Sunarso dalam webinar “Prospek BUMN sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund”, Kamis (4/3/2021).

Berdasarkan analisa BRI, Sunarso mengatakan yang paling elastis atau mendorong pertumbuhan kredit adalah konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat.

“Kalau begitu, kebijakan apa yang harus didorong untuk menumbuhkan kredit dalam rangka menumbuhkan GDP nasional? Berarti turun suku bunga, iya. Tetapi mendorong daya beli masyarakat dan mendorong belanja masyarakat itu juga menjadi faktor penting,” kata Sunarso.

Sehingga untuk mendorong pertumbuhan kredit, menurutnya diperlukan bauran kebijakan yang komprehensif agar konsumsi dan daya beli masyarakat sebagai faktor penting bisa meningkat.

"Rasanya memang dibutuhkan kebijakan untuk membuat dan melanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Maka kemudian untuk mendorong daya beli dan konsumsi ini, yang perlu didorong adalah bagaimana memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Kalau tidak bisa, syukur bisa memberikan uang langsung, tapi itu tidak mendidik," ujar Sunarso.

Beberapa kebijakan saat ini sudah ditempuh pemerintah untuk mendorong konsumsi masyarakat, seperti memberikan pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil baru, peningkatan loan to value (LTV), penurunan suku bunga acuan, dan berbagai skema kredit UMKM.

"Jadi, bauran kebijakan yang memang diperlukan perlu diorkestrasi untuk dorong pertumbuhan kredit dalam rangka memulihkan ekonomi untuk perekonomian nasional,” ujar Sunarso.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN