Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi keahlian teknologi digital di era Industri 4.0. (Sumber: www.varchev.com)

Ilustrasi keahlian teknologi digital di era Industri 4.0. (Sumber: www.varchev.com)

Fenomena Booming Bank Digital Adalah Keniscayaan

Jumat, 9 April 2021 | 09:48 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Bank digital/neo bank tengah menjadi fenomenal di Tanah Air yang ditandai dengan masuknya sejumlah investor ke bisnis ini. Antara lain duet Patrick Walujo dan Jerry Ng mengakuisisi Bank Artos (kini Bank Jago), taipan Chairul Tanjung membeli Bank Harda, Ant Financial mem-backup Bank Neo Commerce (BBYB) melalui Akulaku Silvrr, dan Shopee mengendalikan Bank Kesejahteraan Ekonomi lalu mengubahnya menjadi Seabank.

Di luar tiga nama itu, santer terdengar Grab dan OVO juga tengah menjajaki akuisisi bank untuk dikonversi menjadi digital. Keduanya tengah berupaya mengimbangi lompatan besar Gojek yang lebih dulu investasi di Bank Jago dan mengejar langkah Shopee di Seabank.

Bank papan atas seperti BCA dan BRI juga tak mau ketinggalan. Mereka bikin sekoci bank digital untuk bersaing di ceruk ini. BCA mengandalkan BCA Digital (Bank Royal) sedangkan BRI menonjolkan BRI Agro.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, fenomena booming bank digital saat ini merupakan keniscayaan. Pasalnya, masa depan semuanya akan digital, mereka yang tidak menyesuaikan akan tertinggal dan kalah bersaing.

“Demikian juga dengan layanan bank harus berubah menuju layanan digital. Semua bank akan menuju layanan digital. Yang tidak melakukan akan kalah bersaing,” kata Piter kepada Investor Daily, Kamis (8/4).

Menurut dia, tren digital bank tersebut akan berdampak positif kepada nasabah. Dengan layanan digital, lanjut dia, maka layanan bank akan lebih baik. Bank akan lebih efisien juga sehingga layanan bank akan lebih murah dan menguntungkan nasabah.

“Dengan layanan digital bank juga dituntut meningkatkan perlindungan nasabah. Ini juga menguntungkan nasabah. Selain itu, efisiensi perbankan lewat digitalisai bisa menekan suku bunga kredit, tetapi memang tidak banyak,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Eksekutif Industri Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengakui, sejumlah bank kecil dan bank besar saat ini memang terlihat memulai transformasi dan beradaptasi untuk menjadi bank digital.

"Saya amati bank besar dan beberapa bank kecil sudah siap untuk melayani digital banking. Bank tersebut bertransformasi dari bank tradisional jadi bank digital," ujar Heru dalam webinar VIP Forum Digital Bank di Jakarta.

Meski demikian, lanjut dia, fenomena tesebut harus diikuti dengan permodalan yang cukup, di mana permodalan merupakan faktor krusial bagi setiap bank yang ingin menjalankan bisnis digital. Dengan modal yang kuat, bank bisa meningkatkan kapasitas teknologi informasi (TI), melakukan kolaborasi, memodernisasi organisasi hingga rekrutmen SDM yang relevan dengan kebutuhan.

“Contohnya Bank Jago. Dari kewajiban modal minimal Rp 3 triliun, sekarang modal bank ini sudah mencapai Rp 8 triliun. Ini karena kesiapan transformasi digital butuh permodalan cukup kuat melayani teknologi, butuh modal dan SDM andal agar bisa melayani lebih baik ke depan," kata Heru.

Dia mengatakan terus mengamati transformasi bank tradisional lalu berganti melayani secara digital. Beberapa bank sudah melakukan transformasi dari tradisional ke digital karena beradaptasi dengan perilaku nasabah khususnya milenial.

"Bank sekarang sudah boleh melakukan transformasi digital. Aturannya akan diluncurkan di semester pertama tahun ini. Namanya POJK bank umum karena tidak spesifik mengatur bank digital," lanjut dia.

 

Kunci Kesiapan Berkompetisi

Pada kesempatan itu, Direktur Utama PT Bank Jago Tbk Kharim Indra Gupta Sirega menjelaskan, kunci kesiapan perseroan berkompetisi di era digital ini ialah menjadi bank dengan basis teknologi dan tertanam langsung dalam ekosistem digital. Pihaknya membangun teknologi yang dapat melayani secara seamless dan langsung berada dalam aplikasi-aplikasi digital.

"Milenial lifestyle sekarang melakukan kegiatannya dengan aplikasi. Mulai dari berbelanja, travel, kesehatan, dan lainnya. Kami akan hadir langsung di aplikasi tersebut," kata Kharim.

Dalam berkompetisi, lanjut Kharim, bank harus memiliki keunikan bisnis model dan juga konsisten untuk menjalaninya. Dia melihat cara menanamkan diri dalam mitranya merupakan peluang paling besar. Yakni agar pengguna tidak perlu berpindah dari aplikasi saat melakukan transaksi.

Menurut dia, layanan Bank Jago akan hadir langsung dalam aplikasi dalam partnership tersebut. "Sehingga tidak perlu pindah aplikasi, layanan langsung dihadirkan di aplikasi," kata dia.

Sebelum marak layanan digital masyarakat biasanya akan datang langsung ke bank secara fisik. Namun saat ini bank fisik sudah hampir tidak laku lagi. Bank kini tidak hanya berkompetisi dengan bank lain. Namun dengan layanan aplikasi spesifik, misalnya untuk payment dengan OVO atau juga Dana.

"Karena itu, konsep tertanam jadi penting sekarang. Kami bisa unggul karena lebih cepat dan bisa melayani nasabah di ekosistem yang jauh lebih banyak dari nasabah datang ke bank," ungkap dia.

Kharim menyebutkan Bank Jago memiliki visi sebagai solusi finansial bagi kelas menengah dan mass market. "Kami juga menempatkan diri untuk menyediakan solusi finansial segmen menengah baik konvensional ataupun syariah," kata Kharim.

Dalam beberapa kesempatan, founder Bank Jago Jerry Ng yang juga mantan direktur utama Bank BTPN, menegaskan visi Bank Jago akan masuk ke ekosistem digital khususnya aplikasi layanan solusi keuangan dan gaya hidup. Untuk genre solusi keuangan, Bank Jago sudah menggandeng Gojek, Akulaku, Kredit Pintar, dan Akseleran. Sedangkan untuk gaya hidup, Bank Jago bakal masuk ke ekosistem travel sites, e-commerce retails, dan entertainment.

Adapun di tengah fenomena bank digital yang terus jadi buah bibir dalam 1-2 tahun terakhir tersebut, Bank Jago salah satu yang paling disorot. Terlebih lagi setelah ada dukungan ekosistem Gojek dan suntikan modal dari raksasa pengelola investasi GIC Singapore. Modal Bank Jago pun langsung tembus Rp 8 triliun dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 150 triliun. Ini membuat Bank Jago digadang-gadang jadi salah satu bank berpengaruh di Indonesia pada masa depan.

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pasalnya, daya saing bank digital itu akan ditentukan oleh beberapa hal, salah satunya yakni support pemegang saham pengendali, manajemen yang kompeten, dan business model yang khas. Back up dari ultimate shareholders dinilai sangat penting karena terkait dengan komitmen untuk meningkatkan permodalan dan konsistensi perseroan dalam mengembangkan bisnis. Pada titik ini, rekam jejak investor menjadi sangat penting.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN