Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. (IST)

Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. (IST)

Harga Komoditas Naik, DPK Perbankan Bisa Tembus Rp 600-700 Triliun

Senin, 4 April 2022 | 12:33 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Nathan Kacaribu memproyeksi dana pihak ketiga (DPK) perbankan bisa tembus sekitar Rp 600-700 triliun. Prediksi ini dipicu kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia seperti, minyak sawit dan batu bara.

"Saat ini, kami memprediksi ada sekitar Rp 600 - Rp 700 triliun DPK yang menumpuk di perbankan," kata Febrio dalam Webinar Indonesia Macro Economic Outlook 2022 di Jakarta, Senin (4/4/2022).

Baca juga: BKF: Manufaktur RI Tetap Konsisten di Zona Ekspansi

Faktor utama pendongkrak, ungkap dia, kenaikan harga komoditas energi dan pangan disebabkan setelah tensi geopolitik Rusia-Ukraina mengalami peningkatan. Kondisi ini akan berefek pada tambahan likuiditas di sektor keuangan khususnya bank.

"Biasanya tahun-tahun ketika harga komoditas tinggi, perbankan Indonesia biasanya menikmati transmisinya dari tambahan likuiditas yang terjadi dengan tingginya harga komoditas, itu akan mengalir ke sektor perbankan," ucap dia.

Selain itu, efek dari naiknya harga kelapa sawit akan dinikmati oleh petani, sehingga dapat mendorong naiknya konsumsi masyarakat. Tak heran, penjualan kendaraan bermotor hingga barang-barang elektronik bakal meningkat tinggi.

"Penjualan elektronik rata-rata akan tinggi, artinya akan menyalurkan lagi DPK di perbankan yang dua tahun terakhir tumbuh sangat tinggi di atas 10%," sebut dia.

Dengan demikian, dia berharap, DPK ratusan triliun itu bakal mulai digunakan oleh masyarakat untuk berbelanja dan berjalan-jalan, sehingga berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Baca juga: DPK per Desember 2021 Naik 12,1%

Apalagi, restriksi perjalanan sudah longgar dan Indonesia mulai menuju pada kebiasaan normal baru. "(DPK) yang potentially bisa kita harapkan dengan confident yang membaik, masyarakat mulai merasa nyaman untuk membeli elektronik, pakaian, jalan-jalan, dan juga membeli kendaraan bermotor. Ini yang kita harapkan transmisi akan berjalan baik," terang dia.

Febrio menegaskan bahwa likuiditas di perbankan saat ini masih mencukupi di tengah peningkatan permintaan kredit perbankan dan diikuti oleh penurunan profil risiko perbankan.

Adapun dalam catatanya DPK perbankan telah melanjutkan tren peningkatan sejak Oktober 2021, dengan capaian Desember 2021 DPK mencapai 12,21% (yoy). Sejalan dengan itu pertumbuhan kredit meningkat ke level 5,24% (yoy).

“Kredit mulai tumbuh menjanjikan 5,24 persen tetapi kami melihat data terakhir sudah lebih tinggi dari ini sudah mencapai diatas 6 persen. Suku bunga deposito dan keseluruhan juga relatif rendah sebab excess likuiditas di sistem keuangan kita,”tegasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN