Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi

Hingga Maret, Penyaluran Pembiayaan PEN Bank Syariah Indonesia Rp 8,6 Triliun

Senin, 26 April 2021 | 14:19 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus memperkuat perannya dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sampai dengan akhir Maret 2021, realisasi penyaluran pembiayaan program PEN oleh BSI mencapai Rp 8,6 triliun kepada lebih dari 60 ribu nasabah.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyampaikan, di tengah kondisi yang cukup menantang pada masa pandemi, terbukti perbankan syariah masih tumbuh resilient.

"Dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional, BSI melakukan penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor, melakukan penjaminan pembiayaan, dan subsidi margin. Diharapkan, dukungan BSI terhadap program pemerintah ini bisa turut membantu pembangunan ekonomi bangsa dan negara terutama pengentasan kemiskinan dan mensejahterakan rakyat," ungkap Hery dalam acara Sarasehan Industri Jasa Keuangan Jawa Tengah, yang dikutip Senin (26/4/2021).

Khusus di wilayah Jawa Tengah, penyaluran PEN BSI tercatat Rp 495 miliar atau 5,7% dari total penyaluran PEN BSI secara nasional. Penyaluran pembiayaan PEN tersebut mayoritas disalurkan ke segmen konsumer sebesar 36%, usaha kecil dan menengah 23%, dan segmen mikro 22% dari total pembiayaan program PEN.

Dengan skala yang lebih baik hasil dari merger, BSI berharap mampu lebih berperan sebagai pilar baru ekonomi di Indonesia. Saat ini BSI merupakan bank terbesar ketujuh di Indonesia dengan total aset sebesar Rp 239,5 triliun dan memiliki lebih dari 1.300 cabang dan lebih dari 1.700 ATM di seluruh Indonesia, dengan akses lebih luas melalui pembukaan rekening secara online melalui BSI Mobile.

Dalam meningkatkan inklusi keuangan syariah, BSI berupaya meningkatkan komposisi dana murah dan me-manage pembiayaan dengan margin yang kompetitif. BSI juga berupaya untuk mewujudkan bank syariah yang inklusif, universal, memiliki produk yang lengkap dan kompetitif, serta didukung teknologi digital.

Hery juga mengungkapkan, BSI bisa memberikan pembiayaan yang murah kepada masyarakat agar bisa bersaing dengan bank konvensional.

"Kita mesti compete dari sisi produk, pricing itu sebetulnya kita mampu, kita lihat asset liability management (ALMA) dan ALCO, kita mampu tekan cost of fund dengan manage portofolio funding untuk dorong dana murah. Sehingga dari sisi pendanaan gross margin membaik, dan bisa kasih pembiayaan margin rendah," jelas Hery.

Dengan mengelola komposisi dana murah, BSI juga bisa mendapat yield yang optimal. Pihaknya juga mengaku, dalam 2 bulan terakhir, BSI memiliki produk pembiayaan perumahan (Griya) dengan margin yang bisa bersaing dengan KPR bank konvensional.

"Kita tahu masyarakat menengah ke bawah butuh rumah, kita ada Griya Syariah, mungkin marginnya setara dengan bunga di konvensional 1 tahun 3,3%, 2 tahun 4,5%, 5 tahun 5%. Ini cukup rendah dan bisa compete, termasuk pembiayaan oto dan multiguna," urai Hery.

 

Harus Bisa Berkompetisi

Pada kesempatan itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, lembaga keuangan syariah harus bisa berkompetisi dengan lembaga keuangan nonsyariah. "Hal tersebut dapat dicapai melalui beberapa strategi diantaranya penguatan lembaga keuangan syariah melalui peningkatan permodalan dan SDM, integrasi ekosistem keuangan syariah dengan ekosistem digital, dan peningkatan literasi keuangan syariah melalui program edukasi dan riset," terang Wimboh.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar menyampaikan, Jawa Tengah bertahan di tengah pandemi dengan membangun ekosistem pengembangan ekonomi berbasis pesantren, haji, masjid, zakat, wakaf, wisata dan akomodasi halal, farmasi dan kosmetik halal, makanan halal, fesyen halal.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan Subchi menyampaikan, pemerintah telah mengakomodir agar ekonomi syariah dapat tumbuh. Hal ini juga sejalan dengan tingkat kegairahan baru mengenai halal lifestyle diminati masyarakat. Kekuatan tersebut harus dielaborasi sehingga semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

"Diharapkan dengan adanya sinergi perbankan syariah, pemerintah, dan pemangku kepentingan ini bisa meningkatkan penetrasi ekonomi dan perbankan syariah dan pengembangan ekosistem halal di Indonesia," jelas dia.

 

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN