Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ini Kata Dirut BCA soal Persaingan Bank Digital

Selasa, 27 Juli 2021 | 19:53 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Direktur Utama   PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja angkat bicara soal maraknya  bank digital akhir-akhir ini. BCA sudah punya BCA Digital, 'anak bungsu' perseroan yang digadang-gadang bakal melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Apa  kata dirut BCA mengenai persaingan bank digital ke depan?

Menurut Jahja Setiaatmadja, BCA melalui layanan online banking telah mampu mengakuisisi 10 ribu rekening baru per hari. “Itu sudah terjadi, itu kapasitas kami, naik tinggi sekali," ujar Jahja dalam webinar 'Emiten Expose 2021' bertajuk 'Prospek Saham Perbankan Digital' yang digelar majalah Investor di Jakarta, Selasa (27/7).

Kinerja positif BCA terkait akuisisi nasabah, kata Jahja, diharapkan terjadi pula pada BCA Digital. Apalagi layanan yang keseluruhan digital telah disesuaikan dengan kebutuhan para milenial saat ini. Selain itu, jumlah nasabah BCA Digital dalam 1-2 tahun ke depan menjadi salah satu acuan bagi perusahaan untuk segera melangsungkan IPO.

Namun, Jahja mengakui, jumlah nasabah bukanlah faktor utama. Belajar dari demam kartu kredit di masa lalu, banyak bank yang mengklaim memiliki jutaan nasabah kartu kredit tapi tidak begitu mendatangkan hasil bagi bank tersebut. Karena itu, jumlah nasabah bukan yang utama, tapi para pengguna aktiflah yang disasar sehingga bisa memberikan keuntungan bagi bank.

"BCA Digital ini kan baru lahir, maka kami coba dulu. Sanggup berapa? Bagaimana mendorong transaksi, mendorong ekosistemnya? Kalau itu sudah oke, saya baru berani lakukan planning (IPO). Jadi, harus berbasis data dan fakta. Beberapa bulan jalan, barulah bisa lihat hitungannya. Sebelum ada fakta, saya belum berani bicara (waktu IPO)," tandas dia.

Harus Lihat Persaingan    

Di samping aspek jumlah nasabah, menurut Jahja, BCA Digital mesti mengakselerasi ekosistem, seperti menambah mitra merchant. Produk harus bagus dan unggul untuk melayani segmen yang disasar. Bank digital seperti BCA Digital juga harus punya permodalan yang mumpuni sebagai antisipasi persaingan saat ini dan pada masa mendatang.

"Kita harus lihat persaingan. Semua bank digital menawarkan hal yang sama. Apakah Anda mau bakar uang untuk membuka rekening, butuh biaya besar berapa? Kalaupun biasa-biasa saja, harus punya keunggulan supaya bisa menarik customers," papar dia.

Terakhir, bank digital juga mesti merekrut para ahli teknologi informasi (TI). Syarat itu menjadi sulit ketika bank harus berkompetisi mencari talenta seiring kian menjamurnya financial technology (fintech). "Sebab itu, kalau BCA (digital) mau go public, ya unsur-unsur tadi harus terpenuhi. Misalnya membangun jaringan nasabah," tutur Jahja.

Dia menambahkan, BCA sudah memiliki lebih dari 450 ribu mitra merchant dan total nasabah 20 juta lebih. Namun demikian, tidak semua nasabah akan beralih ke BCA Digital karena preferensi dan kebutuhannya berbeda. Secara umum, BCA Digital diproyeksikan melayani para milenial dan generasi muda lain.

"Nah, berapa banyak milenial yang berpindah, dan berapa banyak milenial yang terpecah dengan offering yang ada? Itu akan dibagi dengan berapa banyak (bank digital) yang akan bersaing. Kalau belajar dari fintech, bersaing kalau tidak bakar duit itu susah. Promotion is the king of results," tegas dia.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN