Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Instrumen CWLS Berpeluang Dorong Pertumbuhan Bank Syariah

Jumat, 6 November 2020 | 20:28 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 200 triliun, namun baru terkumpul wakaf uang sebesar Rp 255 miliar. Hal ini membuat pemerintah kembali berinovasi mengembangkan instrumen wakaf uang melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) yang nantinya juga dapat mendorong pertumbuhan bisnis perbankan syariah.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Dwi Irianti mengatakan, saat ini sudah ada 300 ribu investor ritel, dan potensi wakaf uang mencapai Rp 200 triliun, tapi literasi masih sangat rendah. Oleh karena itu pemerintah terus gencar melakukan sosialisasi instrumen CWLS.

"Pemerintah menunjuk empat bank syariah, ada Bank Muamalat, BRIsyariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah sebagai LKS PWU, dan mitranya ini hanya bank syariah. Jadi CWLS ini akan mendorong pertumbuhan bank syariah, ini membedakan bisnis bank syariah dan konvensional, kami juga akan ajak 21 bank syariah lain untuk jadi mitra, sehingga bisa mendorong keuangan syariah juga," terang Dwi, Jumat (6/11/2020).

Pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2010 sudah dicanangkan Gerakan Nasional Wakaf Uang. Namun karena literasi mengenai wakaf uang yang masih minim, realisasinya tidak terlalu besar, dan terus menurun hingga sekarang. "Setelah kami lihat, masih terkendala dari instrumen, masyarakat ingin wakaf tapi tidak tahu instrumennya di mana, dengan melihat kondisi dan potensi tersebut, serta manfaat yang luar bisa, kami bisa terbitkan CWLS," ungkap dia.

Dwi menilai, minat masyarakat terhadap sukuk cukup tinggi, tercermin dari setiap bulan Kemenkeu juga menerbitkan sukuk melalui lelang mencapai Rp 24-25 triliun. Sedangkan di pasar global, sukuk juga berpotensi besar, untuk sukuk ritel yang diterbitkan pada September lalu mencapai Rp 25 triliun dari target Rp 5 triliun. "Artinya CWLS ini bukan untuk pembiayaan APBN, tapi memberikan kesempatan masyarakat untuk bisa dengan mudah berwakaf melalui instrumen aman karena diterbitkan negara, dan wakaf ini temporer jadi dana dikembalikan dalam 2 tahun," papar Dwi.

Pemerintah sudah 12 tahun menerbitkan sukuk negara, pemanfaatannya pun bermacam-macam untuk pembangunan proyek nasional, termasuk pengembangan di LIPI serta mendukung bidang pendidikan. Dengan tingginya minat investor sukuk, Indonesia juga menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia. "Indonesia sudah menerbitkan sukuk mencapai Rp 1.500 triliun, saat ini pemerintah Indonesia menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia," urai dia.

Bank Muamalat sebagai salah satu mitra distribusi CWLS menggelar sosialisasi secara virtual untuk mengajar nasabah berpartisipasi dalam CWLS. Sebab program ini sangat memudahkan masyarakat yang ingin berwakaf uang dengan aman dan produktif. "Dengan berpartisipasi dalam wakaf sukuk kita ikut mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan sekaligus berpartisipasi langsung dalam mendukung akselerasi ekonomi kerakyatan," ungkap Direktur Bisnis Ritel Bank Muamalat Purnomo B. Soetadi.

Penerima manfaat yang merasakan manfaat dari wakaf produktif ini yang nantinya akan disalurkan melalui beberapa program pemberdayaan diantaranya Beasiswa Sarjana Muamalat, Beasiswa Cikal Muamalat dan BMM Sahabat UKM.

Pemerintah menawarkan CWLS Ritel sejak 9 Oktober hingga 12 November 2020. Sukuk Wakaf Ritel 001 ini memiliki tingkat imbal hasil sebesar 5,5%. Investor atau wakif akan menerima kembali seluruh dananya pada jatuh tempo pada 10 November 2022 sedangkan imbal hasil akan disalurkan kepada penerima wakaf. Para investor dapat memilih penyaluran hasil investasi yang terbagi atas dua aspek yakni sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN