Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Kolaborasi dengan Fintech Jadi Pilihan Bijak Bank

Rabu, 19 Januari 2022 | 18:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Pilihan bank untuk berkolaborasi ketimbang berkompetisi dengan financial technology (fintech) dinilai merupakan pilihan bijak. Pilihan bank mengambil sisi positif dari fintech diharapkan bisa menjadi tahapan menuju perbankan lebih maju.

Guru Besar Bidang Manajemen Perbanas Institute Steph Subanidja menyampaikan, fintech adalah keniscayaan tapi masih menjadi ancaman bagi bank, ibarat 'benci tapi rindu'. Hal itu terlampir dalam hasil penelitiannya berjudul “Segitiga Oksimoron: Bisnis Bank dalam Masa Pandemi Covid-19.”

Hasil penelitian lainnya, kata dia, sikap individu bank dalam memandang jati diri, tata kelola, dan fintech, tidak berubah. Personal attitude bank pun tidak mampu memoderasi. Ibarat dua tokoh dalam pewayangan yaitu Mbilung dan Togog yang senantiasa bertengkar dalam ide, pemikiran strategi, dan kinerja. Keinginan mereka memang tidak sama, tapi sama-sama membela hal yang sama. Mereka adalah gambaran oksimoron.

"Pandemi Covid-19 telah menasehati bank, untuk berubah menuju normal baru. Kolaborasi dengan fintech adalah jalan bijak. Namun, jati diri dan personal attitude belum beranjak mengikuti laju cepat fintech. Kita tidak dapat mengharapkan hasil yang berbeda ketika masih dalam jatidiri dan sikap yang sama," kata Subanidja saat pidato inaugurasinya sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Perbanas Institue, Rabu (19/1).

Orasi itu, sambung dia, juga mengandung unsur oksimoron. Seperti halnya pihak otoritas yang menerbitkan aturan untuk dilakukan pelaku usaha. Namun benci karena sejumlah bank lambat dalam eksekusi. Di sisi lain, pelaku usaha cinta kepada otoritas karena aturan dapat menjadi pedoman, tetapi benci karena tidak mudah menjalankannya.

"Pelaku bisnis bank, entitas fintech, dan kinerja bank adalah potret segitiga oksimoron bisnis bank, 'benci tapi rindu'. Mengambil sisi positif oksimoron dengan berkolaborasi melalui learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning do be, adalah tahapan bijak menuju perbankan lebih maju," jelas Subanidja.

Menurut dia, perubahan tidak akan pernah tuntas. Tidak semua perubahan pun baik, namun menuju hal yang baik harus ada perubahan. Dalam konteks rekam jejak juga menggambarkan bahwa manusia tidak stagnan dan statis, sejarah senantiasa berubah. Ideologi menentukan jalannya perubahan namun dapat menjadi faktor pendorong sekaligus penghambat perubahan.

Subanidja bilang fenomena di atas juga terjadi sebagai gambaran oksimoron. "Perubahan tidak mesti menghasilkan sesuatu yang baik. Tetapi sesuatu yang tidak berubah, tidak akan menjadi lebih baik," kata dia.

Dia mengungkapkan, salah satu faktor utama daya dorong adalah kepemimpinan dengan kata kunci kolaborasi dan transformatif. Lebih khusus dalam penelitiannya menemukan bahwa daya dorong perubahan yang lebih menonjol justru kepemimpinan transaksional. Ada nasihat untuk senantiasa berubah melalui kebiasaan, tapi juga di sisi lain nasihat itu juga yang berhenti pada tataran learning to know.


 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN