Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor OJK/David Gita Rosa

Kantor OJK/David Gita Rosa

EKONOMI RI MENUJU TREN POSITIF

Kondisi Perbankan Masih Stabil Stabil

Kamis, 24 September 2020 | 11:47 WIB
Triyan Pangastuti dan Nida Sahara

JAKARTA, investor.id – Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas jasa Keuangan (OJK), Anto Prabowo mengungkapkan, kondisi perbankan masih stabil dan kuat menghadapi tantangan ke depan. Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank umum konvensional (BUK) masih tinggi, di level 23,16%.

Per Agustus 2020, kata Anto, profil risiko perbankan masih terjaga pada level yang manageable dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross tetap stabil di level 3,22%.

Meski demikian, intermediasi industri perbankan pada Agustus 2020 tumbuh 1,04% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dari bulan sebelumnya 1,53% (yoy).

Berdasarkan indikator-indikator tersebut, menurut dia, industri perbankan masih mampu bertahan di tengah pandemic Covid-19.

“Ke depan, OJK terus konsisten memperkuat pengawasan terintegrasi untuk dapat mendeteksi lebih dini potensi risiko terhadap stabilitas sektor jasa keuangan. Juga mendukung terlaksananya program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) secara menyeluruh guna mengakselerasi pemulihan ekonomi,” ujar dia.

Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV
Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: BSTV

Anto Prabowo menjelaskan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh tinggi 11,64% (yoy), didorong pertumbuhan DPK dari bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV yang mencapai 15,37% (yoy).

Likuiditas perbankan juga berada pada level yang memadai. Per 16 September 2020, rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/ DPK (AL/DPK) terpantau pada level 143,16% dan 30,47%, jauh di atas threshold masingmasing sebesar 50% dan 10%.

Jahja Setiaatmadja. Foto: IST
Jahja Setiaatmadja. Foto: IST

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengemukakan, karena permodalan industri perbankan saat ini masih sangat tebal, bank masih kuat menghadapi tantangan tahun ini, terutama resesi yang sudah di depan mata, kendati kredit dan laba diperkirakan masih mengalami penurunan tahun ini.

“Perbankan sejauh ini masih likuid, mungkin profitability terkoreksi sedikit. Stress test so pasti dilakukan. Dengan CAR lebih dari 23%, bank akan kuat hadapi gejolak,” tegas dia.

Dia menambahkan, BCA juga melakukan stress test dengan berbagai skenario. “Secara umum, hasil stress test menunjukkan bahwa posisi likuiditas dan permodalan BCA dan anak perusahaan cukup memadai dalam mengantisipasi kerugian dari potensi risiko-risiko yang dihadapi, berdasarkan skenarioskenario yang disusun,” tutur Jahja.

Herwidayatmo. Foto: IST
Herwidayatmo. Foto: IST

Direktur Utama Bank Panin, Herwidayatmo mengungkapkan, dampak yang paling terasa apabila Indonesia mengalami resesi adalah pertumbuhan kredit yang melambat. Soalnya, sektor riil akan terganggu aktivitasnya sehingga tidak membutuhkan likuiditas yang banyak.

“Pasti ada dampak, terutama pada pertumbuhan kredit. Kami sudah melakukan stress test. Hasilnya, insya Allah aman, karena yang jelas CAR kami cukup kuat,” tandas dia.

Herwidayatmo memprediksi tahun depan sudah ada perbaikan ekonomi dan diharapkan Bank Panin mampu bertahan dan bertumbuh. Langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dan regulator sudah cukup membantu. Diperlukan sinergi bersama untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Direktur PT Bank CTBC Indonesia Liliana Tanadi.
Direktur PT Bank CTBC Indonesia Liliana Tanadi.

Direktur Bank CTBC Indonesia, Liliana Tanadi menyatakan, pihaknya telah melakukan stress test secara berkala untuk menganalisis dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja Bank CTBC dan debitur secara keseluruhan. Hasilnya, kondisi perseroan masih kuat untuk menghadapi potensi risiko ke depan.

“Kami masih bisa memenuhi rasio-rasio, seperti CAR, LDR, NPL dalam batas aman,” tandas Liliana.

Menurut dia, stimulus yang sudah diberikan regulator dan pemerintah cukup membantu perseroan dan sektor riil dalam menghadapi gejolak ekonomi saat ini. Diharapkan akhir tahun ini sudah ada titik terang mengenai vaksin sehingga tahun depan bisa dilakukan pemulihan.

“Kalau yang terdampak virus Covid-19 dapat diatasi sampai akhir tahun ini, pada 2021 besar harapan kami bisa recover, itu juga diperkirakan pada semester kedua atau kuartal keempat,” papar Liliana. (leo/lm/sny/az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN