Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah menunjukkan kartu ATM di depan mesin ATM Himbara, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Nasabah menunjukkan kartu ATM di depan mesin ATM Himbara, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Konsolidasi Bank Syariah Himbara Tak Ada Opsi Holding

Sabtu, 22 Agustus 2020 | 12:53 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Rencana konsolidasi bank-bank syariah milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) oleh Menteri BUMN Erick Thohir yang ditargetkan rampung pada Februari 2021, telah direstui oleh pemegang saham. Dalam rencana tersebut, tidak ada opsi holding untuk bank-bank syariah, melainkan opsi survival

Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Hery Gunardi mengatakan, dalam hal penggabungan bank-bank syariah akan menggunakan opsi survival dari salah satu bank syariah. Namun, dia belum menyebut bank mana yang akan menjadi survival.

“Dan ini menunjukkan, bahwa merger ini tujuannya untuk mengoptimalkan bank syariah di bawah koordinasi Himbara dan ini tujuannya baik, mudah-mudahan berjalan lancar. Tidak ada holding karena nanti ada survival-nya, saat ini belum ada info,” jelas Hery, Rabu (19/8).

Hery Gunardi. Foto: IST
Hery Gunardi. Foto: IST

Hery mengungkapkan, potensi perkembangan perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar. Terlebih di saat pandemi Covid-19 industri perbankan syariah masih mampu bertahan.

Menurut dia, Indonesia belum memiliki bank syariah yang besar yang masuk 20 besar dunia. Padahal, Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.

“Memang di Indonesia, bank syariah belum ada yang masuk, sebetulnya tujuan pemegang saham membangun supaya jadi satu bank yang solid, bank yang besar, sehingga ada top ten bank yang ada di Indonesia bisa sejajar dengan bank konvensional,” ungkap dia.

Adapun penetrasi bank syariah di Indonesia masih kecil sekitar 8,5-9%. Angka ini jauh dibandingkan Malaysia, di mana penetrasi perbankan syariah hampir 40%-50% dan di Timur Tengah mencapai 80%-90%.

Sementara itu, Ketua Umum Himbara Sunarso mengatakan, pangsa pasar keuangan syariah memang masih rendah 9,03%. Namun, Indonesia memiliki spirit untuk meningkatkan market share keuangan syariah, salah satunya dengan rencana merger bank syariah supaya lebih efisien.

“Tapi ada hal yang kami perhitungkan, pasar itu baru bisa bekerja apabila ada pelakunya, bukan satu pelaku, tapi pelaku-pelakunya. Bank syariah kecil dimerger, oke menjadi besar, tapi ada pelaku-pelaku lain tidak? kalau cuma ada satu, mau main sama siapa?,” papar Sunarso.

Dirut Bank BRI Sunarso
Dirut Bank BRI Sunarso

Pihaknya mendukung rencana merger tersebut, tapi perlu ada pendamping selain bank syariah milik Himbara. Hal tersebut supaya pasar bank syariah tetap bisa berjalan.

Money market syariah tidak bisa terobos ke konvensional. Merger itu baik, tapi perlu diingat karena masih ada di pasar, ada satu bank besar harus ada pemain lagi untuk bermain di pasar,” terang Sunarso.

Keuntungan adanya merger bank syariah menurut Sunarso antara lain, akan membuat lebih efisien, tidak perlu melakukan investasi untuk hal yang sama di tiap bank syariah dengan target atau tujuan yang sama.

“Bisa dilakukan efisiensi investasi infrastruktur misalnya. Memperbesar size dan memiliki competitiveness itu yang harus kami capai, supaya daya jangkau banyak,” imbuh dia.

Bantu Pemulihan Ekonomi

Wapres Maruf Amin. Sumber: BSTV
Wapres Maruf Amin. Sumber: BSTV

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengaku optimistis Indonesia akan menjadi pusat keuangan syariah dunia, apalagi jika anak usaha bank-bank pelat merah digabungkan (merger) akan membantu pemulihan ekonomi nasional.

Saat ini ekonomi syariah di Indonesia telah berkembang pesat baik dari segi aturan dan kelembagaan. Untuk memaksimalkan potensi ekonomi syariah, pemerintah akan fokus pada empat hal yakni memperkuat industri keuangan syariah, industri halal, pendanaan sosial, dan usaha berbasis syariah. Fokus utama yang diprioritaskan adalah penguatan kelembagaan dan keuangan syariah.

Dalam memperkuat kelembagaan dan industri keuangan syariah, merger bank syariah menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh.

Menurut Ma’ruf, Indonesia saat ini masih belum memiliki bank syariah yang besar untuk jadi pusat keuangan syariah dunia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN