Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BTN. Foto: IST

Bank BTN. Foto: IST

Kuartal I, BTN Bukukan Laba Bersih Rp 457 Miliar

Jumat, 15 Mei 2020 | 22:54 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) pada kuartal I-2020 memperoleh laba bersih Rp 457 miliar, turun 36,79% dibandingkan dengan kuartal I-2019. Perolehan laba bersih berasal dari pendapatan bunga senilai Rp 6,17 triliun.

Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan, perseroan menghasilkan pendapatan bunga senilai Rp 6,17 triliun dan mencatatkan laba operasional perseroan sebelum provisi Rp 870 miliar. Memasuki kuartal II-2020, BTN optimistis tetap mampu mencatatkan kinerja on track kendati kondisi industri perbankan dan ekonomi nasional tengah mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona (Covid-19).

"Kondisi industri perbankan dan ekonomi nasional mengalami kontraksi akibat pandemi, laba Maret ini Rp 457 miliar, ini sebenarnya lebih tinggi dari akhir tahun 2019 yang sebesar Rp 209 miliar. Covid ini menyebabkan kita per bulan mengalami penurunan Rp 100 miliar, dengan ini kita lakukan kehati-hatian, sehingga profit tahun ini tidak sampai Rp 2,5 triliun," ungkap Pahala dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (15/5/2020).

Pahala menambahkan, pendapatan bunga sebesar Rp 6,17 triliun tersebut disumbang dari pertumbuhan kredit yang masih solid kendati dampak Covid-19 cukup terasa. Hingga kuartal I-2020, BTN telah menyalurkan kredit sebesar Rp 253,25 triliun yang tumbuh 4,59% secara tahunan (year on year/yoy) yang berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tumbuh 10,57% (yoy), dan KPR nonsubsidi mengalami penurunan 1,1% (yoy). Sedangkan dari pembiayaan syariah masih tumbuh 6,6% (yoy).

"Kredit kami pada kuartal I tumbuh, tapi memang melambat. Penopang terbesar pertumbuhan kredit tentunya berasal dari segmen KPR subsidi," tutur dia.

Segmen KPR subsidi BTN menempati porsi sebesar 44,53% dari total kredit perseroan dengan pertumbuhan 10,57% menjadi Rp 112,78 triliun. Selanjutnya pada segmen KPR non-subsidi yang menempati porsi sebanyak 31,58%, terdapat penyaluran kredit sebesar Rp 79,99 triliun pada kuartal I-2020.

"Secara total, kredit di sektor perumahan di BTN mencatatkan kenaikan sebesar 4,14% (yoy) dari Rp 219,73 triliun pada Maret 2019 menjadi Rp 228,82 triliun di kuartal I-2020," ujar Pahala.

Segmen kredit nonperumahan juga mengalami kenaikan sebesar 9,05% (yoy) dari posisi sebesar Rp 22,41 triliun pada 31 Maret 2019 menjadi Rp 24,43 triliun di periode yang sama tahun ini. Kenaikan terbesar di segmen ini ditopang melesatnya penyaluran kredit korporasi sebesar 87,75% (yoy) menjadi Rp 6,54 triliun pada 31 Maret 2020.

 

Revisi Target

Tahun ini, perseroan akan melakukan revisi target rencana bisnis bank (RBB), khususnya pertumbuhan kredit. Hal tersebut karena dampak dari pandemi Covid-19 yang dirasakan hampir semua sektor.

"Kita sudah pasti lakukan revisi RBB tahun ini dari yang sebelumnya target 9,5%, kami revisi kemungkinan menjadi 2-3% untuk kredit. Karena kita melihat KPR subsidi tumbuh 10%, kita lihat full year sekitar 10-11%, dan ini agak berbeda, kalau nonsubsidi flat saja," terang Pahala.

Tahun ini pertumbuhan KPR nonsubsidi diproyeksi tumbuh flat meskipun sudah ada penyaluran Rp 200-400 miliar saat ini. Namun, dengan adanya pelunasan pokok tentunya menyebabkan total kredit nonsubsidi flat, di sisi lain masih ada pembiayaan syariah yang tumbuh 6%, dan tahun ini dengan adanya subsidi selisih bunga (SSB) bisa tumbuh sekitar 7-8% (yoy).

Pahala menjelaskan, dengan pencadangan, permodalan, dan likuiditas yang cukup tebal juga menjadi bantalan kuat di tengah kondisi seperti saat ini. Untuk tetap menjaga rasio pencadangan yang kuat, BTN terus memupuk provisinya dengan mengalokasikan dari laba operasional.

Per kuartal I-2020, coverage ratio perseroan melonjak ke level 105,66% dari 45,07% pada periode yang sama tahun lalu untuk mengantisipasi kenaikan risiko kredit. Pahala juga mencatatkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross di level 4,9%, meningkat dari 2,92% pada tahun lalu.

Kemudian, perseroan juga mencatatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 18,73% pada kuartal I-2020 atau naik 111 basis poin (bps) dari 17,62% pada kuartal I-2019. Peningkatan permodalan tersebut didukung penerbitan subdebt pada awal 2020 yang mencatatkan kelebihan permintaan hingga lebih dari 10 kali.

 

Penghimpunan DPK

Pahala melanjutkan, bank tabungan spesialis kredit perumahan ini juga aktif mencari pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK). Sehingga, liquidity coverage ratio (LCR) perseroan masih kuat di level 140,51% dan posisi loan to deposit ratio (LDR) 114,22% per 31 Maret 2020.

Di sisi lain, perseroan juga telah menghimpun DPK sebesar Rp 221,72 triliun atau naik 2,73% (yoy) per Maret 2020. Dengan berbagai capaian tersebut, aset perseroan per kuartal I-2020 yakni senilai Rp 308,19 triliun atau naik 2,27% (yoy) dari Rp 301,35 triliun pada kuartal I-2019.

Perseroan juga mencatatkan penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) sebesar 61 bps dibanding tahun lalu. Perbaikan CoF tersebut disebabkan adanya peningkatan tabungan reguler Batara sebesar 6,8% (yoy) menjadi Rp 18,23 triliun. "Secara gradual, dari Januari hingga Maret 2020, cost of fund Bank BTN juga menunjukkan tren perbaikan," tutur Pahala.
 

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN