Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (24/4/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (24/4/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Likuiditas dan Modal Perbankan Masih Sangat Baik

Minggu, 12 Juli 2020 | 22:21 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Piter Abdullah, Ekonom CORE indonesia menilai, kondisi industri perbankan saat ini masih baik. Masyarakat pun diminta tak perlu khawatir mengingat pemerintah dan otoritas juga terus mendukung terciptanya kestabilan sistem keuangan  di tengah wabah pandemi Covid-19 ini, dalam rangka penguatan ekonomi nasional.

Piter menyebutkan, posisi permodalan atau Capital Adequate Ratio (CAR) perbankan hingga saat ini masih di kisaran 20 persen. Posisi ini melampaui batas permodalan yang ditetapkan dalam BASEL I hingga BASEL III.

“Perbankan kita lampaui semua ketentuan permodalan di BASEL I sampai BASEL III dengan rata-rata di kisaran 20 persen. Sementara kalau kita berbicara mengenai batasan-batasan yang diatur dalam BASEL III pun untuk berjaga-jaga di saat krisis, paling-paling BASEL III membatasi CAR di kisaran 12-13 persen. Apalagi kalau kita merujuk ke BASEL I yang membatasi CAR di kisaran 8 persen treshold-nya. Jadi kita jauh di atas batas minimum permodalan untuk berjaga-jaga dari sisi permodalan,” jelas Piter saat dihubungi di Jakarta, Minggu (12/7).

Dengan  kondisi tersebut, Piter menegaskan agar nasabah maupun pelaku usaha tidak perlu mengkhawatirkan kondisi perbankan saat ini.

“Jadi misalnya liquidity coverage ratio-nya masih oke. Saya kira tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara agregat,” tegasnya.

Demikian pula dari sisi profitability, menurut Piter, tingkat keuntungan perbankan masih tinggi. “NIM perbankan saat ini masih terjaga, demikian juga dengan NPL juga masih terjaga di level 3 persen. Jadi tidak ada yang mengkhawatirkan secara agregat di industri perbankan,” paparnya.

Memang ada masalah di individual bank, namun hal itu menurut Piter masih dalam kondisi yang relatif aman. “Karena kalau kita lihat satu-satu, bank yang dianggap bermasalah, permodalan dan likuiditasnya masih terjaga, walaupun sudah ada tekanan, tetapi belum menunjukkan hal yang perlu dikhawatirkan,” pungkas Piter.

Dia menambahkan, kondisi perbankan yang masih terjaga ini tidak lepas dari peran pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Karena seharusnya dengan wabah Covid 19 ini tekanan NPL sangat besar. Tetapi karena respon cepat dari OJK, dengan melonggarkan kolektabilitas, restrukturisasi kredit, sangat membantu bank dalam menekan lonjakan NPL. Sehingga sampai bulan Mei 2020 NPL perbankan masih di 3 persen.

Di sisi lain, lanjut Piter, pemerintah juga mempunyai niat baik dalam menjaga pemenuhan likuiditas bank dengan cara menempatkan dana baik melalui Bank Jangkar maupun Bank Mitra. Hal ini menurut Piter,  didorong oleh keinginan pemerintah untuk membantu dunia usaha dan perbankan dalam menambah likuiditas perbankan. 

Memang, saat ini koordinasi antara pemerintah dan otoritas keuangan dan moneter terus diperkuat dalam meningkatkan kerjasama dan peran dalam menjaga likuiditas bank, sebagai bagian dari program pemulihan dan penguatan ekonomi nasional.

“Bank Jangkar ini niat baik dari pemerintah sebenarnya, karena seharusnya BI yang menginjeksi perbankan karena BI merupakan  otoritas moneter yang mempunyai instrument itu. Tetapi ini niat baik pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Group Research DBS Bank Ltd Maynard Arif mengatakan, manajemen risiko dan pengawasan perbankan Indonesia berjalan dengan baik.

“Secara umum manajemen risiko serta pengawasan industri perbankan oleh OJK telah berjalan dengan baik tentunya dengan pengalaman pada Asian crisis tahun 1998 dan Global Financial crisis tahun 2008,” katanya.

Dia menilai, sampai saat ini secara keseluruhan rasio keuangan industri perbankan seperti CAR dan NPL masih dalam batas yang relatif acceptable terutama dalam kondisi krisis seperti sekarang.

Namun saat ini tidak diketahui berapa lama pandemi ini berlangsung dan masyarakat harus bersiap untuk menghadapi situasi terburuk di mana peran pemerintah serta regulator termasuk OJK amat penting supaya perbankan Nasional bisa survive.

Terhadap isu-isu perbankan yg mengalami krisis likuiditas saat ini, dia mengatakan, mungkin ada bank-bank yang mengalami tekanan dari sisi likuiditas tetapi pemerintah, khususnya OJK dan BI telah secara proaktif melakukan langkah-langkah untuk menjaga likuiditas industri perbankan Nasional sehingga masyarakat tidak perlu panik.”

“Dampak krisis COVID-19 amat berat bagi perekonomian dunia dan bahkan beyond our  imagination. Kita apresiasi langkah-langkah dan kebijakan yang telah diambil pemerintah  termasuk OJK dalam menghadapi krisis yang disebabkan oleh COVID-19. Ini penting untuk  menjaga kepercayaan serta membantu perekonomian kita yang terdampak COVID-19. Kita  yakin bahwa OJK akan terus proaktif bersama pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga kondisi dan stabilitas perbankan nasional,” katanya.

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN