Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief of Retail & SME Business PT Bank Commonwealth Ivan Wijaya (tengah) dan Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula (kanan) pada talkshow Hot Economy dengan tema Tren Investasi Digital di Beritasatu TV, Selasa (13/7). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Chief of Retail & SME Business PT Bank Commonwealth Ivan Wijaya (tengah) dan Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula (kanan) pada talkshow Hot Economy dengan tema Tren Investasi Digital di Beritasatu TV, Selasa (13/7). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Melihat Tren Investasi Digital di Tengah Pandemi

Senin, 19 Juli 2021 | 16:49 WIB
Jayanty Nada Shofa

JAKARTA, investor.id - Di tengah pandemi Covid-19, tren investasi digital meningkat. Tren ini didukung oleh meningkatnya penetrasi internet dan profil usia investor yang didominasi oleh generasi muda.

Ivan Jaya selaku Chief of Retail & SME Business PT Bank Commonwealth menyebutkan, berdasarkan data Digital 2021 Indonesia Report dari We Are Social and Hootsuite, pengguna internet pada Januari 2021 mencapai 202,6 juta orang atau 73,7% dari populasi. Jumlah ini naik 15,5% secara year-on-year (yoy). Indonesia juga menikmati bonus demografi di mana generasi milenial dan gen-z cenderung lebih melek digital.

“Minat masyarakat terhadap investasi terus tumbuh seiring dengan meningkatnya literasi dan inklusi keuangan. Serta didukung oleh kemudahan mengakses informasi di era digital. Mereka juga kini menghabiskan banyak waktu di shopping dan financial apps,” kata Ivan pada acara “Hot Economy: Tren Investasi Digital”, Rabu (13/7).

“Pandemi menyebabkan masyarakat menunda mengeluarkan uang untuk hal-hal konsumtif seperti rekreasi. Sehingga dana tersebut digunakan untuk berinvestasi,” ungkap Ivan.

Dirinya menggarisbawahi adanya pergeseran di industri reksa dana atau investasi secara keseluruhan. Berdasarkan profil usia, investor individu didominasi oleh masyarakat di bawah 30 tahun dan 30-41 tahun. Sebelumnya, umumnya investor berasal dari kalangan baby boomers. Pergeseran kedua adalah meningkatnya kompetisi. Jika sebelumnya perbankan yang bertindak sebagai selling agent, kini fintech dan startup ikut serta memasarkan reksa dana.

“Yang terpenting adalah pergeseran di mana nasabah ingin lebih transparan dan ingin memegang kontrol. Hal ini bisa dilakukan melalui aplikasi investasi. Jadi, meskipun di tengah pandemi, kami melihat potensi perkembangan investasi ini semakin tinggi,” jelas Ivan.

Potensi Reksa Dana
Ezra Nazula selaku Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menjelaskan, reksa dana adalah salah satu instrumen investasi digital akan terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19.

Sejak akhir tahun 2019 hingga akhir April 2021, asset under management (AUM) industri reksa dana Indonesia mengalami peningkatan sebesar 5% menjadi Rp568 triliun pada akhir April 2021.

“Kontributor terbesar pertumbuhannya adalah money market fund dan fixed income fund. Ini sebenarnya tidak mengejutkan, karena di saat market sedang volatile, tentunya investor ingin fokus mencari yang aman. Namun, porsi equity fund terhadap AUM industri juga masih cukup besar, yaitu 22,4%, sedangkan porsi fixed income fund sebesar 24,8%. Jadi, minat masyarakat terhadap equity fund bisa dikatakan masih baik,” ungkap Ezra.

“Kami yakin industri reksa dana akan mengalami pertumbuhan lebih pesat seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang investasi dan semakin mudahnya akses ke produk reksa dana. Kami sangat optimis, karena melihat pertumbuhan AUM reksa dana MAMI pun mencatatkan kenaikan 85% sejak akhir 2019 hingga akhir April 2021 menjadi sebesar Rp54,5 triliun,” imbuh Ezra.

Ezra menambahkan, terdapat sejumlah tantangan dalam memajukan industri reksa dana di Indonesia. Misalnya, rendahnya literasi finansial di Indonesia, serta maraknya investasi ilegal dan pemahaman produk investasi yang tidak sesuai dengan profil risiko investor. Bahkan berdasarkan informasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam 10 tahun terakhir investasi bodong telah menyebabkan kerugian sebesar Rp114,9 triliun.

“Edukasi adalah kunci untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait reksa dana. MAMI sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan ‘modul pendidikan 3i (insyaf, irit, invest). Kami juga aktif menyediakan publikasi reguler dan market update terkait literasi keuangan,” kata Ezra.

Guna memudahkan masyarakat berinvestasi reksa dana, Bank Commonwealth menyediakan aplikasi CommBank SmartWealth. Aplikasi ini memungkinkan nasabah berinvestasi dan mendapatkan portofolio secara komprehensif dari rumah. CommBank SmartWealth menawarkan berbagai produk investasi, termasuk reksa dana Manulife Saham Andalan dan Manulife Greater Indonesia Fund dari MAMI.

“Kami mengandalkan aplikasi wealth management CommBank SmartWealth untuk membantu nasabah kami memegang kendali atas investasinya sendiri,” tutup Ivan.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN