Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

NPL Naik, Kredit Melambat

Nida Sahara/Imam Suhartadi, Rabu, 9 Oktober 2019 | 14:42 WIB

JAKARTA, investor.id - Sejumlah bankir mengaku terjadi perlambatan pertumbuhan kredit hingga kuartal ketiga tahun ini, akibat kondisi perekonomian yang kurang kondusif dan sejumlah sektor usaha menghadapi masalah. Karena itu, realisasi ekspansi kredit sejumlah bank diperkirakan tidak akan mencapai target tahun ini.

Kondisi tersebut juga berimbas pada kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan diprediksi ke depan bakal meningkat. Meski demikian, sejauh ini NPL masih berada dalam batas aman.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, pihaknya merasakan adanya perlambatan permintaan kredit di BCA sampai dengan akhir September 2019 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, hal tersebut memang wajar karena kondisi ekonomi dan politik belum kondusif.

Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL
Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL


"Sampai September masih agak redup, saya kira bisa dimengerti suasana belum kondusif. Mungkin nanti setelah pengumuman menteri-menteri dan pelantikan Presiden 20 Oktober mulai bagus. Pertumbuhan kredit BCA sekitar 6% (year to date/ytd), kalau year on year (yoy) sekitar 10,1%," kata Jahja kepada Investor Daily saat ditemui di Jakarta, Selasa (8/10).

Menurut dia, perlambatan permintaan kredit terasa jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun, dia mengakui pertumbuhan kredit tahun 2018 juga tidak terlalu bagus. Oleh sebab itu, pertumbuhan kredit tahun ini akan berada pada rentang 10-11% (yoy).

"Akhir tahun ini kredit kami diprediksi tumbuh 10-11%, karena kami dari awal konservatif. Kalau mencapai 12-13% berat. Tahun lalu kita tumbuh 13%," ungkap dia.

Jahja menjelaskan, perlambatan permintaan terjadi pada kredit konsumtif, seperti kredit pemilikan rumah (KPR) dan juga kredit kendaraan bermotor (KKB). Untuk KKB, Jahja menilai, hal tersebut melambat karena masyarakat mulai nyaman dengan moda transportasi online, sehingga enggan membeli kendaraan.

"Yang sulit itu dari KPR dan KKB, karena daya beli melemah. Juga sebagai dampak dari transportasi online, orang nyaman pakai Grab dan Gojek, jadi tidak usah beli mobil lewat kredit," lanjut dia.

Jahja menyatakan bahwa kondisi yang belum kondusif saat ini berimplikasi pada kenaikan kredit bermasalah (NPL). Bahkan, ke depan, tendensi NPL bakal meningkat. Meski demikian, sampai dengan September, rasio NPL masih aman.

Pertumbuhan DPK Kredit dan NPL
Pertumbuhan DPK Kredit dan NPL



"Sampai dengan kuartal III, NPL masih aman, tapi ke depan tidak tahu. Kalau situasi baik mungkin bisa stabil dan sebaliknya kalau situasi tidak baik mungkin NPL bisa naik. Kalau pencadangan kami sesuai aturan saja," tutur Jahja.

Jahja berpendapat, perbankan perlu berhati-hati dalam menyalurkan kredit di tengah kondisi ekonomi global yang belum kondusif saat ini. Pasalnya, apabila perbankan tetap jorjoran menyalurkan kredit tanpa mengedepankan aspek kehati-hatian, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko kredit dan menjadi kredit macet.

"Perbankan harus menjaga likuiditas, jangan ekspansi kredit berlebih, dan hati-hati memberi kredit. Perbankan bukan pintu resesi, tapi kalau resesi terjadi maka perbankan jadi korban," ungkap Jahja.

Pihaknya menegaskan, meskipun Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (BI-7DRRR) ke level 5,25%, hal itu tidak akan mengubah langkah pengusaha yang masih menahan diri untuk mengambil kredit perbankan. Pasalnya, kondisi domestik masih belum kondusif ditambah aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar.

CAR bank umum 2010-2019
CAR bank umum 2010-2019


"Kalau situasi belum kondusif seperti sekarang, biar suku bunga turun banyak, tetap saja pengusaha enggak mau nambah kredit, juga belum berpikir untuk investasi," jelas Jahja.

Pengusaha masih akan menunggu (wait and see) sampai kondisi mulai stabil dan kondusif. Selain itu, dia menegaskan, apabila perbankan juga sudah mulai menurunkan suku bunga pinjaman, tidak akan serta merta permintaan kredit meningkat.

"Harus kondusif dulu, daya beli membaik, baru ekonomi bergairah. Salah besar kalau bunga turun otomatis ekonomi bergairah," ungkap dia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, dalam tahun ini, puncak kredit bermasalah (NPL) bank umum terjadi pada Mei sebesar 2,61%. Juni sedikit menurun ke level 2,50%, namun pada Juli NPL kembali meningkat ke posisi 2,55%. Pada akhir 2018, NPL masih berada di posisi 2,37%.

Posisi kredit bank umum hingga Juli tercatat Rp 5.452,5 triliun, atau baru tumbuh 2,98% dibanding akhir 2018.

Revisi Target Kredit

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta. Foto: bni.co.id
Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta. Foto: bni.co.id

Secara terpisah, Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengakui bahwa saat ini terjadi perlambatan laju kredit di industri perbankan. Namun, BNI yakin pertumbuhan kredit bisa sesuai dengan target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), yakni antara 12-13% (yoy).

"Semoga bisa sesuai target RBB, kita utamakan tambahan kredit dari yang sudah kita komitmenkan atau sudah sesuai drawdown-nya. Kredit BNI bisa tumbuh di atas industri perbankan," kata Herry.

Hingga kuartal III, kata Herry, pertumbuhan kredit BNI masih sesuai dengan target 12-13% (yoy). Kredit tersebut didorong dari sektor infrastruktur dan manufaktur.

Perkembang DPK Bank Umum 2010-2019
Perkembang DPK Bank Umum 2010-2019

Adapun tentang kredit bermasalah, Herry melihat NPL industri perbankan cenderung naik. Namun, BNI masih bisa menjaga di bawah 2% dan level ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun.

SVP Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto menambahkan, potensi kenaikan NPL merupakan fenomena yang wajar terjadi pada kondisi yang kurang kondusif saat ini. "Karena melemahnya kondisi ekonomi membuat beberapa pelaku usaha terganggu sehingga berdampak pada revenue dan profitnya. Akibatnya, repayment capacity-nya pun terhambat, inilah yang mendorong lonjakan NPL," tutur Ryan.

Menurut Ryan Kiryanto, hampir semua bank merevisi kembali proyeksi kreditnya tahun ini. “ Banyak bank menyesuaikan kredit ke bawah dari target kredit rencana bisnis bank (RBB). Ini pilihan yang reasonable ketimbang target tidak tercapai,” kata Ryan kepada Investor Daily.

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

Perbankan, kata dia, saat ini berhati-hati dalam penyaluran kredit dengan menjaga kualitas aset dan (NPL) agar tidak membengkak. ''Sikap kehati-hatian sekarang ditempuh perbankan agar kredit tidak menjadi NPL, dan kredit yang sudah jadi NPL bisa kembali lancar,” katanya.

Menyiasati penurunan suku bunga karena dan pertumbuhan kredit yang menurun, lanjut dia, bank menggiatkan pendapatan nonbunga atau fee based income . Selain itu, bank juga melakukan efisiensi operasional dengan melakukan transaksi perbankan yang bukan manual, tapi secara elektronik atau digitalisasi seperti internet banking, mobile banking, dan sebagainya.

“Bank juga mengurangi agresivitasnya seperti mengurangi ekspansi cabang, jumlah teller,” kata dia.

Efisiensi yang ditempuh perbankan tercermin pada tren penurunan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dan rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR).

Ryan Kiryanto menyebut sejumlah sektor bisnis yang menghadapi masalah. Dia mencontohkan kredit sektor pertambangan dalam 2-3 tahun ini cenderung menurun karena penurunan harga komoditas. Kredit perbankan masih banyak dialokasikan ke sektor manufaktur, pertanian, infrastruktur dan konstruksi, serta perdagangan, hotel, dan restoran. “Kredit masih banyak ke empat sektor ini, tapi juga harus hati-hati karena potensi NPL juga tinggi,” katanya.

Perkembangan NPL
Perkembangan NPL

Ketika ditanya dampak pelonggaran moneter BI (penurunan bunga dan pelonggaran LTV/FTV) terhadap ekpansi kredit, Ryan mengatakan, langkah BI sudah bagus namun perlu diimbangi dengan kebijakan di sektor lain untuk mendukungnya.

“Kenapa dampaknya belum terlihat? Sebab, permintaan riil kredit nggak ada. Teori dalam situasi perlambatan, kebijakan moneter harus diimbangi kebijakan fiskal yaitu countercyclical-policy,” tegasnya.

Kebijakan kontrasiklus tersebut sangat dibutuhkan saat ini dan ditujukan untuk melawan tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kata Ryan, paket kebijakan ekonomi yang efektif dan tepat dapat mencegah perlambatan lebih dalam di tengah perlambatan perekonomian global.

Menurut Ryan, paket kebijakan kontrasiklus dapat difokuskan untuk mempertahankan daya beli masyarakat, mencegah terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), memberikan stimulus pajak agar industri dan dunia usaha lebih bergairah, memperbesar belanja negara, meningkatkan gaji pegawai negeri, dan memperkuat daya tahan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Belanja negara harus ekspansif. Selain itu, sektor-sektor yang mengalami tekanan akibat perlambatan ekonomi perlu mendapatkan keringanan pajak,” tutur Ryan.

Ryan juga mengingatkan pentingnya reformasi struktural agar birokrasi dari sisi layanan dan kebijakan dapat bersikap investor friendly. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube
Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk Hariyono Tjahjarijadi mengungkapkan hal senada. Dia menilai, terdapat potensi kenaikan NPL, namun masih normal. "NPL ada tendensi naik, namun masih dalam batas normal saja, terjadi di hampir semua sektor," ucap Hariyono.

Dia menjelaskan, sampai dengan kuartal III pertumbuhan kredit memang agak melambat, namun masih sesuai dengan target rencana bisnis bank (RBB) di kisaran 9-10% (yoy). Sebab, perseroan sudah memasang target yang konservatif sejak awal, karena sudah memproyeksi tahun ini cenderung slow.

"Masih sama dengan RBB, tidak ada koreksi. Mudah-mudahan pencapaiannya bisa sesuai dengan RBB," jelas Hariyono.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA