Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nurhaida. FOTO: BeritaSatu Photo/ DAVID GITA ROZA

Nurhaida. FOTO: BeritaSatu Photo/ DAVID GITA ROZA

OJK Dukung Perkembangan Inovasi Keuangan Digital Indonesia

Jumat, 7 Mei 2021 | 21:11 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ikut mendukung perkembangan inovasi keuangan digital (IKD) di Indonesia. Hal itu dilakukan regulator melalui sejumlah strategi dan rencana aksi guna mewujudkan industri jasa keuangan yang berdaya saing serta sesuai dengan kebutuhan di masa depan.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida melalui makalah OJK Update 7 Mei 2021. Dia mengatakan, semakin berkembangnya ekosistem keuangan digital yang komprehensif mendorong OJK untuk menerbitkan Roadmap Inovasi Keuangan Digital (IKD) dan Rencana Aksi 2020-2024. 

"Roadmap itu diharapkan dapat berguna untuk mewujudkan industri jasa keuangan yang berdaya saing dan sesuai dengan kebutuhan masa depan. Terdapat tiga strategi regulasi dan supervisi dalam mendukung inovasi keuangan digital di Indonesia, yaitu tersedianya kerangka kerja yang mendukung inovasi keuangan digital, regulasi yang agile, dan pengawasan market conduct agar dapat memitigasi risiko teknologi serta melindungi kepentingan konsumen dan mendorong persaingan," jelas dia.

Nurhaida juga mengatakan, industri fintech di Indonesia berperan sebagai penyedia akses keuangan yang mudah dan terjangkau oleh masyarakat. OJK telah melakukan pendekatan interaktif dan berkolaborasi kepada stakeholders terkait untuk menyediakan regulasi yang proporsional.

Untuk menghasilkan regulasi tersebut, OJK mendukung penerapan inovasi teknologi yang dapat mempercepat pertumbuhan keuangan digital secara bertanggung jawab. Adapun kategori keuangan digital yang dimaksud meliputi digital payment, digital banking, non-bank fintech atau fintech p2p lending, serta fintech crowdfunding.

Setidaknya ada lima inisiatif OJK sebagai akselerator, fasilitator, dan inkubator IKD. Pertama adalah terkait kerangka kerja kebijakan dan peraturan. Nurhaida mengatakan, OJK telah menyusun laporan mengenai beberapa topik yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengembangkan Sektor Jasa Keuangan (SJK) khususnya industri fintech dan diterapkan selama periode roadmap berlaku.

Topik-topik yang dimaksud misalnya penggunaan data alternatif dalam penilaian kredit, peran dan fungsi aggregator keuangan digital, lisensi elektronik menggunakan blockchain, alat perencanaan keuangan, dan project financing.

Kedua sehubungan dengan regulatory sandbox. Dalam hal ini, telah diklasifikasikan 18 jenis model fintech yang berpartisipasi dalam regulatory sandbox milik OJK. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah selama masa penerapan roadmap dengan memberikan atensi lebih dalam praktik e-KYC (electronic-Know Your Client) dan AML (Anti Money Laundering).

Ketiga, kata Nurhaida, terkait dengan capacity building. OJK telah berkoordinasi dan memfasilitasi kegiatan Fintech Summit setiap tahunnya yang menginformasikan keadaan terbaru serta proyeksi pengembangan fintech di Indonesia. "Kegiatan ini masih akan terus diadakan dengan kolaborasi secara erat bersama industri fintech sebagai bagian penting dari peran peningkatan kapasitas OJK. Selain itu, OJK juga mengadakan seminar dan webinar secara triwulanan," jelas dia.

Keempat, Nurhadia mengatakan, OJK berinisiatif untuk menyediakan fasilitas konsultasi. Karena dalam hal ini, OJK memiliki peran penting dalam mendukung industri fintech agar lebih memahami regulasi dan proses otorisasi. OJK memperluas fasilitas tersebut secara daring ketika pandemi Covid-19.

Kelima, yakni inisiatif kolaborasi. OJK Infinity Center sebagai fintech hub berkolaborasi dengan sejumlah regulator keuangan termasuk dari kalangan internasional seperti MAS (Monetary Authority of Singapore), Asian Development Bank (ADB), Asian Development Bank Institute (ADBI), Australian Center for Financial Studies, State of Victoria, dan United Nations Development Programme.

Lebih lanjut, OJK dalam mendorong IKD juga menerapkan strategi rencana aksi. Nurhaida menuturkan, hal tersebut menjadi penting lantaran industri fintech di Indonesia menghadapi banyak tantangan. Seperti persaingan dengan industri jasa keuangan lainnya seperti perbankan serta pelaku industri bigtech.

Rencana aksi yang dimaksud meliputi upaya meningkatkan perlindungan konsumen di era digital, termasuk peningkatan literasi keuangan digital dan praktik pengelolaan keluhan. Kemudian privasi dan perlindungan data konsumen. Adapula meningkatkan regulasi dan pengawasan fintech, termasuk penggunaan teknologi regulasi (regtech) dan pengawasannya.

Selanjutnya, peningkatan dialog dan dukungan inovasi melalui innovation hub, kegiatan knowledge sharing, regulatory sandbox, koordinasi para pelaku di ruang lingkup regional dan global. Fokus pada peningkatan perbaikan praktik industri fintech yang tengah berkembang termasuk pada unsur keamanan siber, pencegahan penipuan, dan manajemen risiko.

Rencana aksi juga mencakup mendukung ekosistem fintech (investment climate). Menyediakan dan meningkatkan kegiatan pelatihan bagi sektor fintech dan meningkatkan regulasi capacity building. Serta meningkatkan akses terhadap infrastruktur digital, identitas digital, e-KYC, dan open banking

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN