Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi

Ilustrasi asuransi

Penerbit Asuransi Kredit Mesti Review Pencadangan dan Bisnis

Sabtu, 5 Desember 2020 | 04:35 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor/id - Perusahaan asuransi umum penerbit produk asuransi kredit perlu me-review pencadangan dan bisnisnya atas potensi gelombang klaim di masa mendatang, khususnya pasca relaksasi restrukturisasi kredit. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebut terdapat satu perusahaan penerbit asuransi kredit yang menemui masalah terkait hal tersebut.

Lini asuransi kredit tumbuh dengan pesat dan mampu masuk tiga besar penghimpun premi di asuransi umum.Tapi beberapa waktu belakangan premi bergerak melambat atau bahkan menurun. Berdasarkan data AAUI, premi asuransi kredit sampai dengan kuartal III-2020 mencapai Rp 9,67 triliun atau turun 3,6% secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan produksi klaim asuransi kredit terjadi sepanjang tahun ini. Turun sebesar 15,5% (yoy) di kuartal I-2020 dan turun sebesar 6,1% (yoy) di kuartal II-2020.

Sementara klaim yang dibayarkan kini tumbuh cukup subur. Sampai kuartal III-2020 klaim lini usaha tersebut tumbuh 0,1% (yoy) menjadi sebesar Rp 5,98 triliun. Kendati pertumbuhan relatif stagnan, tapi dengan karakteristik produk jangka panjang lini usaha tersebut mencatatkan klaim rasio cukup besar yakni mencapai 61,9%.

Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST
Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe. Foto: IST

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe mengimbau kepada perusahaan penerbit asuransi kredit untuk kembali mengulas kembali portofolionya. Terutama untuk memastikan liabilitas untuk masa mendatang bisa cukup. Diantaranya dengan cara melihat kelayakan cadangan teknis dan memastikan tarif premi sesuai.

"Karena sudah ada pemain asuransi kredit yang saat ini dalam kondisi merah dan ternyata telah menurunkan produksi asuransi kredit. Kita harapkan kondisi ini menjadi pelajaran untuk me-review produksi, sehingga kedepan bisa lebih baik. Karena saat ini premi asuransi kredit di posisi ketiga setelah asuransi properti dan asuransi kendaraan bermotor," kata dia, Kamis (3/12).

Dia mengungkapkan, apalagi saat ini banyak kredit perbankan atau pembiayaan multifinance yang sedang direstrukturisasi. Relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut hanya menunda klaim bagi penerbit asuransi kredit, klaim tetap berpotensi melonjak di masa mendatang setelah proses restrukturisasi selesai.

Oleh karena itu, sambung dia, diharapkan ketika tiba saatnya kemampuan bayar para nasabah hasil restrukturisasi bisa kembali pulih.

"Yang menjadi masalah, ketika masa restrukturisasi berakhir dan tidak ada kemampuan bayar karena kondisi pandemi maka akan ada klaim. Itu yang perlu diantisipasi. Sekarang waktu untuk mengantisipasi untuk para penerbit asuransi kredit supaya saat banyak klaim terjadi, ada dana yang cukup untuk membayar klaim," jelas Dody.

Dia pun menyoroti peran perusahaan asuransi umum dalam kaitannya dengan penerbitan produk asuransi kredit. Dody menilai, bisnis yang dijalankan perlu kembali dibicarakan dengan tertanggung atau kreditur bahwa peran asuransi sejatinya tidak semata-mata memangkas kredit macet. Tapi ada kalanya bagi perusahaan asuransi umum tidak memproteksi kredit yang disalurkan bank atau multifinance.

Di sisi lain, Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, Analisis TI, dan Aktuaria AAUI Trinita Situmeang menuturkan, kondisi serupa juga terjadi pada perusahaan reasuransi yang turut serta membagi risiko atas bisnis asuransi kredit. Tapi review pada perusahaan reasuransi lebih pada menakar risiko dengan perusahaan asuransi umum.

Sampai dengan kuartal III-2020, premi reasuransi kredit berhasil dibukukan sebesar Rp 4,34 triliun atau tumbuh 141,1% (yoy). Sedangkan klaim tumbuh lebih kencang sebesar 291,7% (yoy) menjadi sebesar Rp 1,63 triliun. Untuk diketahui, premi dan klaim reasuransi kredit menjadi portofolio terbesar kedua di industri reasuransi umum.

"Perusahaan reasuransi melakukan remedial, baik dari term condition dan kualitas akun reasuransi kredit yang diterima. Jadi secara premi naik signifikan dan klaim juga naik signifikan. Pencatatan di reasuransi itu belakangan, satu kuartal ke atas. Jadi memang ada transfer risiko antara perusahaan asuransi yang menjual asuransi kredit ke reasuransi kredit," ucap Trinita.

Sementara itu, Trinita juga mengatakan, sampai kuartal III-2020 total klaim asuransi umum mencapai Rp 25,84 triliun atau meningkat 2,57% (yoy). Karena produksi premi tercatat tumbuh negatif 7,0% menjadi Rp 53,87 triliun, maka rasio klaim terhadap premi tercatat meningkat menjadi 48% dibandingkan periode sama sebesar 43,5%.

Kontributor peningkatan klaim di kuartal III-2020 sendiri masih dicatatkan oleh tiga lini bisnis terbesar asuransi umum. Diantaranya adalah asuransi kredit menumbang porsi 23,2%, asuransi properti 21,7%, dan asuransi kendaraan bermotor sebesar 21,6%. Diikuti asuransi kecelakaan diri dan kesehatan dengan porsi 12,8%. Sedangkan masing-masing dari 10 lini usaha lainnya berkontribusi kurang dari 5%.

Dody pun menambahkan, proporsi klaim yang dicatatkan masing-masing perusahaan asuransi umum tentu berbeda, tergantung lini bisnis utamanya. Saat ini mitigasi risiko asuransi umum telah baik dengan adanya pembagian risiko dengan perusahaan reasuransi. Tapi melihat sejumlah rasio kemampuan membayar klaim perusahaan asuransi yang terus menurun, maka perlu bagi seluruh perusahaan asuransi umum untuk mengantisipasi. Pihaknya percaya regulator juga memperhatikan hal tersebut.

"Terkait rasio rasio yang ada di keuangan itu juga menjadi concern asuransi. Apakah asuransi mengalami kesulitan likuiditas? tentunya dari rasio bisa ketahuan, kita juga yakin OJK memantau rasio tersebut, jika rasio dibawah standar maka akan diperingatkan atau teguran," kata dia.

Sampai kuartal III-2020, rasio kecukupan premi asuransi umum terhadap pembayaran klaim turun menjadi 207,4%. Rasio kecukupan premi terhadap pembayaran klaim dan biaya umum turun menjadi 153,9%. Sedangkan rasio kecukupan premi dan hasil investasi terhadap pembayaran klaim turun menjadi 219,5%. Adapun rasio sesi asuransi meningkat menjadi 44,7%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN