Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK

OJK

Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 3 Desember 2020 | 18:10 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pertumbuhan ekonomi bisa didorong dari peningkatan indeks literasi dan keuangan. Selama 9 tahun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdiri, indeks literasi dan keuangan sudah mengalami kenaikan.

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto mengatakan, OJK memiliki peranan penting dalam hal meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Namun, meskipun mengalami kenaikan, masih cukup rendah dibandingkan negara lain. Diharapkan bisa kembali ditingkatkan literasi dan inklusi keuangan supaya bisa berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian.

"Secara umum 9 tahun OJK ada perkembangan baik literasi dan inklusi keuangan mengalami peningkatan. Tapi dalam frame lain masih sangat butuh upaya mengoptimalkan ke depan, sehingga impact ke hilirnya pada pertumbuhan ekonomi bisa dilihat ke depan, masih banyak hal yang perlu dilakukan," jelas Eko dalam webinar bertajuk Menakar 9 Tahun Peran OJK dalam Menjaga Inklusi Keuangan Indonesia, Kamis (3/12).

Ekonom Indef Eko Listiyanto MSE. Foto: indef.or.id
Ekonom Indef Eko Listiyanto MSE. Foto: indef.or.id

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) pada 2019, hasilnya menunjukkan bahwa literasi keuangan mencapai 38,03%. Sedangkan inklusi keuangan mencapai 76,19%. Angka ini naik jika dibandingkan tahun 2016 lalu yang menunjukkan literasi keuangan sebesar 29,7% serta inklusi keuangan 67,8%.

"Dari survei ini ada peningkatan indeks inklusi keuangan. Ini capaian yang bagus, tapi kalau kita lihat impact-nya bahwa masih banyak tantangannya. Inklusi saya rasa sudah ada di treknya yang benar walau dari capaian masih belum maksimal," jelas Eko.

Eko mengungkapkan, sepanjang 9 tahun OJK didirikan, banyak literatur yang menyebutkan bahwa keterkaitan sektor keuangan yang semakin inklusif dan masyarakat terliterasi sektor keuangan akan mempercepat proses pembangunan ekonomi. Peningkatan literasi dan inklusi keuangan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi.

"Ketika bicara bagaimana literasi keuangan di banyak negara menjadikan ini salah satu kebijakan strategis pembangunan sektor keuangan ke depan," papar Eko.

Tantangan
Menurut Eko, terdapat sejumlah tantangan dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air. Pertama, literasi keuangan masih timpang antarlembaga keuangan. Untuk itu aspek pemerataan menjadi bagian penting.

Sebab, saat ini masih terjadi ketimpangan antara literasi dan inklusi keuangan dari sisi perbankan dan pasar modal. Masyarakat lebih mengenal dan sudah banyak yang memiliki akses perbankan, sedangkan literasi dan inklusi sektor pasar modal masih minim.

Ke depan, idealnya semua sektor keuangan perlu ditingkatkan indeks literasinya, bukan hanya perbankan, tapi juga perasuransian, pasar modal, dana pensiun, dan sektor lainnya.

"Literasi perbankan sampai 2019 itu 36%, meningkat, tapi di pasar modal baru 5%, sangat kecil. Perbedaan ini menjadi gambaran orang lebih akrab dengan bank dari pada pasar modal," ujar dia.

Tantangan kedua, tingkat inklusi di kota besar seperti DKI Jakarta sudah hampir 95%, sedangkan daerah lainnya perlu ditingkatkan agar seimbang. Tantangan ketiga, yakni dibandingkan negara lain, Indonesia masih cukup rendah untuk tingkat inklusinya. Di Thailand sudah di level 82%, sedangkan Malaysia 85%, Singapura bahkan sudah mendekati 100% tepatnya 98%. Diharapkan peningkatan inklusi keuangan juga menjadi fokus.

"Kenapa penting? Ini berkaitan dengan support sektor keuangan ke pertumbuhan ekonomi. Rasio kredit terhadap GDP masih jauh sekali, Indonesia masih 37%, sementara Malaysia 120% lebih tinggi kredit yang mengalir dibandingkan GDP, Thailand bahkan sudah 140%, dan Vietnam juga sudah di atas 100%," urai Eko.

Pihaknya mengungkapkan, impact inklusi keuangan terhadap urgensi pemerataan pembangunan cukup penting. Sehingga, tidak hanya dari sisi permintaan kredit tapi juga supply dari sektor keuangan penting ke sektor riil. "Karena inklusi masih di bawah, support ke ekonomi masih rendah, makanya perlu ditingkatkan inklusi dan literasi," lanjut dia.

Eko memberikan rekomendasi khususnya kepada OJK untuk bisa meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Pertama, go digital, memanfaatkan teknologi digital untuk mendorong literasi dan inklusi dengan cepat. Saat ini mulai terlihat digitalisasi dari sistem pembayaran yang bisa mengungkit inklusi keuangan.

Kedua, go rural, dalam mendorong tingkat literasi dan keuangan, tidak bisa hanya menyasar kota besar, perlu masuk ke pedesaan dan mengenalkan sektor keuangan kepada masyarakat. Hal ini diharapkan masyarakat atau pelaku mikro dan kecil di daerah kecil bisa mendapat akses kredit perbankan.

Kita sasar ke pertanian dan berbagai sektor yang masih butuh sentuhan kebijakan, banyak mendorong inklusi ke depan untuk berkontribusi ke ekonomi," sambung Eko.

Ketiga, go sektoral, saat ini penyaluran kredit masih mayoritas ke sektor perdagangan dan industri, sedangkan sektor lainnya masih minim. Ke depan, diharapkan penyaluran kredit bisa merata ke berbagai sektor, sehingga ketika terjadi krisis, sektor yang tidak terdampak bisa menjadi penopang perekonomian.

"Kalau kredit ke industri dan perdagangan saja saat pandemi ini jadinya 'nyungsep'. Kalau bisa proporsional ke sektor lainnya, tentu dampak pandemi tidak akan besar," pungkas Eko.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN