Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso

Perbankan Syariah Diminta Fokus Garap Segmen Ritel dan UMKM

Rabu, 20 Januari 2021 | 20:06 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan syariah untuk fokus menggarap segmen ritel dan juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebab, kedua segmen tersebut bisa menjadi sumber pertumbuhan bank syariah ke depan.

"Bank syariah kita minta tetap fokus ritel dan UMKM, karena masyarakat butuh itu. Dengan ritel dan UMKM kuat, otomatis akan butuh off taker berbasis ekonomi dan syariah ini harus didukung ekosistem yang lengkap," terang Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam webinar, Selasa (19/1).

Wimboh mengungkapkan, nantinya ekosistem industri halal juga masuk dalam segmen tersebut. Oleh karena itu, perbankan syariah diharapkan bisa berkontribusi yang signifikan terhadap keuangan syariah dan perekonomian nasional.

Pihaknya menyampaikan bahwa saingan bank syariah bukan lagi produk dari level domestik, namun produk syariah dari luar negeri. "Kita harus punya pemain tangguh baik di dalam negeri atau di luar negeri. Kita harus perluas aksesnya, infrastruktur diperkuat dengan modal dan SDM, bagaimana mau bersaing global kalau SDM tidak disiapkan?," ungkap dia.

Selain itu, Wimboh juga mengharapkan perbankan syariah bisa menawarkan margin yang lebih murah untuk bisa berdaya saing, didukung dengan teknologi yang menjadi tulang punggung perbankan syariah.

"Price harus kompetitif, nanti begitu keluar kandang masa melipir dulu karena price region lebih murah? Dan teknologi harus jadi backbone ke depan," lanjut dia.

Untuk itu, perbankan syariah diminta fokus menggarap segmen ritel dan UMKM agar bisa bertumbuh dan mengadopsi digitalisasi untuk bersaing secara global.

"Nanti kita review, ada yang siap tidak? Kami tidak yakin ada, berarti harus ada kebijakan extraordinary. Utama dalam negeri itu ritel dan UMKM, di perbankan syariah yang alami masalah itu di komersial, saya tahu karena pernah jadi Komut Bank Mandiri, jadi fokus ritel dan UMKM saja," jelas Wimboh.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana dalam kesempatan yang sama menambahkan, sepanjang tahun 2020 pembiayaan perbankan syariah sebesar Rp 394,6 triliun, tumbuh 8,08% secara tahunan (year on year/yoy), jauh lebih tinggi dibanding kredit perbankan nasional yang terkontraksi -2,41% (yoy).

Untuk dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah tumbuh 11,80% (yoy) menjadi Rp 475,5 triliun, dengan FDR 82,4%. Indikator tersebut mengindikasikan likuiditas bank syariah masih melimpah untuk bisa disalurkan menjadi pembiayaan.

"Kita patut bersyukur bank syariah ini cukup baik. Tentunya dengan merger bank syariah Himbara, kita akan punya bank BUKU III mendekati BUKU IV, kita punya bank skala yang cukup besar untuk bisa fasilitasi kebutuhan ekosistem syariah seperti industri halal," ungkap Heru.

Adapun, market share perbankan syariah masih 6,51% yang disumbang dari 14 Bank Umum Syariah (BUS) dan beberapa dari Unit Usaha Syariah (UUS) dan juga Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). "Ini jadi perhatian kita agar bank syariah bisa jadi tulang punggung ekonomi syariah dan ekonomi nasional. Kita juga minta mereka fokus di ritel dan UMKM," ucap dia.

Ketua PMO Merger Bank Syariah BUMN Hery Gunardi menjelaskan, saat tiga bank syariah bergabung menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI), komposisi pembiayaan kepada UMKM akan ditingkatkan melebihi ketentuan yang ditetapkan regulator sebesar 20% dari total pembiayaan.

"Tentunya DNA dari BSI ini UKM dan mikro, sampai akhir tahun 2020 banyak sekali inisiatif BRIS, BNIS, dan Mandiri Syariah. Sampai saat ini fokus pengembangan UMKM, terutama program PEN, kita dapat dana Rp 3 triliun dan sudah salurkan 2 kali lipat," ucap Hery.

Dia menambahkan, dari ketiga bank syariah yang akan digabungkan memiliki unit khusus yang menangani mikro. Dengan begitu, setelah menjadi BSI nanti tetap akan dibawa menjadi salah satu fokus BSI meskipun tidak 100% di UMKM, tapi 23-25% dari total pembiayaan.

"BRIS itu kuat di UMKM dan mikro, itu ditularkan dari induknya BRI yang jadi tulang punggung BSI menjalankan bisnis. Kita targetkan pencapaian UMKM dari portofolio 23-25%, tidak hanya KUR syariah tapi value chain UMKM melalui digital," papar dia. 

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar menyampaikan, dalam masterplan pengembangan ekonomi syariah Indonesia, salah satunya adalah melakukan pengembangan industri halal yang juga sebagai penguatan UMKM. Segmen tersebut memiliki prospek yang cerah bahkan secara global.

"Ini menjadi hal yang penting kalau kita bicara mengenai halal lifestyle juga bagian dari pengembangan ekonomi syariah Indonesia, dan ada UMKM juga di dalamnya. Baik di dunia atau di Indonesia akan berimplikasi pada ekonomi dan kegiatan transaksi halal," kata Afdhal.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN