Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BFI Finance

BFI Finance

Piutang Pembiayaan Multifinance Mulai Naik

Senin, 17 Mei 2021 | 21:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id- Piutang pembiayaan multifinance mulai bergerak naik untuk pertama kalinya selama setahun belakangan. Piutang pembiayaan naik tipis 0,25% pada Maret 2021 menjadi Rp 362,70 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terakhir kali multifinance mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan adalah pada Maret 2020. Ketika itu pun, piutang yang dikelola hanya naik 0,04% secara month to month (mtm) menjadi Rp 452,47 triliun. Setelah itu piutang terus menurun hingga awal tahun 2021,

Kini piutang pembiayaan mulai naik pada Maret 2021, didorong kinerja dari lini pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Sementara pembiayaan multiguna yang mencakup pembiayaan kendaraan bermotor masih relatif turun terbatas, begitu juga pembiayaan dana tunai berdasarkan prinsip OJK yang cenderung stagnan.

Pembiayaan investasi naik 0,54% secara month to month (mtm) per Maret 2021 menjadi Rp 108,87 triliun. Sedangkan pembiayaan modal kerja naik 4,59% (mtm) menjadi Rp 26,60 triliun. Adapun pembiayaan berdasarkan prinsip syariah tumbuh 0,90% (mtm) menjadi Rp 11,27 triliun.

Jika ditilik berdasarkan kategori usaha debitur, hanya piutang pembiayaan pada segmen usaha menengah yang masih belum beranjak naik. Segmen usaha besar naik 2,14% (mtm) menjadi Rp 63,26 triliun. Segmen usaha kecil meningkat 2,72% (mtm) menjadi Rp 35,04 triliun. Segmen usaha mikro pun sudah tercatat tumbuh 1,65% (mtm) menjadi Rp 37,18 triliun.

Dari objek barang pembiayaan, per Maret 2021 OJK mencatat alat-alat berat naik 0,17% (mtm) menjadi Rp 27,23 triliun. Kemudian, pembiayaan pada mesin-mesin juga mulai naik 0,24% (mtm) menjadi Rp 9,66 triliun. Diantara barang produktif, hanya piutang pembiayaan rumah toko secara konsisten terus tumbuh sejak medio tahun lalu. Per Maret 2021, objek pembiayaan tersebut naik 6,45% (mtm) menjadi Rp 4,23 triliun.

Selanjutnya, akumulasi dari objek barang infrastruktur naik 4,99% (mtm) menjadi Rp 12,12 triliun. Utamanya didongkrak dari objek barang pembangkit listrik yang tumbuh 5,55% (mtm) menjadi Rp 11,69 triliun. Peningkatan juga dicatatkan oleh barang infrastruktur bagi instalasi minyak dan gas. Sedangkan barang infrastruktur bagi pelabuhan, bandar udara, jaringan telekomunikasi, dan lain-lain relatif stagnan.

Namun demikian, piutang pembiayaan multifinance masih sulit terkerek naik jika pembiayaan multiguna yang berkontribusi sekitar 60% masih belum pulih. Sampai Maret 2021, pembiayaan multiguna masih tercatat melambat 0,43% (mtm) menjadi Rp 216,77 triliun. Secara akumulatif, hanya objek pembiayaan motor bekas yang mulai naik, sedangkan sisanya seperti mobil baru dan bekas, motor baru, dan pembiayaan rumah tinggal belum bergerak naik.

Presiden Direktur PT Oto Multiarta Rusna menyampaikan, prospek usaha sektor otomotif di tahun 2021 cukup positif didukung dengan optimisme vaksinasi Covid-19 yang telah dilaksanakan sejak awal tahun 2021. Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil baru pada tahun 2021 dapat mencapai 750 ribu unit, khususnya untuk segmen mobil penumpang, mobil komersial, dan juga mobil elektrifikasi yang terdiri dari hybrid, plug in hybrid, dan mobil listrik.

Dia mengatakan, proyeksi tersebut juga mempertimbangkan dukungan pemerintah untuk terus mendorong laju pertumbuhan industri otomotif sebagai salah satu sektor industri nasional andalan. "Selain itu, dukungan dari pemerintah terhadap sektor otomotif melalui penerapan kebijakan insentif atau relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang diberlakukan sejak awal Maret 2021, memberikan keyakinan bahwa sektor otomotif dan industri pembiayaan akan tumbuh positif di tahun 2021," demikian tulis Rusna melalui annual report 2020 yang dirilis di keterbukaan informasi BEI, Senin (17/5).

Dia meyakini, segala aspek perbaikan yang dilakukan bisa membantu perusahaan mencapai kinerja yang lebih baik di tahun 2021. Perbaikan yang dimaksud misalnya mulai dari digitalisasi, proses bisnis pembiayaan, kualitas pembiayaan, meningkatkan target pasar, meningkatkan komunikasi yang intensif dengan mitra dealer, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas perseroan.

Selain melihat potensi otomotif, Presiden Komisaris PT Oto Multiarta Koichiro Nakayama menyatakan, perseroan perlu melakukan diversifikasi terhadap produk pembiayaan lain guna menghadapi situasi pandemi Covid-19. "Dengan demikian, pada tahun 2021, selain menyalurkan pembiayaan kendaraan bermotor, Perseroan juga akan berfokus kepada pembiayaan dana tunai dan sektor usaha produktif. perseroan juga akan meningkatkan komunikasi dengan para rekanan dealer serta melakukan peningkatan strategi pemasaran, sebagai upaya Perseroan dalam mencapai target pemasaran di tahun 2021," ungkap dia.

Sebelumnya, sejumlah multifinance lain telah melaporkan kinerja pembiayaan sampai kuartal I-2021. BFI Finance misalnya, sudah membuka seluruh keran pembiayaan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian karena memang perekonomian belum sepenuhnya stabil. Dengan begitu, penyaluran pembiayaan baru (booking) sampai kuartal I-2021 mampu tumbuh hingga 35,3% (qtq) menjadi Rp 2,93 triliun dibandingkan kuartal IV-2020.

Adapun porsi pembiayaan paling besar BFI Finance adalah pembiayaan mobil bekas sebesar 72,1% disusul oleh alat berat dan mesin sebesar 13,9%. Untuk pembiayaan motor bekas, perusahaan mencatat porsi 9,1%, dilanjuti pembiayaan mobil baru sebesar 1,9%. Sedangkan property backed financing (pembiayaan agunan properti) dan lainnya menyumbangkan 3% dari total piutang pembiayaan dikelola senilai Rp 13,6 triliun.

Selain pembiayaan mobil bekas, alat berat juga menjadi penyumbang portofolio penyaluran kredit cukup besar. Finance Director BFI Finance Sudjono mengungkapkan, perusahaan menargetkan pembiayaan alat berat sebesar 20%. Hal itu ditetapkan dengan melihat bahwa sektor konstruksi, pertambangan, agrikultur, dan kehutanan mulai menunjukkan geliat positif meski konservatif.

"Di kuartal II-2021 dan seterusnya nanti, kinerja baik ini akan terus kami pertahankan dan tingkatkan, dengan tetap mengawasi kelolaan risiko manajemen yang ketat karena bisnis pasca-pandemi akan memiliki tantangan yang berbeda," ucap Sudjono.

Di sisi lain, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman mengungkapkan bahwa perseroan membukukan pertumbuhan piutang pembiayaan baru sepanjang kuartal I-2021 sebesar 13% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 5,63 triliun. Total piutang pembiayaan itu didorong realisasi pembiayaan baru yang meningkat 5% (yoy), dari Rp 950 miliar di kuartal I-2020 menjadi Rp 1,00 triliun di kuartal I-2021.

Dia mengatakan, kinerja pertumbuhan pembiayaan dipengaruhi keputusan untuk meningkatkan persentase uang muka (down payment/DP). Selain itu, masa pandemi di tahun 2020 membuat persaingan berkurang, sehingga perseroan memiliki celah untuk mengakuisisi sejumlah nasabah, khususnya pada pembiayaan otomotif.

"DP dinaikkan tapi tetap tumbuh itu karena banyak dari multifinance lain stop booking. Persaingan kemarin itu menurun, tapi kita mendapatkan akun-akun yang sehat dengan mereka membayarkan DP 40-50%. Sekarang kita sudah menurunkan DP 20-25%. Kita sudah bisa melihat nasabah yang bisa bertahan melewati Covid-19," jelas Ristiawan.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN