Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).Sumber: BSTV

Heru Kristiyana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).Sumber: BSTV

Terbesar Sepanjang Sejarah, Restrukturisasi Kredit Capai Rp 971,1 Triliun

Rabu, 20 Januari 2021 | 05:00 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat realisasi restrukturisasi kredit dari 101 bank mencapai Rp 971,1 triliun hingga 4 Januari 2021. Kebijakan tersebut diberikan kepada 7,57 juta debitur terdampak pandemi Covid-19.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, 101 bank telah melakukan implementasi restrukturisasi kredit, dengan merestrukturisasi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp 387 triliun dari 5,81 juta debitur UMKM.

"Restrukturisasi per 4 Januari 2021 mencapai Rp 971,1 triliun, ini restrukturisasi terbesar sepanjang sejarah sejak saya jadi pengawas," ungkap Heru, Selasa (19/1).

Walaupun secara nominal baki debet lebih rendah, namun mayoritas debitur restrukturisasi merupakan UMKM. Akumulasi baki debet restrukturisasi UMKM 40% dan non UMKM 60% atau senilai Rp 584,45 triliun. Sedangkan, jumlah debitur UMKM mencapai 77% dan debitur non UMKM 23% atau sebanyak 1,76 juta debitur.

Kantor OJK/David Gita Rosa
Kantor OJK/David Gita Rosa

Dalam mengantisipasi pandemi yang masih terjadi hingga saat ini, OJK memperpanjang POJK 11 Tahun 2020 menjadi POJK 48 Tahun 2020 tentang restrukturisasi yang berlaku hingga Maret 2023 sebagai respon terhadap tantangan jangka pendek.

"Meski banyak diapresiasi sebagai kebijakan perintis yang mampu meredam dampak Covid dan menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, bagaimanapun kebijakan restrukturisasi kredit ini tetap menimbulkan dilema," terang Heru. Untuk itu, dalam POJK 48 OJK mengedepankan prinsip kehati-hatian yang perlu diperhatikan perbankan.

Spin Off UUS bersifat sukarela
Heru juga melihat tantangan yang dihadapi oleh perbankan syariah dari sisi permodalan. Oleh karena itu, OJK mengusulkan agar pemisahan diri (spin off) oleh Unit Usaha Syariah (UUS) perbankan menjadi tidak wajib tapi menjadi sukarela.

Adapun, peraturan spin off tercantum dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, di mana UUS perbankan diwajibkan untuk spin off maksimal pada tahun 2003. Namun, pasca-spin off, UUS perbankan akan membutuhkan permodalan yang cukup besar untuk bisa melanjutkan kegiatan usahanya karena sudah tidak bergantung kepada induknya lagi.

Heru mengungkapkan, saat ini masih sulit bagi UUS melakukan pemisahan diri dengan induk akibat keterbatasan permodalan, terlebih bagi UUS bank kecil atau Bank Pembangunan Daerah (BPD).

"Pemerintah juga meluncurkan rencana UU Sektor Keuangan, kita masukkan aspirasi supaya spin off bukan lagi mandatory, tapi voluntary," terang Heru.

Menurut Heru, diharapkan aspirasinya bisa direalisasikan, sehingga spin off tidak bersifat wajib seperti dalam peraturan sebelumnya. Hal tersebut untuk mendukung keberlangsungan perbankan termasuk UUS. "Bagi yang kuat silakan (spin off) dan yang belum (siap) tetap bergabung dengan induk dan tetap melakukan kegiatan anak usaha syariah. Kita berdoa ini bisa seperti itu, kita punya waktu beberapa lama lagi untuk spin off," kata Heru.

Di sisi lain, pihaknya belum menerima laporan permintaan dari bank yang hendak melakukan konversi usaha dari konvensional menjadi syariah. "Selama ini yang melakukan konversi itu BPD NTB Mataram, saya belum lihat apa ada yang mengajukan konversi lagi. Tapi kita tetap support pengembangan bank syariah kita," pungkas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN