Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

Tumbuh 30%, Transaksi Digital Banking akan Tembus Rp 35.600 Triliun

Rabu, 4 Agustus 2021 | 22:31 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksi nilai transaksi digital banking pada tahun 2021 tumbuh 30,1% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 35.600 triliun. Sementara itu, nilai transaksi digital banking sampai semester I-2021 tumbuh 39% (yoy) menjadi Rp 17.901 triliun.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Fillianingsih Hendarta menyampaikan, transaksi ekonomi keuangan digital terus tumbuh, sejalan dengan tiga fenomena utama. Pertama, yaitu meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk terus tumbuh.

"Kedua, adanya perluasan pembayaran digital. Berbagai inovasi yang diberikan, baik bank atau non-bank kepada konsumennya, kanalnya, juga mengakselerasi. Ketiga, adanya akselerasi digital banking. Kita melihat bahwa bukan hanya fintech yang melakukan transformasi, bank juga tidak kalah untuk melakukan transformasi digital melalui transformasi akuisisi nasabah dan layanan," terang dia pada sesi diskusi acara The Digital Payment Transformation yang ditayangkan Infobank TV, Rabu (4/8/2021).

Fillianingsih menuturkan, perubahan perilaku dan fenomena di atas membuat nilai transaksi digital banking, e-commerce, uang elektronik, dan QRIS tumbuh subur. Khusus bagi digital banking, sampai semester I-2021 mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 17.901 triliun atau meningkat sebesar 39% (yoy). "Kita melihat bahwa akseptasi masyarakat terhadap layanan digital perbankan juga mendorong peningkatan digital banking. Ini akan meningkat 30%, secara nominal mencapai Rp 35.600 triliun, dari 27.036 triliun di 2020," terang dia.

Selanjutnya, nominal transaksi di e-commerce sampai dengan semester I-2021 mencapai Rp 186 triliun atau meningkat 63% (yoy). Nilai transaksi e-commerce diperkirakan meningkat 48% di akhir 2021 mencapai Rp 395 triliun, dari Rp 253 triliun di 2020.

Fillianingsih mengungkapkan, pertumbuhan nilai transaksi di e-commerce ditopang oleh tiga hal. Pertama, berlanjutnya shifting perilaku konsumen ke arah digital. Kedua, efisiensi penggunaan digital payment. Ketiga, inovasi yang dilakukan oleh para marketplace dan kerja sama dengan bank maupun non-bank.

Sementara realisasi nilai transaksi uang elektronik pun demikian, BI mencatat sampai semester I-2021 mencapai Rp 132 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 41% (yoy). BI memproyeksi nilai transaksi uang elektronik akan meningkat 35,7% (yoy) mencapai Rp 278 triliun di 2021, dibandingkan 2020 sebesar Rp 201 triliun.

"Untuk uang elektronik, kami perkirakan ini akan terus tumbuh didorong oleh beberapa hal. Satu, perluasan e-commerce pembayarannya dilakukan melalui e-money. Kedua, adalah ride hailing sudah berubah, sekarang tidak lagi mengangkut orang, tapi lebih pada barang atau makanan, GoFood segala macam. Ketiga, logistik yang meningkat karena banyak orang belanja daring. Keempat adalah digital payment, semakin banyak pilihan dari masyarakat," jelas Fillianingsih.

Adapun game changer terakhir bagi ekonomi keuangan digital (EKD) adalah transaksi pada QRIS. Sampai semester I-2021 nilai transaksi QRIS mencapai Rp 9 triliun atau tumbuh sebesar 214% (yoy). Jumlah juga merchant sudah mencapai 8,2 juta yang mayoritas adalah UMKM. BI sendiri menargetkan 12 juta merchant di akhir 2021 terintegrasi QRIS.

Fillianingsih menegaskan, BI optimistis terhadap outlook EKD 2021 itu dengan melihat empat fakta digitalisasi. Pertama adalah transformasi produk dan layanan e-commerce. Peralihan perilaku masyarakat ke arah digital melalui platform e-commerce dimanfaatkan oleh para pelaku untuk terus berinovasi untuk mendapatkan customers loyalty.

Kedua adalah perluasan kolaborasi antara pelaku. Perluasan ekosistem digital menjadi kunci keberhasilan. Adapun perluasan ekosistem digital yang dimaksud tidak harus dilakukan melalui pendekatan kepemilikan perusahaan, akuisisi, atau merger. Tapi dilakukan melalui kolaborasi yang produktif seperti bank dengan fintech, bank dengan e-commerce, atau fintech dengan e-commerce.

Hal ketiga adalah perluasan ekosistem melalui aksi korporasi. Setelah tumbuh pesat pada tahun 2020, beberapa perusahaan teknologi termasuk di Indonesia diproyeksikan akan melakukan konsolidasi untuk memperluas ekosistem. "Ini menjadi pilihan, sekedar melakukan kolaborasi atau juga melalui aksi korporasi. Beberapa aksi yang telah terjadi misalnya antara GoJek dan Tokopedia, investasi Grab dengan Emtek, rencana IPO Bukalapak dan lainnya," jelas dia.

Sedangkan fakta keempat adalah digitalisasi perbankan. Digitalisasi bank itu semakin luas, baik pelaku lama atau pelaku baru melalui sejumlah strategi. Misalnya seperti penguatan kapasitas internal dari strategi, proses bisnis, core banking. Selain itu, melakukan akuisisi bank kecil serta perluasan ekosistem.

Keseimbangan Baru

Pada kesempatan sama, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) atau BNI YB Harianto menyampaikan, hal yang penting bagi pelaku industri jasa keuangan saat ini adalah mengerti untuk memposisikan diri saat era keseimbangan baru (new equilibrium) berlangsung. Di BNI, ada tiga hal dalam digitalisasi untuk bisa memposisikan diri saat ini dan di masa mendatang.

Pertama adalah yakni digitalisasi proses internal, semua produk harus digital ready dan bisa dijual ke berbagai platform. Kedua, membangun digital platform bagi nasabah dan internal menjalankan proses bisnis. Ketiga, melakukan open banking atau open API. "Kita sudah melakukan open API dengan total sekitar 290 services, dan sudah terhubung dengan lebih dari 3.000 partner seperti fintech dan lainnya. BNI sangat terkoneksi dengan ekosistem," kata dia.

Data BNI memaparkan, sampai dengan kuartal I-2021 pengguna mobile banking tumbuh 58,4% (yoy) menjadi sebanyak 8,56 juta. Sementara pertumbuhan volume transaksi nasabah ritel melalui mobile banking tumbuh CAGR 141% CAGR sejak 2016.

Kepala Group Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono Gani menambahkan, digitalisasi keuangan adalah masa depan. Tren saat ini sudah berbasis platform, banyak pengajuan kredit dan pembelian asuransi sudah bisa melalui satu platform. Hal itu diyakini masih akan berlangsung di masa depan.

"Orang-orang tradisional, memang masih melihat perbankan itu penting. Tapi untuk para progresif termasuk milenial, penting melakukan integrasi. Baik itu melalui perbankan atau asuransi, yang penting produk keuangan itu bisa dibeli. Nah itu yang fenomena cukup menarik, artinya itu layanan yang harus diintegrasikan melalui sebuah platform," kata dia.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN