Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebagian obat herbal mengklaim dapat menyembuhkan Covid-19

Sebagian obat herbal mengklaim dapat menyembuhkan Covid-19

Klaim Obat Covid-19 Harus Ada Uji Klinis pada Manusia

Senin, 10 Agustus 2020 | 17:10 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.idPandemi Covid-19 belum berakhir. Sementara itu, belakangan bermunculan klaim obat herbal yang dapat menyembuhkan penyakit Covid-19 atau dapat membunuh virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19.

 

Ketua YLKI Tulus Abadi mengungkap, selama pandemi Covid-19 terjadi, ada sejumlah obat herbal yang mengklaim merupakan obat Covid-19. “Karena khawatir dan belum ada vaksinnya, banyak masyarakat tergiur membeli obat herbal tersebut,. Namun memang, sampai saat ini belum ada pengaduan yang masuk ke YLKI terkait herbal tersebut,” ungkap Tulus dalam diskusi bertema Menyikapi Maraknya Klaim Obat Covid-19 Melalui Media Sosial yang digelar YLKI bersama BPOM secara online, Senin (10/8/2020).

 

Benarkah klaim tersebut? Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Drs.Rr. Maya Gustina Andarini, Spt., Msc. menegaskan, sebuah obat herbal tak asal bisa mengklaim sebagai obat Covid-19. “Sebuah herbal, untuk bisa menjadi fitofarmaka untuk Covid-19 atau obat Covid 19, harus melakukan uji klinis pada manusia dan terbukti dapat menyembuhkan Covid-19 dan aman. Kalau sebuah herbal hanya punya izin edar dari BPOM sebagai imunomodulator atau peningkat daya tahan tubuh, gak bisa disebut sebagai obat Covid-19,” tegas Maya.

 

Kalau herbal sebagai jamu, memang tak perlu uji klinis. “Namun, jamu juga tak bisa diklaim sebagai obat Covid-19. Apalagi secara empiris atau pengalaman, belum ada pengalaman jamu dapat mengobati Covid-19 karena penyakit ini kan baru muncul. Maka itu, untuk membuktikanapakah bisa mengobati Covid-19, perlu ada uji klinis pada manusia,” tegas Maya lagi.

 

Saat ini, ungkap Maya, BPOM sedang mendampingi 11 penelitian obat herbal terkaid Covid-19 di beberapa rumah sakit. “Penelitian melibatkan pemerintah, juga universitas. Salah satunya penelitian obat herbal yang dilakukan Kalbe di Wisma Atlet,” ungkap Maya.

 

Penangan yang buruk

 

Dalam penilaian YLKI, maraknya klaim obat herbal sebagai obat Covid-19 didorong oleh tiga faktor. “Ada tiga faktor penyebab munculnya klaim obat Covid-1, yaitu buruknya manajemen politik penanganan wabah, aspek tekanan psikologis kosumen, lemahnya literasi konsumen terhadap produk obat, dan belum optimalnya penegakan hukum,” papar Tulus Abadi.

 

Pemerintah, dalam pengamatan YLKI, terlalu fokus pada aspek recovery ekonomi sehingga justru penularan Covid semakin meluas, malah pertumbuhan ekonomi pun minus 5,13%, Indonesia dan diambang resesi. “Pejabat publik juga memberikan contoh buruk dalam respon virus corona, mulai mengatakan Indonesia sehat karena nasi kucing, jamu Pancasila, sampai kalung eucaliptus. Karena itu, jangan heran kalau bermunculan klaim obat Covid dengan jargon dapat membunuh virus,” ujar Tulus.

 

Hal ini, lanjut Tulus, diperparah oleh tingkat literasi masyarakat terhadap produk obat yang rendah. Juga fenomena endorsmen oleh artis dan tokoh atau pejabat terhadap produk tertentu seperti kometik, jamu, dan herbal yang terbukti belum mengantungi izin edar BPOM. Selain itu, klaim semakin marak karena ringannya vonis hukum bagi pelaku pembuat obat yang terbukti mengelabui konsumen sehingga tak membuat pelakunya jera.

 

“YLKI mendorong agar kasus-kasus yang masuk ke ranah hukum pidana dapat divonis yang tak ringan sehingga membuat pelakunya jera,” tandas Tulus.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN