Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita (kiri) meninggalkan Pusat Perawatan Medis Wuhan, di kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, pada 12 Januari 2020. Pemerintah Tiongkok menyampaikan pada 11 Januari 2020, bahwa seorang pria berusia 61 tahun telah menjadi korban pertama yang meninggal dunia karena penyakit pernapasan yang diyakini disebabkan oleh virus baru dari patogen SARS (Severe acute respiratory syndrome), yang merenggut ratusan nyawa lebih dari satu dekade silam. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Seorang wanita (kiri) meninggalkan Pusat Perawatan Medis Wuhan, di kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, pada 12 Januari 2020. Pemerintah Tiongkok menyampaikan pada 11 Januari 2020, bahwa seorang pria berusia 61 tahun telah menjadi korban pertama yang meninggal dunia karena penyakit pernapasan yang diyakini disebabkan oleh virus baru dari patogen SARS (Severe acute respiratory syndrome), yang merenggut ratusan nyawa lebih dari satu dekade silam. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Virus Korona Baru Sudah Menjangkiti Tiga Negara

Iwan Subarkah Nurdiawan, Selasa, 21 Januari 2020 | 09:00 WIB

Virus misterius yang mirip SARS sudah menyebar di Tiongkok dan sudah mencapai lebih dari 200 kasus terdiagnosis di kota Wuhan, Beijing, serta Shenzhen. Virus yang disebut korona ini juga sudah menginfeksi dua orang di Thailand serta satu di Jepang.

- Virus Korona-

Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penyebaran penyakit ini di Wuhan baru pertama kali terjadi. Penyakit ini termasuk ke dalam keluarga virus yang mencakup flu biasa hingga penyakit yang lebih serius seperti SARS.

Arnaud Fontanet, kepala departemen epidemiologi Institut Pasteur di Paris, Prancis mengatakan, virus ini adalah tipe ketujuh dari virus korona yang dapat menjangkiti manusia.

“Kami perkirakan sumbernya adalah hewan-hewan yang dijual di pasar lalu virusnya berpindah ke manusia,” ujar dia kepada AFP, Senin (20/1).

WHO menyatakan hewan kemungkinan besar adalah sumber utama virus ini. Perpindahannya antarmanusia dimungkinkan bila terjadi kontak dalam jarak dekat, tapi terbatas.

Penyebarannya merisaukan karena terkait dengan SARS atau penyakit sindrom pernafasan akut parah, yang menewaskan 349 orang di Tiongkok daratan dan 299 di Hong Kong sepanjang 2002 dan 2003.

Fontanet mengatakan, virus yang baru ini 80% secara genetik sama dengan SARS, yang juga menyebabkan masalah pernafasan serius.

Sebanyak 201 orang di Tiongkok sudah terdiagnosis terpapar virus tersebut. Sebanyak tiga orang di antaranya sudah meninggal dunia.

- Tingkat Keparahan -

Menurut Fontanet, virus korona yang saat ini kelihatannya lebih lemah dibandingkan SARS. Tapi, bisa bermutasi menjadi virus yang lebih ganas.

“Kami tidak punya bukti untuk mengatakan virus ini akan bermutasi, tapi itu yang terjadi dengan SARS. Virusnya baru beredar dalam waktu singkat, jadi terlalu dini untuk mengatakan itu,” kata Fontanet.

Namun begitu, sudah ada beberapa kasus kontak antarmanusia. Di masa lalu, hal ini menjadi penanda utama terjadinya wabah.

Pihak berwenang di Wuhan pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa beberapa kasus baru tidak memiliki catatan kontak dengan pasar makanan laut, yang diyakini menjadi pusat penyebaran.

Jeremy Farrar, kepala badan amal kesehatan Wellcome mengatakan, sudah terjadi penyebaran virus korona antarmanusia. Koleganya Mike Turner menambahkan, risiko kontaminasi virus ini secara luas juga ada, mengingat tingginya tingkat perjalanan udara di Asia.

“Dibandingkan tiga hari lalu, kita semua sudah lebih waspada. Salah satu konsekuensi dunia yang saling terhubung adalah wabah ini berpotensi menyebar ke seluruh dunia lebih cepat dibandingkan 50 tahun lalu,” ujar Turner.

Para ilmuwan di MRC Centre for Global Infectious Disease Analysis di Imperial College, London, Inggris dalam makalahnya pekan lalu mengingatkan bahwa jumlah kasus di Wuhan kemungkinan mendekati 1.700 atau jauh lebih banyak dari angka resmi.

Penyebaran antarmanusia juga tidak dapat dikesampingkan dan pengawasan harus ditingkatkan di Tiongkok.

WHO sudah menyarankan semua orang untuk melindungi diri sendiri dari virus itu dengan membasuh tangan secara menyeluruh, menutup hidung saat bersin, memasak daging dan telur hingga matang, dan menghindari kontak jarak dekat dengan hewan liar atau ternak.

Pada Jumat (17/1) Centers for Disease Control and Prevention di AS menyatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan lebih seksama terhadap para penumpang yang baru tiba langsung atau penerbangan lanjutan dari Wuhan.

- Respons Sejauh Ini -

Fontanet mengatakan, para petugas kesehatan di Tiongkok menunjukkan respons luar biasa dengan lekas melakukan pengujian di antara pasien dan memeriksa pasar yang diduga menjadi pusat penyebaran virus ini.

“Kita sudah cukup belajar dari SARS sehingga sekarang lebih siap dan sigap,” kata dia.

Adam Kamradt-Scott, pakar tentang penyebaran dan pengendalian penyakit menular University of Sydney mengatakan, Tiongkok juga bertindak cepat dengan membagikan rangkaian genom dari virus korona baru ini. “Sehingga ini membantu identifikasi kasusnya di Jepang,” ujar dia.

Transparansi itu kontras dibandingkan dengan pada awal penyebaran SARS. “Tatkala Tiongkok menutupi kasusnya selama dua atau tiga bulan,” kata Fontanet. (afp/sn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA