Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Asing Berpotensi Kuasai Bisnis Rantai Pendingin

Kamis, 5 Maret 2015 | 12:44 WIB
ah

JAKARTA – Pesatnya pertumbuhan industri makanan olahan di Indonesia belum diimbangi keberadaan industri rantai pendingin makanan (cold storage) yang memadai. Jika hal ini dibiarkan, bisnis rantai pendingin nasional berpotensi dikuasai pemain asing saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) berlaku akhir tahun ini.


Direktur Eksekutif Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni menyatakan, kapasitas terpasang industri rantai pendingin nasional hanya sanggup memenuhi 60% kebutuhan nasional. Oleh karena itu, ARPI meminta pemerintah segera memberikan sejumlah fasilitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan industri rantai pendingin makanan dalam negeri. Industri ini membutuhkan tambahan investasi sekitar US$ 400 juta untuk menambah kapasitas terpasang sebesar 500 ribu ton per tahun.


“Investasi per ton mencapai US$ 800, sehingga kebutuhan investasi penambahan kapasitas sebesar 500 ribu ton mencapai US$ 400 juta,” ungkap dia pada workshop Daya Dukung Industri Mesin Logistik Berpendingin untuk Produk Hasil Laut dan Perikanan Nasional di Jakarta, Rabu (4/3).


Dengan adanya penambahan kapasitas sebesar itu, dia menyatakan, ARPI menargetkan industri rantai pendingin tumbuh 7% tahun ini. “Masih banyak hambatan investasi yang dikeluhkan oleh para investor. Selain persoalan infrastuktur, minimnya fasilitas fiskal yang ditawarkan pemerintah menjadi kendala untuk penyerapan investasi di sektor industri rantai pendingin,” tutur dia.


Dia menjelaskan, untuk sektor industri rantai pendingin yang bahan bakunya 100% masih diimpor, pemerintah hingga kini belum mau memberikan fasilitas pembebasan bea masuk (BM) komponen. Demikian halnya dengan fasilitas tax holiday untuk pembangunan pabrik perakitan cold storage di dalam negeri. Padahal, lanjut Hasanuddin, paket insentif fiskal tersebut sangat dibutuhkan untuk mendorong investasi di sektor industri rantai pendingin makanan di Indonesia.


Sementara itu, pemerintah siap mengalokasikan dana Rp 220 miliar untuk membangun 58 unit cold storage di 22 provinsi sepanjang tahun ini. Pembangunan cold storage berkapasitas 30 ribu ton tersebut untuk menampung berbagai hasil produksi perikanan yang diambil dari daerah sentra produksi.


Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saut P Hutagalung mengatakan, pengadaan 58 cold storage tersebut lebih banyak dibandingkan pemerintahan tahun lalu yaitu sebanyak 70 unit selama lima tahun. Rencananya, pemerintah akan membangun 280 cold storage selama lima tahun ke depan.


Direktur Industri Permesinan dan Alat Angkut Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Teddy Sianturi mengatakan, untuk memproteksi industri cold storage lokal, Kemenperin siap membantu ARPI untuk menyeragamkan standar di Indonesia.


“Tugas kami mengoptimalkan penggunaan produk dalam negeri, dan terkait kualitas, kami harus lihat standar. Standar yang dimaksud disini yaitu bisa SNI (Standar Nasional Indonesia),” kata dia.

Teddy juga mengatakan, selama ini Kemenperin masih menunggu pengajuan SNI cold storage. Jika sudah diajukan oleh asosiasi industri tersebut, Kemenperin baru bisa memfasilitasi. Sebab, yang lebih mengenal spesifikasi dari cold storage tersebut yaitu hanya pelaku industri sendiri. (ac)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN