Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kemenperin Percepat Penyelesaian Perundingan IA-CEPA

Rabu, 18 Juli 2018 | 23:00 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakselerasi penyelesaian perundingan perdagangan bebas, Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kerja sama bilateral yang komprehensif dinilai efektif mendongkrak ekspor produk Indonesia ke Australia.


Ekspor nasional ke Australia sepanjang semester I-2018 naik 15,27% menjadi US$ 1,059 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 920,2 juta. Kemenperin akan menggenjot ekspor ke Australia berupa produk tekstil, pakaian, dan alas kaki.


Untuk itu, demikian Menperin, pemerintah meminta penurunan tarif bea masuk (BM) produk-produk tersebut, yang saat ini berkisar 10-17%.


“Kalau bisa, tarif BM dihapuskan atau menjadi 0%,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (17/7).


Airlangga menegaskan, pihaknya juga akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Australia berupa kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) baik itu mesin yang menggunakan bahan bakar maupun elektrik. “Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita,” ujarnya.


Terkait mobil listrik tersebut, Menperin menegaskan, Australia masih meminta agar produk yang masuk ke negaranya adalah kendaraan dengan komponen Asean sebesar 40%, sedangkan Indonesia mengusulkan berkisar 20-30%. “Nah, itu yang masih dinegosiasikan,” kata Menperin.


Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menyatakan, peluang ekspor kendaraan Indonesia ke pasar Australia cukup besar. Terlebih lagi, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan menjadi percontohan pada tahap awal untuk implementasi industri 4.0 di Tanah Air.


“Di dalam roadmap tersebut, pemerintah akan memacu industri otomotif nasional agar mampu menjadi champion untuk ekspor kendaraan ICE (internal combustion engine/mesin pembakaran dalam) dan EV (electric vehicle/kendaraan listrik),” jelasnya.


Genjot Investasi dan ekspor

Pada kesempatan berbeda, Menperin mengatakan, pemerintah terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan ekspor. Airlangga mengatakan ekspor dan investasi akan diperkuat, termasuk di sektor industri smelter atau pengolahan mineral.


Pemerintah juga menyiapkan insentif dan kebijakan pendukung, khususnya untuk industri padat karya yang berorientasi ekspor seperti tekstil, garmen, dan sepatu.


“Kami telah mengusulkan insentif untuk memudahkan relokasi pabrik ke daerah dengan tingkat upah minimum regional yang rendah. Agar pertumbuhan ekonomi dapat bergerak merata,” ucap dia.


Selanjutnya, pemerintah mendorong penggunaan serbuk karet atau crumb rubber untuk bahan baku aspal yang dimaksudkan untuk meningkatkan permintaan komoditas tersebut.


Di sisi lain, optimasi serbuk karet ini diyakini bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku campuran aspal lain yang sifatnya masih impor. (ajg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN