Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Negosiasi IK-CEPA Tetap Terbuka

Selasa, 9 September 2014 | 13:55 WIB
Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah

JAKARTA--Dirjen Kerjasama Industri Internasional (KII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Agus Tjahajana mengatakan, perundingan atas rencana kerjasama ekonomi komprehensif bilateral Indonesia-Korea (Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IK-CEPA) tetap terbuka. Agus menjelaskan, perundingan terhenti sesuai permintaan Korea yang ingin fokus pada perundingan bilateralnya dengan negara lain.

Selain itu, lanjut Agus, pihak Korea juga belum menyepakati permintaan Indonesia dalam perundingan yang terhenti hingga putaran ketujuh tersebut. Yakni, terkait jaminan komitmen investasi oleh Korea di Indonesia. Korea, kata Agus, tidak menjamin arus investasi ke Indonesia dan menyerahkannya pada pihak swasta.

"Karena isu itu belum disepakati, dan Korea ingin fokus ke perundingan lain, mereka menarik diri dari perundingan. Kalau sekarang Korea ingin melanjutkan lagi, silakan. Yang jelas, ini adalah CEPA, bukan sekadar kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement/ FTA). Kita harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dan, kalau mau pasar diliberalkan, kalau kita tidak mendapat komitmen apa-apa, untuk apa," kata Agus di Jakarta usai mendampingi Menteri Perindustrian MS Hidayat menerima Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan John A Prasetio di Jakarta, Senin (8/9).

Menurut Agus, Korea dalam perundingan sebelumnya, meminta Indonesia membebaskan bea masuk (BM) atas sejumlah pos tarif yang terkategori dalam sensitive list dan high sensitive list dalam mekanisme Asean-Korea FTA. Indonesia, kata dia, bersedia membuka sejumlah pos tarif dengan syarat Korea mendorong investasi di industri di Indonesia. Namun, kata dia, pihak Korea tidak bersedia memberikan jaminan.

"Dari total 8.593 pos tarif di sektor industri, hanya tinggal 1.051 pos tarif yang kita jaga BM nya tetap 5% dan ditahan di situ per 2016. Korea meminta pos-pos itu dibuka. Tapi, tanpa jaminan investasi. Kita kemudian dituding terlalu memproteksi, padahal itu hanya sisa sekitar 5% dari seluruh pos tarif. Sementara, ketika pos tarif terlalu dibebaskan, itu akan menghambat upaya pengembangan industri berteknologi tinggi. Padahal, saat ini, hingga 60% industri kita berada di kategori medium to low. Ketika mereka meminta masuk ke pasar yang medium high Indonesia secara bebas tanpa perlindungan, investor tidak akan lagi masuk ke sektor itu. Kita akan selalu berada di segmen medium low," kata Agus. (eme)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN