Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Malaysia Bangun Infrastruktur Maritim di Cirebon Rp 70 Triliun

Kamis, 4 Juni 2015 | 10:46 WIB
Oleh Harso Kurniawan dan Ridho Syukra

JAKARTA – Sejumlah investor asal Malaysia berniat membangun infrastruktur maritim di Cirebon, Jawa Barat. Total dana yang digelontorkan mencapai US$ 5,3 miliar atau sekitar Rp 70 triliun dalam tiga tahun ke depan.


Amanah Nusantara International Sdn Bhd (ANI), perusahaan investasi asal Malaysia, bakal bertindak sebagai koordinator perusahaan-perusahaan asal negara tersebut yang ingin menanam modal di Indonesia. Perusahaan Malaysia akan menggarap tiga proyek di Cirebon, yakni pelabuhan ikan yang dilengkapi gudang penyimpanan (cold storage), pelabuhan maritim, serta perumahan dan properti komersial. Proyekproyek tersebut mulai dikerjakan selepas Lebaran tahun ini.


Investasi perusahaan Malaysia ini sejalan dengan niat pemerintah memperkuat industri maritim dan doktrin Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Mereka tertarik masuk sektor pelabuhan dan logistik Nusantara karena potensinya sangat besar.


Tahun ini, total omzet sektor logistik Indonesia diperkirakan tumbuh 14,5% menjadi Rp 2.290 triliun dibanding tahun lalu Rp 2.000 triliun. Tren ini diperkirakan terus bertahan dalam beberapa tahun ke depan, seiring rencana pemerintah membangun infrastruktur secara besar-besaran dan booming bisnis e-commerce.


Di sisi lain, pemerintah menargetkan biaya logistik turun menjadi 18% terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam beberapa tahun ke depan, dibanding tahun lalu sebesar 24%. Adapun porsi biaya logistik terhadap penjualan tahun lalu mencapai 14%.


Demikian rangkuman pendapat Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Logistik Carmelita Hartoto, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita, pengamat logistik Nofrisel, serta Asisten Deputi Sistem Logistik dan Fasilitas Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erwin Raza. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Rabu (3/6).


Ketua ALI Zaldy Masita menuturkan, BUMN, swasta, dan asing perlu bekerja sama membangun infrastruktur pelabuhan dan logistik. Sebab, pembangunan infrastruktur akan mandek jika hanya mengandalkan BUMN.


“Padahal, kita sudah tertinggal selama puluhan tahun dari negara tetangga. Kita lihat saja saat ini, di mana empat BUMN pelabuhan tidak banyak mengembangkan pelabuhan baru,” kata dia.


Dia menambahkan, yang perlu diatur pemerintah adalah masalah konsesi. Selama ini, tidak ada kejelasan soal perhitungan konsesi yang diberikan kepada operator pelabuhan. Contohnya PT Pelindo II memegang konsesi Kalibaru selama 90 tahun. “Aturan konsesi perlu diperjelas. Jangan sampai ada operator pelabuhan asing yang masih dan beroperasi selama-lamanya,” kata dia.


Masalah lainnya, menurut Zaldy, adalah pengusaha lokal tidak diberi kesempatan menjadi operator pelabuhan. Contohnya Hutchison menjadi operator di Pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan Dubai Port di Pelabuhan Tanjung Perak Semarang.


Dia menambahkan, beberapa investor asing tadinya berniat masuk ke proyek Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, dengan potensi investasi US$ 6 miliar. Namun, rencana itu kandas karena pemerintah resmi membatalkan proyek Cilamaya.


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/perpres-no-392014-beri-kepastian-hukum-investor/118072

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN