Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Saksi Ahli: Beritikad Baik, Dana Nasabah Wanaartha Tidak Seharusnya Disita

Jumat, 18 Juni 2021 | 20:02 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA -  Sejumlah nasabah Wanaartha Life yang tergabung dalam wadah Swanaartha terus memperjuangkan haknya terkait dana polis yang ikut disita Kejaksaan Agung. Keputusan penyitaan didasari alasan  karena tersangkut kasus  PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Merespons keputusan itu,  pada sidang keberatan,  para nasabah menghadirkan saksi ahli pidana Heru Susetyo. Saksi yang dihadirkan menilai, karena punya itikad baik, dana nasabah tidak bisa disita.

Heru mengatakan, proses penegakkan hukum dengan cara melanggar hukum merupakan tindakan yang tidak benar dan serampangan. Penyitaan aset Wanaartha oleh Kejaksaan Agung tidaklah benar dikarenakan Wanaartha bukanlah pihak yang berperkara di dalam Sidang Terdakwa Benny Tjokrosaputro.

"Apalagi dalam sitaan tersebut merupakan asset dan dana milik Pemegang Polis yang sudah menyetorkan preminya," kata dia pada Sidang Keberatan Nomor 32 di PN Jakarta Pusat melalui keterangan resmi, Jumat (18/6).

Arumen tersebut senada dengan keterangan yang disampaikan Heru pada sidang  sebelumnya yaitu Sidang Keberatan Nomor 02 dengan pihak keberatan adalah nasabah Forsawa Bersatu. Pada sidang 6 April 2021 lalu, Heru mengatakan, para pemegang polis adalah pihak ketiga yang beritikad baik dan bukanlan para pelaku kejahatan.

"Para pemegang polis dalam keberatan ini adalah pihak ketiga yang beritikad baik, bukanlah pelaku kejahatan, tidak terlibat di dalam tindakan pidana korupsi, tidak mengetahui dan mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu akan adanya proses penyitaan atau perampasan. Sehingga seharusnya dana pemegang polis tidak bisa disita dan harus dikembalikan kepada nasabah demi hukum," terang dia.

Pada kesempatan itu, dia mengutip Pasal 19 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No. 31/1999). Pada intinya, setiap putusan perampasan barang pihak ketiga yang beritikad baik dapat mengajukan surat keberatan dan mendapat perlindungan hukum. Perampasan barang-barang bukan kepunyaan terdakwa tidak dijatuhkan, apabila hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik akan dirugikan, pihak ketiga yang beritikad baik dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan.

Untuk diketahui, dana pemegang polis Wanaartha saat ini turut disita dalam kasus Jiwasraya dengan terdakwa Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat dikarenakan disinyalir dana tersebut merupakan milik Benny Tjokrosaputro. Namun demikian, juga diketahui Wanaartha sebagai lembaga keuangan asuransi yang dipercaya dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga saat ini tidak pernah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut dan hanya dimintai keterangan saja sebagai saksi.

Saksi ahli Heru Susetyo usai memberi keterangan  atas usulan nasabah Wanaartha Life, Jumat (18/6).
Saksi ahli Heru Susetyo usai memberi keterangan atas usulan nasabah Wanaartha Life, Jumat (18/6).


Oleh karena itu, Heru menuturkan, telah terjadi pelanggaran terhadap hak-hak pihak ketiga. Pihak ketiga telah menjadi korban dari proses penegakan hukum yang unfair+flawed (criminal justice system), pihak ketiga tersebut tidak dimintai keterangan baik selama proses penyidikan maupun proses pemeriksaan di persidangan.

"Hal ini terbukti dimana pihak ketiga tersebut bukan sebagai saksi, bukan pula sebagai terdakwa, serta bukan pula sebagai Nominee sesuai dengan berkas perkara, sehingga tidak ada jalan bagi pihak ketiga untuk menjelaskannya di muka persidangan. Penyitaan ini sewenang-wenang dan mencederai Pihak Ketiga dan Telah terjadi kesewenang-wenangan dan pelanggaran hak para korban. Penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara melanggar hukum" ujar Heru.

Kuasa Hukum Nixon Sipahutar menyatakan, Pemegang Polis merupakan pihak ketiga yang beritikad baik dan jelas kedudukannya. Dalam sidang Benny Tjokrosaputro, nasabah tidak pernah dimintakan pendapat atau kesaksiannya, dan asset uang yang ada di Wanaartha jelas punya nasabah.

"Hal ini juga dikemukakan oleh Pihak Wanaartha sendiri dalam sidang Benny Tjokrosaputro dan dalam sidang keberatan Wanaartha lainnya, jadi bila hingga sekarang Kejaksaan Agung masih bersikeras tidak mau mengembalikan, sungguh sangat tidak masuk akal. Tidak berprikemanusiaan terhadap pemegang polis, dan yang terutama melanggar hukum," ucap dia.

Dia menambahkan, kasus Jiwasraya memang merupakan kasus terpisah. Tetapi dampaknya menyebabkan para pemegang polis tidak bisa diam saja dan harus memperjuangkan nasib premi yang sudah dibayarkan dan tidak bisa dikembalikan oleh Wanartha hingga saat ini.

Ketua Forsawa Bersatu sekaligus Perwakilan Swanaartha Parulian Sipahutar menyampaikan, para pemegang polis sangat dirugikan. Sudah lebih dari 16 bulan (1,5 tahun) tidak mendapatkan manfaat apapun dari Wanaartha. Sejak Maret 2020, setiap bulannya para pemegang polis hanya menerima surat dari Wanaartha menjelaskan bahwa perseroan tidak bisa membayar karena disita dan sedang berupaya hukum.

"Sementara kami pemegang polis yang mempercayakan dana hari tua kami di asuransi yang dilindungi dan diawasi OJK menderita dan kesulitan. Tidak adil rasanya, besar harapan kami Majelis Hakim yang dimuliakan mengerti penderitaan kami dan mengembalikan dana nasabah kepada kami," ungkap Parulian.

Selain dua permohonan keberatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut, permohonan keberatan juga dilakukan oleh berbagai forum ataupun kumpulan-kumpulan nasabah lainnya. Semua nasabah berharap agar hak nasabah dipulihkan dengan pengembalian hak-haknya sesuai dengan kewajibannya Wanaartha. (pri)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN