Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto udara pada 14 Juli 2020 menunjukkan tumpukan kontainer di sebuah pelabuhan di Lianyungang, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur. ( Foto: STR / AFP )

Foto udara pada 14 Juli 2020 menunjukkan tumpukan kontainer di sebuah pelabuhan di Lianyungang, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur. ( Foto: STR / AFP )

2020, Surplus Perdagangan Tiongkok dengan AS Melebar 7,1%

Jumat, 15 Januari 2021 | 06:10 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Surplus perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) dilaporkan melebar 7,1% pada tahun lalu. Kondisi ini menggarisbawahi kegagalan Presiden Donald Trump untuk mempersempit celah selama masa pemerintahannya. Sementara itu, permintaan elektronik dan peralatan medis selama pandemi virus corona Covid-19 mengalami lonjakan.

Menurut laporan, peningkatan terjadi menyusul lonjakan ekspor sebagian besar pada tahun lalu. Pasalnya, pabrik-pabrik di Tiongkok sudah beroperasi kembali mulai Kuartal II pasca karantina (lockdown) ketat yang berhasil menahan penularan Covid-19 secara luas, dan memungkinkan aktivitas ekonomi kembali berjalan.

Semasa jabatannya empat tahun terakhir, Trump memprioritaskan untuk menangani kesenjangan perdagangan yang menganga dengan Tiongkok. Bahkan menandatangani perjanjian parsial dengan Tiongkok guna meningkatkan pembelian barang-barang negara, seperti kedelai.

Tetapi data bea cukai Tiongkok menunjukkan kenaikan surplus dengan AS sebesar 7,1% menjadi US$ 316,9 miliar pada 2020. Angka tersebut melonjak 14,9% dari surplus 2017 yang tercatat sebesar US$ 275,8 miliar. Hal ini telah menjadi masalah politik yang sensitif karena klaim Trump, bahwa Negeri Tirai Bambu itu melakukan praktik yang tidak adil dan mematikan lapangan pekerjaan AS.

Tiongkok, sebagai negara dengan kekuaan ekonomi terbesar kedua di dunia itu, mengalami kontraksi pada Kuartal I-2020 karena virus korona, yang pada dasarnya membuat semua aktivitas terhenti.Namun Tiongkok segera pulih ketika penerapan karantina di seluruh negeri berkurang dan orang-orang telah kembali bekerja.

Di sisi lain, total ekspor naik 3,6%, meskipun impor menyusut 1,1%. Namun pada Desember, ekspor dan impor naik lebih dari perkiraan yakni masing-masing sebesar 18,1% dan 6,5%.

“Dengan terkendalinya pandemi di Tiongkok, pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor telah kembali beroperasi normal lebih awal daripada kebanyakan negara lain. Ini memungkinkan Tiongkok memenuhi permintaan global dengan lebih baik,” ujar ahli strategi Axi Stephen Innes, yang dikutip AFP pada Kamis (14/1).

Alhasil, Tiongkok membukukan surplus perdagangan bulan lalu sebesar US$ 78 miliar, yang mana menurut para analis berada pada atau mendekati level rekor.

Tantangan Luar Biasa

Juru bicara bea cukai Li Kuiwen pada Kamis, menyampaikan pernyataan kepada wartawan bahwa pihaknya menghadapi kesulitan dan tantangan luar biasa. “Impor dan ekspor negara kami memberikan rapor yang brilian,” katanya, seraya menambahkan bahwa hasilnya secara signifikan lebih baik dari yang diharapkan.

Li menambahkan, angka pengiriman elektronik keluar meningkat. Hal ini dapat dilihat pada kenaikan permintaan komputer notebook dan peralatan rumah tangga, serta instrumen dan peralatan medis.

Sebagai informasi, Tiongkok mengekspor 224,2 miliar masker sejak Maret hingga Desember 2020, atau hampir 40 masker untuk setiap orang di luar Tiongkok.

Menurut Iris Pang, kepala ekonom ING untuk Greater Tiongkok, kepada AFP, ekspor Tiongkok kemungkinan besar melakukan tugasnya dengan baik. Ini dikarenakan, sebagian besar eksportir lain pada tahun ini berada dalam posisi yang sulit karena Covid-19 sehingga banyak yang mengalihkan lebih banyak pesanan ke Tiongkok.

Sehubungan surplus AS-Tiongkok, dia mengatakan aturan pembatasan virus corona di AS juga memengaruhi kapasitas ekspor.

“Hal lainnya adalah, selama Covid-19, beberapa harga komoditas turun dan memengaruhi nilai impor Tiongkok,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Tiongkok kemungkinan akan terus memenuhi persyaratan kesepakatan perdagangannya dengan AS, kecuali permintaan tambahan dari Washington.

Sedangkan Lu Ting, kepala ekonom Tiongkok untuk Nomura, mencatat bahwa impor Tiongkok dari AS melonjak 45% per tahun pada Desember 2020. Ini menunjukkan upaya berkelanjutan Tiongkok untuk memenuhi komitmennya pada kesepakatan perdagangan fase satu.

Seperti diketahui, hubungan AS-Tiongkok telah memburuk ke level paling buruk dalam beberapa dekade di bawah pemerintahan Trump. Sebagian disebabkan oleh perang perdagangan yang membuat AS mengenakan tarif besar-besaran untuk impor Tiongkok. Langkah ini menuai tindakan balasan.

Tetapi secara keseluruhan, lanjut Lu, pertumbuhan ekspor diperkirakan tetap tinggi untuk semester pertama 2021. Sebagian dikarenakan gelombang infeksi Covid-19 yang mendorong lonjakan permintaan untuk peralatan pelindung dan produk kerja dari rumah di seluruh dunia.

Dalam wawancara dengan surat kabar The Wall Street Journal pekan ini, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer membela taktik pemerintahan Trump dalam memberlakukan tarif pada barang-barang Tiongkok yang bernilai ratusan miliar dolar. Menurut pendapatnya, presiden telah mengubah cara orang berpikir tentang Tiongkok.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN