Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tumpukan kontainer pengiriman di Pelabuhan Southampton, di pantai selatan Inggris, pada 5 Maret 2021. ( Foto: ADRIAN DENNIS / AFP )

Tumpukan kontainer pengiriman di Pelabuhan Southampton, di pantai selatan Inggris, pada 5 Maret 2021. ( Foto: ADRIAN DENNIS / AFP )

Ekonomi Inggris Jatuh Lagi pada Januari

Sabtu, 13 Maret 2021 | 06:54 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id - Ekonomi Inggris jatuh lagi pada Januari 2021 karena pembatasan-pembatasan terkait pandemi Covid-19 diberlakukan kembali. Setelah keluar dari Uni Eropa (UE), ekspor barang Inggris juga mencatatkan penurunan.

Kantor Statistik Nasional Inggris atau ONS menyatakan pada Jumat (12/3), produk domestik bruto (PDB) Januari 2021 menyusut 2,9%. Berbalik arah karena pada Desember 2020 tumbuh 1,2%. Penurunan tajam terjadi di sektor jasa, produksi, dan manufaktur karena terdampak pembatasan-pembatasan baru tersebut.

"Perekonomian terpukul pada Januari. Bisnis ritel, restoran, sekolah, dan penata rambut semuanya terpengaruh oleh karantina terbaru," kata ahli statistik ONS Jonathan Athow, Jumat (12/3), yang dikutip AFP.

Ia menambahkan, manufaktur turun untuk pertama kali sejak April tahun lalu. Manufaktur mobil turun secara signifikan. Tapi sektor kesehatan terdorong oleh pengetesan dan vaksin Covid-19.

Ekspor barang ke UE merosot 41% menjadi 5,6 miliar poundsterling pada Januari dibandingkan Desember. Januari merupakan bulan pertama sejak Inggris resmi tidak lagi bagian dari UE.

Nilai barang UE yang diimpor ke Inggris juga merosot. Dengan penurunan mencapai rekor 29% senilai 6,6 miliar pound.

Namun, Pemerintah Inggris menggambarkan kinerja tersebut tidak terhindarkan karena berbagai faktor. Kemudian menambahkan tingkat pengiriman barang ekspor telah kembali normal.

"Kombinasi unik dari berbagai faktor, termasuk penimbunan tahun lalu, penguncian Covid-19 di seluruh Eropa, dan bisnis yang menyesuaikan dengan hubungan perdagangan baru kami, membuat tidak terhindarkan ekspor ke UE lebih rendah Januari ini daripada sebelumnya," ungkap seorang juru bicara pemerintah.

Data itu, tambah dia, tidak mencerminkan keseluruhan hubungan perdagangan UE-Inggris pasca Brexit.

“Dan berkat kerja keras pengangkutan dan pedagang, volume angkutan keseluruhan antara Inggris dan UE telah kembali ke level normal sejak awal Februari," lanjutnya.

Keluarnya negara itu dari UE resmi terjadi pada 1 Januari 2021, setelah pemerintah meraih kesepakatan perdagangan Brexit yang ditunggu-tunggu selama Natal.

Hambatan

Namun Inggris telah mengalami awal yang sulit untuk hidup di luar blok, dengan beberapa pengekspor Inggris mengeluhkan rintangan besar bagi perdagangan benua yang sebelumnya mulus.

Secara keseluruhan, ekspor Inggris turun 19,3% sementara impor turun 22%. ONS menambahkan, ekonomi 9,0% lebih kecil di Januari dibandingkan tingkat sebelum pandemi pada Februari 2020.

Berkurangnya aktivitas di bidang pendidikan dan industri yang menghadapi konsumen seperti perhotelan mendorong naik 3,5% kontraksi di sektor jasa.

Sebagian besar wilayah Inggris kembali mengunci diri pada awal Januari untuk mengekang varian baru Covid-19 yang dianggap lebih mudah dapat ditularkan. Langkah itu serupa dengan pembatasan awal yang diberlakukan pada kuartal kedua 2020, yang memicu resesi.

Pembukaan Bertahap

Namun, bulan ini, pemerintah melonggarkan langkah-langkah pembatasan Covid-19 dalam pembukaan kembali bertahap. Saat ini, sebanyak 23 orang juta orang di Inggris telah menerima setidaknya vaksinasi pertama.

Anak-anak kembali ke sekolah di Inggris pada Senin (8/3) untuk pertama kalinya sejak Januari, di bawah tahap awal pembukaan kembali secara berangsur-angsur.

Perbatasan ditetapkan untuk sepenuhnya dicabut pada akhir Juni, tetapi rencana ini tergantung pada tingkat infeksi.

Lebih dari 123.000 orang telah meninggal karena Covid-19 di seluruh Inggris, menjadikannya salah satu wabah terburuk di dunia.

Krisis virus corona memicu keruntuhan ekonomi sebanyak 10% tahun lalu, menjadi kinerja terburuk ekonomi Inggris selama lebih dari tiga abad.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN