Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan sambutan di acara peletakan batu untuk proyek taman energi terbarukan terbesar di dunia, yang akan menghasilkan listrik sebesar 30 gigawatt (GW), pada 15 Desember 2020. ( Foto: Indian Press Information Bureau / AFP )

Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan sambutan di acara peletakan batu untuk proyek taman energi terbarukan terbesar di dunia, yang akan menghasilkan listrik sebesar 30 gigawatt (GW), pada 15 Desember 2020. ( Foto: Indian Press Information Bureau / AFP )

Listrik Murah, India Kemungkinan Bangun PLTU Batu Bara

Senin, 19 April 2021 | 12:52 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW DELHI, investor.id – Pemerintah India kemungkinan bakal membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara yang baru karena dapat menghasilkan tenaga listrik yang murah. Demikian menurut draf dokumen kebijakan listrik yang dilihat Reuters. Di sisi lain para pecinta lingkungan terus menyerukan pencegahan untuk penggunaan batu bara.

Kontribusi batu bara untuk pembangkit listrik di India dilaporkan mengalami penurunan untuk tahun kedua berturut-turut pada 2020. Hal ini menandai permulaan kebiasaan dari pertumbuhan pembangkit listrik tenaga batu bara puluhan tahun. Namun, bahan bakar tersebut telah menyumbang hampir tiga perempat dari produksi listrik tahunan di India.

Para pegiat lingkungan sendiri sudah lama menentang India untuk menambah kapasitas baru PLTU berbahan bakar batu bara. Lebih lagi, harga energi matahari dan angin telah turun ke rekor terendah, sehingga akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia.

Utusan Khusus Kepresidenan Amerika Serikat (AS) untuk Iklim John Kerry, pada bulan ini, mengatakan bahwa India telah menyelesaikan pekerjaan terkait iklim, “mendorong kurva”. Hal ini disampaikan saat ia memulai pembicaraan dengan para pemimpin pemerintah yang bertujuan mengurangi emisi karbon lebih cepat guna memperlambat pemanasan global.

Di sisi lain, draf setebal 28 halaman mengenai Kebijakan Listrik Nasional (NEP) pada Februari 2021 – yang belum dipublikasikan – telah menunjukkan bahwa India dapat menambah kapasitas baru pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Meskipun draf itu juga merekomendasikan standar teknologi yang lebih ketat untuk mengurangi polusi.

“Sementara India berkomitmen untuk menambah kapasitas lebih melalui pembangkit yang bersumber dari generasi non-fosil, kapasitas pembangkit berbasis batu bara mungkin masih diperlukan untuk ditambahkan di negara karena terus menjadi sumber pembangkit termurah,” demikian isi draf NEP.

“Semua pembangkit listrik berbasis batu bara di masa depan seharusnya hanya menggunakan apa yang disebut teknologi ultra-super kritis, yang mengurangi polusi atau teknologi lain yang lebih efisien,” demikian tambahannya.

NTPC Ltd., sebagai produsen listrik utama India yang dikelola negara, mengatakan pada September tahun lalu bahwa pihaknya tidak akan memperoleh lahan untuk proyek-proyek baru berbahan bakar batu bara. Perusahaan-perusahaan swasta, dan kebanyakan perusahaan yang dikelola negara-negara bagian di seluruh negeri tidak berinvestasi dalam pembangkit listrik tenaga batu bara baru selama bertahun-tahun, dengan alasan bahwa tidak layak secara ekonomi.

Menurut sumber, panel pemerintah yang terdiri dari berbagai pakar dan pejabat sektor listrik akan membahas draf tersebut dan mungkin saja membuat perubahan sebelum meminta persetujuan kabinet.

Saat dikonfirmasi pada Minggu (18/4), tidak ada tanggapan dari Kementerian Listrik India. Di samping itu, draf dokumen juga mengusulkan perdagangan energi terbarukan di pasar sehari-hari, serta menciptakan tarif terpisah untuk stasiun pengisian kendaraan listrik dan privatisasi perusahaan distribusi listrik.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN